SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad datang membawa hening. Pagi ini, 4 Oktober 2026, kita menatap kalender bukan sekadar untuk mengetahui pergantian hari, tetapi untuk membaca kembali jejak sejarah.
Sebab setiap tanggal memiliki cerita, dan setiap cerita menyimpan pelajaran bagi manusia yang mau berhenti sejenak untuk merenung.
Ada peristiwa menarik yang terjadi pada 4 Oktober 1957. Uni Soviet meluncurkan Sputnik 1, satelit buatan manusia pertama yang mengorbit bumi.
Peristiwa itu kemudian menandai lahirnya era antariksa dan memicu perlombaan teknologi ruang angkasa antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Tetapi 4 Oktober juga memiliki catatan penting dalam sejarah Indonesia. Pada 4 Oktober 1945, Ahmad Tahir membentuk Barisan Pemuda Indonesia dan melakukan perlawanan terhadap Jepang di Sumatra.
Sehari kemudian, 5 Oktober 1945, lahirlah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang menjadi salah satu tonggak sejarah terbentuknya kekuatan pertahanan Indonesia.
Dan ada satu lagi catatan sejarah yang berat untuk dikenang. Pada 4 Oktober 1965, jenazah tujuh korban peristiwa 30 September ditemukan di sumur tua Lubang Buaya.
Sehari kemudian, 5 Oktober 1965, mereka dimakamkan secara kenegaraan. Peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah politik dan militer Indonesia yang hingga kini terus dipelajari dari berbagai perspektif sejarah.
Karena itu, 4 Oktober bukan sekadar Ahad menjelang Senin. Ia seperti halaman yang mempertemukan perjuangan, ilmu pengetahuan, pengorbanan dan sejarah bangsa.
Dari Sputnik kita belajar bahwa manusia mampu menembus batas pengetahuan. Dari perjuangan pemuda dan lahirnya TKR, kita belajar bahwa kemerdekaan membutuhkan pengabdian.
Dari tragedi sejarah, kita belajar betapa mahal harga sebuah konflik ketika kemanusiaan kehilangan tempatnya.
Dan besok, 5 Oktober 2026, HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna pengabdian kepada bangsa.
TNI sendiri menyebut rangkaian HUT ke-81 tahun 2026 sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan kedekatan TNI dengan rakyat.
Ada satu ayat yang sangat kuat untuk dijadikan cermin dalam membaca sejarah, yakni QS. An-Nisa ayat 135:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri…”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak boleh hanya menjadi kumpulan tanggal, nama dan peristiwa. Sejarah harus menjadi guru moral.
Keadilan tidak boleh berubah karena siapa yang sedang kita bela. Kebenaran tidak boleh diputarbalikkan karena siapa yang sedang kita sukai.
Bahkan terhadap diri sendiri, keluarga dan kelompok sendiri, Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tetap berdiri di atas keadilan.
Maka, menjelang 5 Oktober, penghormatan kepada TNI bukan hanya tentang seragam, senjata, parade dan alutsista. Lebih jauh dari itu, ia adalah penghormatan terhadap pengabdian, disiplin, tanggung jawab dan kesetiaan kepada bangsa.
Seraya selalu mengingat pesan agama: kekuatan harus berjalan bersama keadilan dan kemanusiaan, sebuah pantun pembuka untuk Anda ;
Ke laut berlayar membawa sauh, Singgah sebentar di tanah seberang. Sejarah bukan sekadar kisah yang jauh, Ia cermin agar kita tak mengulang kesalahan yang sama.
Rocky Gerung Masuk istana; Sosok yang selama ini dikenal sebagai intelektual publik dengan kritik-kritik tajam terhadap kekuasaan, kini memasuki ruang yang berbeda: Dewan Pertimbangan Presiden.
Perubahan posisi ini tentu menarik perhatian. Sebab antara mengkritik kekuasaan dan memberi pertimbangan kepada kekuasaan, terdapat jarak yang tidak sederhana.
