SYAKHRUDDINNEWS.COM — Ada kalanya sebuah bingkisan bukan sekadar pemberian. Di baliknya terselip pesan sederhana: Anda tidak sendiri, masih ada yang peduli.
itulah yang terasa ketika Polda Sulawesi Selatan hadir di Kecamatan Tamalate, melalui kegiatan sosialisasi dan bakti sosial dalam rangka menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rombongan yang hadir mewakili Kapolda Sulsel, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, SH., M.H., dipimpin Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sulsel, Kombes Pol. Osva, S.I.K., M.Si., mengunjungi Baruga Maccini Sombala sekaligus menyerahkan bantuan dan bingkisan kepada anak-anak serta ibu korban KDRT yang berada dalam pendampingan 10 Shelter Warga di Kecamatan Tamalate.
Kehadiran ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab sosial Polri terhadap masyarakat yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama yang baik antara Polda Sulsel dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, yang dinakhodai dr. Ita Isdiana, M.Kes., didampingi Kepala Bidang Perlindungan Perempuan, Hj. Hafidah Djalangte, S.IP., serta koordinator lapangan Shelter Warga, Nurhana.
Sinergi ini memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak tidak mungkin dikerjakan sendiri-sendiri. Ia membutuhkan kepedulian, keberanian dan kerja bersama.
Di hadapan masyarakat Tamalate, Kombes Pol. Osva menegaskan bahwa kehadiran Polda Sulsel di tengah warga merupakan wujud tanggung jawab sosial. “Polri hadir untuk masyarakat,” ujarnya.
Kalimat singkat itu terasa lebih bermakna ketika diwujudkan dalam langkah nyata: datang, mendengar, memberi perhatian dan menguatkan mereka yang sedang berjuang bangkit dari pengalaman kekerasan.
Camat Tamalate yang diwakili Lurah Maccini Sombala menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan Polda Sulsel bersama DP3A Kota Makassar dan jajaran.
Menurutnya, kebersamaan yang telah terbangun melalui Shelter Warga merupakan komitmen bersama untuk terus menekan dan mengeliminasi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Makassar berharap sinergi yang telah dirintis bersama Polda Sulsel dapat terus dikembangkan. Sebab, rasa aman bagi masyarakat korban kekerasan tidak cukup hanya dengan aturan dan penindakan, tetapi juga membutuhkan pendampingan, perlindungan dan kehadiran yang memberi keyakinan bahwa mereka masih memiliki tempat untuk mengadu.
Bagi Nurhana, dukungan tersebut juga menjadi energi bagi para penggerak Shelter Warga. Ia menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan wartawan yang selama ini ikut memberitakan berbagai kegiatan shelter di Tamalate.
Baginya, pemberitaan yang bertanggung jawab merupakan bagian penting dalam memperkenalkan kerja-kerja kemanusiaan kepada masyarakat luas.
Menurutnya di sebuah shelter, terkadang yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan, tetapi keyakinan bahwa masih ada tangan yang bersedia menggenggam.
Polisi datang membawa bingkisan, tetapi yang tinggal di hati para penerima adalah rasa bahwa mereka diperhatikan. Begitulah kemerdekaan seharusnya terasa: bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari rasa takut, bebas dari kekerasan, dan memiliki ruang untuk kembali menata kehidupan.
Karena ketika polisi hadir, pemerintah peduli, shelter bergerak dan pers ikut menyuarakan, harapan tidak lagi menjadi kata-kata. Ia menjelma menjadi kekuatan untuk bangkit (sdn)

