SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sabtu, 3 Oktober 2026, bukan sekadar pergantian lembaran kalender. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menoleh kepada perjalanan yang telah dilalui, lalu bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah waktu yang diberikan Allah kita isi dengan sesuatu yang berarti? Hari Sabtu boleh menjadi hari beristirahat dari kesibukan, tetapi jangan sampai menjadi hari yang kehilangan makna. Sebab setiap detik yang berlalu tidak pernah kembali.
Al-Qur’an mengingatkan manusia melalui Surah Al-‘Asr ayat 1–3: “Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Pesannya sangat dalam: ukuran kebermaknaan hidup bukan sekadar panjangnya usia, melainkan bagaimana waktu digunakan untuk iman, amal kebajikan, kebenaran dan kesabaran.
3 Oktober dalam catatan sejarah; Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada 3 Oktober 1990 adalah penyatuan kembali Jerman Barat dan Jerman Timur.
Tepat tengah malam, proses reunifikasi Jerman menjadi kenyataan dan tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Persatuan Jerman (Tag der Deutschen Einheit). Peristiwa itu menjadi tonggak sejarah setelah puluhan tahun Jerman terpecah.
Ada pelajaran menarik dari sejarah itu: sesuatu yang pernah terbelah, bukan berarti selamanya harus terpisah. Dengan proses politik, kesepakatan dan perubahan yang berlangsung pada 1989–1990, penyatuan akhirnya terwujud.
Bagi kita, 3 Oktober dapat dimaknai sebagai momentum untuk merajut kembali hubungan yang renggang dalam keluarga, persahabatan maupun kehidupan bermasyarakat.
Sabtu 3 Oktober 2026 akhirnya mengajarkan satu hal sederhana: jangan biarkan waktu hanya berlalu. Isi dengan silaturahmi, pekerjaan yang bermanfaat, ibadah, berbagi, dan memperbaiki diri.
Karena kalender akan terus berganti, tetapi jejak kebaikanlah yang akan tinggal dalam ingatan manusia. Sebuah pantun pembuka untuk Anda;
Jalan pagi menuju taman, Singgah sebentar membeli jamu. Selamat Sabtu penuh keberkahan, Semoga hari ini lebih baik dari waktu yang lalu.
Sementara itu, Kursi bergeser, nama berganti, tetapi pekerjaan rumah tetap menanti. Presiden RI Prabowo Subianto kembali merombak Kabinet Merah Putih, Kamis 1 September 2026, dalam reshuffle ketujuh sejak pemerintahannya berjalan.
Sejumlah menteri dan pejabat negara diganti maupun dipindahkan posisinya, termasuk Sugiono yang dipercaya menjadi Menko PMK, sementara posisi Menteri Luar Negeri ditempati Arrmanatha Nasir.
Yang paling menyita perhatian adalah pergantian pucuk pimpinan Polri. Suyudi Ario Seto dilantik sebagai Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo, sedangkan Listyo dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
Pergantian jabatan boleh menjadi bagian dari dinamika pemerintahan, tetapi bagi rakyat, ukuran akhirnya sederhana: bukan siapa yang duduk di kursi, melainkan apa yang dikerjakan setelah duduk di sana.
Reshuffle bukan sekadar memindahkan nama dari satu papan ke papan lainnya. Di balik setiap pelantikan ada harapan tentang pelayanan yang lebih cepat, kebijakan yang lebih terasa, dan pemerintahan yang semakin dekat dengan kebutuhan rakyat.
Jabatan adalah amanah, kursi hanyalah tempat duduk; sejarah akan mencatat apa yang dilakukan ketika amanah itu berada di tangan.
Disisi lain, Tiga Wakil Rakyat, Satu Kamar Hotel, dan Bayang-Bayang Narkoba; Surabaya kembali menyuguhkan kabar yang membuat kening berkerut. Delapan orang diamankan polisi dalam penggerebekan sebuah kamar hotel pada 28 September 2026.
Yang membuat kasus ini semakin menyita perhatian, tiga di antaranya disebut sebagai anggota DPRD dari tiga kabupaten di Jawa Timur dan berasal dari Fraksi Gerindra.
Hasil pemeriksaan urine menyebut tujuh orang positif menggunakan ekstasi, sementara polisi juga menemukan sisa sabu, dua butir ekstasi dan sejumlah alat yang berkaitan dengan penggunaan narkotika.
Namun cerita tidak berhenti pada kata “ditangkap”. Delapan orang tersebut ternyata tidak ditahan. Polisi menyatakan perkara diproses melalui mekanisme restorative justice karena barang bukti yang ditemukan berada di bawah batas yang menjadi acuan dalam SEMA.
Tiga legislator itu kemudian menjalani proses asesmen terpadu oleh BNN Kota Surabaya.
Di sinilah pertanyaan publik layak diletakkan: ketika seorang wakil rakyat terseret perkara narkotika, apakah persoalannya selesai hanya karena tidak ditahan?