Di luar lingkar kekuasaan, seorang pengkritik dapat berdiri bebas, menunjuk kekurangan, mempertanyakan kebijakan, bahkan menggugat cara berpikir penguasa.
Namun ketika berada di dekat pusat kekuasaan, setiap gagasan berhadapan dengan tanggung jawab yang berbeda.
Di sinilah Rocky memasuki fase yang menarik untuk diamati. Apakah kedekatan dengan kekuasaan akan mengubah cara seorang intelektual melihat kekuasaan, atau justru membuat kritik menjadi lebih bermakna karena disampaikan langsung di ruang pengambilan keputusan?
Tidak perlu terburu-buru menjawabnya. Biarkan waktu yang menguji.
Sebab seorang intelektual tidak hanya diuji ketika ia berada di luar kekuasaan dan bebas melontarkan kritik. Ia juga diuji ketika berada dekat dengan kekuasaan:
Apakah tetap mampu mengatakan apa yang perlu dikatakan, bukan sekadar apa yang ingin didengar.
Rocky kini berada di persimpangan menarik: dari suara yang selama ini terdengar di luar pagar, menjadi suara yang berpotensi didengar dari dalam pagar kekuasaan.
Dan publik tentu akan memperhatikan satu hal:
Apakah Rocky tetap membawa pikirannya ke dalam kekuasaan, atau justru kekuasaan yang perlahan membawa pikirannya ke arah yang berbeda? Waktulah yang akan menjawab.
Baru sehari memegang tongkat komando sebagai Kapolri, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto langsung menggebrak dengan rotasi besar di tubuh Polri.
Melalui Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, sebanyak 19 Kapolda digeser, bersamaan dengan mutasi puluhan perwira tinggi dan menengah.
Pergantian menyentuh sejumlah wilayah strategis, termasuk Polda Metro Jaya, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan hingga Papua. Secara resmi, Polri menyebut langkah ini sebagai kebutuhan organisasi, pembinaan karier dan penyegaran tugas.
Namun, angka 19 Kapolda hanya dalam hitungan sehari tentu menghadirkan pesan kuat: kepemimpinan baru ingin segera menata barisan dan memastikan mesin organisasi bergerak sesuai arah komando yang baru.
Di sinilah publik layak mencermati, bukan sekadar siapa yang bergeser dan siapa yang datang, tetapi apa agenda pembenahan yang hendak dibawa bersama pergantian itu.
Sebab mutasi bukan hanya pergantian kursi; ia adalah momentum untuk menguji apakah perubahan struktur benar-benar berujung pada peningkatan profesionalitas, pelayanan publik, dan kepercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian.
Sementara itu, Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman kini menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 1 Oktober 2026, menggantikan Djamari Chaniago.
Sebelumnya, Dudung menjabat Kepala Staf Kepresidenan. Pergantian ini menempatkan seorang purnawirawan TNI dengan pengalaman panjang di lingkungan militer dan pemerintahan pada posisi yang mengoordinasikan urusan politik dan keamanan nasional.
Kini tantangan Dudung bukan sekadar pergantian kursi, melainkan bagaimana menerjemahkan mandat politik-keamanan menjadi stabilitas yang dirasakan masyarakat.
Dalam pernyataan awal setelah pelantikan, ia menegaskan pentingnya memperkuat keutuhan, persatuan, dan kesatuan negara.
Pernyataan itu menjadi pesan awal yang perlu dibuktikan melalui kerja koordinasi lintas lembaga, terutama menghadapi dinamika keamanan, konflik sosial, dan berbagai persoalan kebangsaan yang membutuhkan ketegasan sekaligus komunikasi yang terbuka.
Disisi lain, Putusan Mahkamah Agung yang mengabulkan permohonan uji pendapat DPRD Gowa terkait pemakzulan Bupati Sitti Husniah Talenrang menjadi babak penting dalam perjalanan pemerintahan di Butta Bersejarah.
