Puisi untuk Lomba “Menulis Indah” Dosen dan ASN FDK UIN Alauddin Makassar
Ada yang bertanya,
“Yang dimaksud indah itu apanya?”
Apakah hurufnya harus menari,
seperti kaligrafi di dinding masjid?
Apakah tintanya harus mengalir,
seperti sungai setelah hujan?
Ataukah kata-katanya harus harum,
seperti bunga yang baru mekar?
Tidak.
Sebab indah dalam menulis
bukan sekadar rupa tulisan,
melainkan jiwa yang tinggal
di balik kata-kata.
Indah adalah ketika
sebuah gagasan menemukan jalannya,
akal menemukan kejernihannya,
dan hati menemukan kejujurannya.
Indah adalah ketika
seorang dosen menulis ilmu
bukan untuk menunjukkan
betapa banyak yang ia tahu,
tetapi agar orang lain
menjadi lebih tahu.
Indah adalah ketika
seorang ASN menulis tentang negeri
bukan karena ingin dipuji,
tetapi karena masih menyimpan
cinta kepada Indonesia
dan keberanian untuk memperbaikinya.
Indah adalah ketika
kata “merdeka”
tidak berhenti di spanduk,
tidak hanya berkibar
bersama Merah Putih,
tetapi hidup
dalam pikiran yang bebas,
dalam ilmu yang jujur,
dalam pelayanan yang tulus,
dan dalam keberanian
membela kebenaran.
Delapan puluh satu tahun Indonesia
bukan hanya angka
yang bertambah di kalender.
Ia adalah perjalanan panjang
tentang air mata,
pengorbanan,
doa para pendahulu,
dan harapan anak cucu
yang belum selesai kita tunaikan.
Maka tulislah
tentang Indonesia
dengan mata seorang akademisi,
dengan hati seorang anak bangsa,
dan dengan nurani seorang manusia.
Tidak perlu kata-kata
yang terlalu tinggi
hingga pembaca harus mendaki
untuk memahaminya.
Tidak perlu kalimat
yang terlalu rumit
hingga makna tersesat
di antara tanda baca.
Sederhana pun indah,
jika benar.
Panjang pun indah,
jika bernas.
Pendek pun indah,
jika menggugah.
Diam pun indah,
jika menyimpan kebijaksanaan.
Dan tulisan yang paling indah
barangkali bukan
yang membuat juri berkata,
“Wah, hebat sekali!”
Tetapi yang membuat pembaca
berhenti sejenak,
menatap langit,
lalu berkata dalam hati:
“Benar juga…
selama ini aku belum memikirkannya.”
Di kampus ini,
di Fakultas Dakwah dan Komunikasi,
kata bukan sekadar kata.
Ia adalah dakwah.
Ia adalah ilmu.
Ia adalah kritik.
Ia adalah doa.
Ia adalah kesaksian zaman.
Maka jangan tanyakan lagi
“indah itu apanya?”
Indah itu
ketika ilmu menjadi cahaya,
kata menjadi hikmah,
kritik menjadi perbaikan,
dan tulisan menjadi amal.
Sebab pada akhirnya,
yang kita lombakan bukan
siapa yang paling indah menulis,
melainkan—
siapa yang mampu membuat
keindahan itu
hidup setelah tulisannya selesai dibaca.
Dirgahayu Indonesiaku.
Delapan puluh satu tahun merdeka.
Mari menulis dengan pikiran yang merdeka,
hati yang merdeka,
dan jiwa yang mencintai Indonesia.
Karena mungkin,
satu tulisan kecil hari ini
adalah satu doa besar
untuk Indonesia esok hari.