Secara hukum, proses tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan asas praduga tak bersalah. Tetapi secara etik, jabatan sebagai wakil rakyat membawa beban keteladanan yang jauh lebih besar.
Partai Gerindra sendiri menyatakan akan menunggu proses hukum dan menyebut tindakan organisasi dapat diambil apabila keterlibatan dan kesalahan terbukti.
Sebab, kursi legislatif bukan sekadar tempat duduk—ia adalah amanah yang setiap saat diuji oleh perilaku pemiliknya.
Bagaimana dengan Kasus hunian mewah di Lapas Kelas IIA Cibinong, Bogor ???
Kini memasuki babak baru. Setelah Ombudsman RI menemukan fasilitas menyerupai apartemen dengan berbagai perlengkapan mewah, kawasan tersebut akhirnya dibongkar pada 30 September 2026.
Sorotan publik dan DPR pun mengarah pada tata kelola pemasyarakatan, hingga pada Kamis, 1 Oktober 2026, Dirjen Pemasyarakatan Mashudi mengajukan pengunduran diri kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.
Yang membuat perkara ini menggigit, persoalannya bukan semata soal bangunan mewah, melainkan pertanyaan tentang pengawasan, kesetaraan perlakuan terhadap warga binaan, dan bagaimana fasilitas tersebut bisa muncul di lingkungan lapas.
Sebelumnya, lima pejabat di Lapas Cibinong telah dicopot, sementara investigasi lebih lanjut masih berjalan. Kini publik menunggu satu hal penting: jangan sampai bangunannya sudah rata dengan tanah, tetapi akar persoalannya justru belum ikut dibongkar.
Sebuah kenangan, Pada era 1960-an hingga awal 1970-an, suara Tati Saleh begitu akrab di radio-radio Indonesia. Penyanyi pop Sunda yang dikenal lewat lagu “Es Lilin” ini bahkan termasuk salah satu artis yang dekat dengan perhatian Presiden Soekarno.
Nama aslinya R. Siti Hatijah Saleh, lahir di Jakarta pada 24 Juli 1944 sebagai bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, R. Abdullah Saleh, dan ibunya, Carlita Juariah, berasal dari Ciamis, Jawa Barat.
Masa kecil Tati berubah ketika situasi perang membuat keluarganya meninggalkan Jakarta dan mengungsi ke Ciamis.
Di kota ini, ayahnya dipercaya sebagai Kepala Jawatan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, sementara ibunya bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Ciamis.
Lingkungan keluarga yang dekat dengan pesantren dan kesenian Sunda menjadi lahan subur bagi tumbuhnya bakat Tati.
Sang ayah sendiri menguasai berbagai kesenian tradisional, termasuk tembang Cianjuran dan tari Sunda, serta membuka sanggar di rumahnya.
Menariknya, bakat menari Tati muncul dari kebiasaan “mengintip” latihan yang diberikan ayahnya kepada anak-anak.
Saat berusia sekitar empat tahun, ia diam-diam memperhatikan dari balik pintu, hingga suatu hari sang ayah memergokinya dan bertanya apakah ia bisa menari.
Tati menjawab mantap, lalu memperagakan gerakan yang selama ini ia serap tanpa disadari. Sang ayah pun segera melihat bakat besar dalam diri putrinya dan mulai menggemblengnya secara serius.
Dari halaman rumah di Ciamis itulah, langkah kecil seorang anak kemudian tumbuh menjadi perjalanan panjang menuju panggung kesenian Sunda dan popularitas nasional.
Oh ya, Ada yang menarik dari sebuah informasi yang beredar di TikTok: tujuh desa di Indonesia disebut sebagai desa yang paling mencerminkan wajah Nusantara dan telah dikenal dunia.
Di antara nama yang kerap disebut adalah Wae Rebo, Penglipuran, Jatiluwih, Nglanggeran, Wukirsari, Pemuteran, dan Osing Kemiren.
Masing-masing memiliki cerita sendiri—rumah adat yang bertahan melawan zaman, sawah yang menghijau, tradisi yang diwariskan turun-temurun, hingga masyarakat yang menjadikan alam sebagai bagian dari kehidupan.
Inilah Indonesia yang sering luput dari sorotan. Bukan gedung tinggi, bukan gemerlap pusat kota, melainkan desa yang menjaga identitas ketika dunia bergerak begitu cepat.
Beberapa desa tersebut bahkan telah memperoleh pengakuan dalam program Best Tourism Villages UN Tourism.
Maka, jika TikTok membuatnya viral, biarlah dunia mengenalnya lebih jauh melalui fakta dan kekayaan budayanya. Sebab sejatinya, desa bukan halaman belakang Indonesia, desa adalah akar yang membuat Indonesia tetap berdiri.
Sebuah pantun penutup untuk Anda; Ke desa membawa rambutan,
Pulang membawa buah kenari.
Kalau budaya terus dipertahankan,
Indonesia akan harum sampai ke negeri seberang.