Perkara yang diputus pada 1 Oktober 2026 itu dinyatakan beralasan dan berdasarkan hukum. Ini bukan sekadar pergantian kursi kekuasaan, melainkan pesan bahwa jabatan publik memiliki batas:
Ketika kewenangan dipersoalkan melalui mekanisme konstitusional, keputusan akhirnya harus kembali kepada hukum.
Kekuasaan boleh datang melalui suara rakyat, tetapi ia tidak pernah menjadi cek kosong untuk mengabaikan pertanggungjawaban.
Kini, palu MA telah mengetuk pintu terakhir dari proses uji pendapat tersebut.
Tahapan administratif pemberhentian masih harus berjalan melalui DPRD Gowa dan Kementerian Dalam Negeri sesuai mekanisme peraturan perundang-undangan.
Di titik ini, Gowa sedang menyaksikan sebuah pelajaran politik yang mahal: jabatan adalah amanah, bukan mahkota; kewenangan adalah titipan, bukan milik pribadi.
Ketika hukum akhirnya berbicara, semua gelar dan kekuasaan harus menepi—sebab yang tersisa hanyalah rekam jejak, keputusan yang pernah dibuat, dan pertanggungjawaban di hadapan hukum serta rakyat.
Akhirnya, Pesta ulang tahun seorang selebgram Makassar yang kemudian viral dan disebut warganet sebagai “pesta boti” kini menjadi sorotan publik.
Potongan video yang beredar memperlihatkan sejumlah tamu mengikuti fashion show, sehingga memunculkan kritik karena dinilai tidak sejalan dengan sebagian norma sosial dan budaya yang hidup di Makassar, yang dikenal kuat dengan adat, agama, dan kearifan lokal.
Pemuda Muhammadiyah Makassar bahkan meminta pemerintah menangani polemik ini secara terukur melalui mekanisme hukum agar tidak berkembang menjadi konflik sosial atau penghakiman massa.
Namun, di tengah riuhnya penilaian publik, ada satu hal yang patut dijaga: jangan biarkan potongan video berubah menjadi vonis terhadap seseorang.
Karaeng Wawang telah memberikan klarifikasi bahwa pesta tersebut merupakan private birthday party, sementara fashion show disebutnya sekadar hiburan bagi para tamu dan ia membantah adanya agenda untuk mempertontonkan aktivitas LGBT.
Di sinilah Makassar perlu menunjukkan kedewasaan budaya—kritik boleh tajam, norma boleh dijaga, tetapi penyelesaian tetap melalui aturan, dialog dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sebab budaya yang kuat bukan hanya pandai mengatakan “tidak”, tetapi juga mampu menyelesaikan perbedaan tanpa kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.
Sampai di sini dahulu jumpa kita. Semoga Ahad yang indah ini menjadi ruang untuk menenangkan hati, berkumpul bersama keluarga, dan mensyukuri setiap anugerah yang masih Allah titipkan kepada kita.
Esok hari, Senin 5 Oktober 2026, kita kembali menapaki rutinitas dan aktivitas, dalam suasana pagi yang baru, sembari mengenang dan menghormati Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mereka yang mengemban amanah menjaga kedaulatan negeri dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selamat menikmati sajian Mozaik Kehidupan (MoKa). Semoga setiap goresan kata menjadi teman perjalanan, membuka cakrawala, menumbuhkan kesadaran, dan menghadirkan sedikit cahaya di antara riuhnya kehidupan.
Bersama MoKa, hati bahagia, pikiran terbuka, dan langkah tetap bermakna. Sebuah pantun penutup untuk Anda;
Ke pasar pagi membeli ketupat, Singgah sebentar membeli delima. Selamat HUT TNI, penjaga rakyat, Semoga Indonesia damai selamanya.