SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hotel Myko Makassar, Ahad 27 September 2026, lantai enam, menjadi saksi sebuah perjumpaan yang sarat makna. Ramah tamah mahasiswa Angkatan 122 Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar berlangsung bukan sekadar seremoni menjelang wisuda.
Di balik senyum, jabat tangan dan kilatan kamera, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, doa orang tua dan ketekunan anak-anak muda yang sebentar lagi meninggalkan kampus dengan membawa gelar sarjana.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd. Rasyid Masri, S.Ag., M.Pd., M.Si., MM, dalam sambutannya menitipkan empat pesan sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam kepada para calon sarjana.
Jaga perilaku dan moderasi beragama; jaga diri; jaga nama baik keluarga; dan jaga keturunan. Pesan terakhir disampaikan dengan nada yang mengundang perhatian: kelak ketika memilih pasangan hidup, jangan hanya melihat wajah dan harta, tetapi kenali pula silsilah dan keluarganya.
Sebuah pesan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan, sesungguhnya merupakan bekal kehidupan setelah toga dilepas.
Sebab kampus boleh memberikan ilmu dan gelar, tetapi kehidupan akan menguji bagaimana ilmu itu digunakan. Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan.
Menjaga diri mengajarkan kehormatan, menjaga nama keluarga mengajarkan tanggung jawab, sementara menjaga keturunan mengingatkan bahwa pilihan hari ini dapat menjadi cerita bagi generasi yang belum lahir.
Kebetulan, di tengah para calon sarjana itu hadir pula sosok yang dikenal memiliki perhatian terhadap persoalan moderasi beragama, Prof. Dr. Kaswad Sartono, sehingga pesan tersebut terasa semakin relevan dengan atmosfer akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Syamsidar, M.Ag., dalam laporannya menyampaikan bahwa calon wisudawan Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada Angkatan 122 periode September 2026 berjumlah 110 orang, terdiri atas 41 laki-laki dan 69 perempuan, yang berasal dari delapan program studi di lingkungan FDK.
Namun, dari 110 nama yang akan berbaris menuju panggung wisuda, ada satu nama yang pagi tadi seperti membawa cerita tersendiri: Reski Tri Amalia, S.Sos., mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik.
Di balik predikat itu, ternyata tersimpan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar angka indeks prestasi. Reski adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ia berasal dari Kampung Rappokaleleng, Kelurahan Tamallaeng, Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.
Dari sebuah lingkungan yang sederhana, ia menanam tekad untuk kuliah. Ibunya, Nur Ismi, mengenang bagaimana kerasnya perjuangan keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan sang anak. Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat keluarga harus bekerja serabutan demi memastikan langkah Reski tidak terhenti di tengah jalan.
Sang ayah, yang dahulu bekerja sebagai instalatur listrik, kini sudah tidak lagi mampu bekerja karena usia yang semakin lanjut. Tetapi keterbatasan ekonomi tidak pernah berhasil memadamkan cita-cita.
Reski terus melangkah. Satu semester dilalui, kemudian semester berikutnya. Tugas dikerjakan, ujian dihadapi, berbagai kesulitan dilewati.
Hingga akhirnya, ketekunan itu mengantarkannya ke tempat yang mungkin dahulu hanya hidup dalam doa kedua orang tuanya: panggung megah wisuda.
Di lantai enam Hotel Myko Makassar, air mata sang ibu seakan menjadi saksi bahwa perjuangan yang panjang akhirnya menemukan jawabannya.
Lebih mengharukan lagi, Reski dipercaya menyampaikan sambutan mewakili para wisudawan. Dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia berdiri di hadapan para pimpinan fakultas, guru besar, dosen, orang tua dan rekan-rekannya.
Seorang anak dari keluarga sederhana, anak seorang mantan instalatur listrik, kini berdiri di atas panggung yang megah.
Dan pagi itu, ia tidak hanya membawa nama dirinya sendiri. Ia membawa nama kedua orang tuanya,Ia membawa nama keluarganya, Ia membawa nama kampus yang telah mendidiknya.
Bahkan, dalam suasana penuh haru tersebut, Kedua orang tuanya mempersembahkan lagu “Pertemuan” untuk sebagai lagu kenangan.
Lagu itu seolah berubah menjadi bahasa hati, sebuah ungkapan yang barangkali terlalu sulit disampaikan dengan kalimat biasa.
Tepuk tangan pun pecah. Apresiasi mengalir, termasuk perhatian dan sumbangan langsung dari Dekan serta sejumlah guru besar yang hadir.
Di sinilah MoKa menemukan maknanya: wisuda bukan hanya tentang toga, ijazah dan gelar sarjana. Wisuda adalah perayaan atas ketabahan.
Ada orang tua yang mungkin tidak pernah duduk di bangku perguruan tinggi, tetapi berhasil mengantarkan anaknya menjadi sarjana.
Ada ayah yang tubuhnya mulai renta, tetapi dahulu tangannya bekerja keras menyambung kabel demi kabel kehidupan.
Ada ibu yang mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi memiliki doa yang tidak pernah putus. Dan ada seorang anak bernama Reski yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah kepada keadaan.
Rangkaian acara berlangsung lancar. Dimulai dengan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan Mars FDK Bermartabat, kemudian pembacaan doa oleh Prof. Dr. Tasbih Hanafiah. Setelah seluruh rangkaian selesai, kebersamaan ditutup dengan foto bersama.
Sebuah gambar yang kelak mungkin menjadi kenangan bahwa pada Ahad 27 September 2026, 110 calon sarjana pernah berdiri dalam satu ruang, membawa mimpi masing-masing menuju hari esok.
Dan barangkali, di antara 110 wisudawan itu, kisah Reski mengingatkan kita semua: gelar boleh tertulis di atas kertas, tetapi nilai sebuah perjuangan tertulis jauh lebih dalam, di hati orang tua. Selamat melangkah, para sarjana Angkatan 122.
Jangan berhenti hanya karena telah sampai di gerbang wisuda. Dunia di luar kampus menunggu dengan pertanyaan yang lebih besar: untuk apa ilmu yang telah kalian miliki?
Sebab pada akhirnya, kesarjanaan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di atas panggung, melainkan seberapa banyak ia mampu menghadirkan manfaat setelah turun dari panggung itu.
Ke Myko membawa kenangan, Pulang membawa sejuta cerita; Gelar sarjana bukan kebanggaan, Jika ilmu tak memberi manfaat bagi sesama. Salam Literasi : Syakhruddin Tagana