SYAKHRUDDINNEWS.COM – Dari Makassar ia berangkat, ke berbagai penjuru negeri ia mengabdi, dan kini ia kembali. Jabatan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan kembali berganti.
Berdasarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H., dipercaya menduduki jabatan Kapolda Sulsel, menggantikan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro yang mendapat penugasan baru di lingkungan Mabes Polri.
Pergantian ini menjadi bagian dari rotasi, pembinaan karier, kebutuhan organisasi, dan penyegaran pelaksanaan tugas di tubuh Polri.
Namun bagi Sulawesi Selatan, sosok Awal Chairuddin memiliki cerita yang lebih personal. Ia bukan orang asing bagi tanah Anging Mammiri.
Ia lahir di Makassar, 3 Desember 1971. Kini, setelah lebih dari tiga dekade mengenakan seragam Bhayangkara dan melewati berbagai medan pengabdian, ia kembali ke kampung halaman dalam posisi sebagai jenderal bintang dua, memegang tongkat komando Polda Sulsel.
Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan pulang itu. Seorang anak daerah meninggalkan kampung halamannya untuk belajar, ditempa, bertugas, memimpin, dan akhirnya kembali membawa pengalaman yang telah ditempa oleh waktu.
Itulah barangkali makna pulang yang sesungguhnya: bukan sekadar kembali ke tempat kelahiran, tetapi kembali dengan membawa bekal pengabdian.
Dari Akpol 1994, Menyusuri Jalan Panjang Bhayangkara
Irjen Awal Chairuddin merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 Batalyon Tunggal Panaluan. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah mengemban sejumlah jabatan strategis, baik di wilayah operasional maupun di lingkungan Mabes Polri.
Namanya tercatat pernah dipercaya sebagai Wakapolrestabes Bandung, Kapolres Subang, Kaden C Biro Paminal Divpropam Polri, Kapolres Metro Bekasi, hingga Kapolres Metro Jakarta Utara.
Jabatan-jabatan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kariernya tidak berada pada satu ruang saja. Ia bersentuhan dengan persoalan keamanan di lapangan, penegakan hukum, pembinaan personel, hingga tugas-tugas strategis di tingkat pusat.
Ia juga pernah dipercaya sebagai Sekretaris Pribadi Wakapolri dan kemudian menjalankan tugas sebagai Ajudan Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla.
Pengalaman mendampingi Wakil Presiden pada periode 2014–2019 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesionalnya.
Pemberitaan mengenai perjalanan kariernya mencatat bahwa penugasan tersebut turut mengiringi kenaikan pangkatnya hingga menjadi Brigadir Jenderal pada 2018.
Dari ruang protokoler kenegaraan hingga wilayah operasional kepolisian, pengalaman itu tentu menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang perwira yang kini kembali ke daerah asalnya.
Jenderal yang Menyelesaikan Pendidikan hingga Doktor; Di tengah kesibukan sebagai perwira Polri, ada satu sisi lain dari sosok Awal Chairuddin yang patut dicatat: kecintaannya terhadap pendidikan.
Ia menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran pada 2005, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan doktoral.
Pada 9 Januari 2024, Awal Chairuddin berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor di Universitas Negeri Makassar.
Ia menyelesaikan S3 Ilmu Administrasi Publik dengan IPK 4,0 dan predikat cum laude. Disertasinya mengangkat tema optimalisasi peran Bhabinkamtibmas dalam membangun public trust.
Tema disertasi itu terasa dekat dengan tugas kepolisian.
Sebab pada akhirnya, polisi tidak hanya berbicara tentang hukum, senjata, patroli, atau penindakan. Ada satu kata yang jauh lebih dalam: kepercayaan.
Kepercayaan masyarakat tidak lahir dari seragam semata. Ia tumbuh dari perjumpaan antara aparat dan masyarakat, dari cara seorang polisi mendengar keluhan warga, hadir ketika dibutuhkan, memberikan perlindungan, dan memperlakukan masyarakat dengan penghormatan.
Karena itu, perjalanan akademik Awal Chairuddin menjadi bagian menarik dari profilnya sebagai seorang perwira yang kini dipercaya memimpin kepolisian di Sulawesi Selatan.
Dari Tanah Kelahiran, Kembali Memimpin Tanah Kelahiran; Ada perasaan yang berbeda ketika seorang anak daerah kembali setelah puluhan tahun berkelana dalam pengabdian.
Makassar bukan sekadar titik koordinat dalam biografi Awal Chairuddin. Kota ini adalah tempat ia dilahirkan, tempat nama keluarga dikenang, dan tempat perjalanan hidupnya bermula.
Ia adalah putra almarhum Drs. H. Chairuddin Burhan dan Dra. Hj. Hatma Tamma, M.Si.
Sejumlah profil mengenai dirinya menyebut bahwa pendidikan dan kedisiplinan menjadi nilai yang ditekankan dalam keluarganya.
Kini, tanah kelahiran itu kembali menyambutnya. Tetapi jabatan Kapolda bukanlah panggung untuk bernostalgia.
Di balik nama besar seorang jenderal, ada pekerjaan yang menunggu: menjaga keamanan, menghadapi persoalan sosial, mengawal penegakan hukum, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan menjaga agar rasa aman menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Sulawesi Selatan.
Pulang kampung, tetapi tanggung jawab justru semakin besar. Bukan Hanya Polisi, Ia Juga Menyentuh Dunia Olahraga
Di luar tugas kepolisian, Awal Chairuddin juga dipercaya memimpin organisasi olahraga. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Indonesia (PP PESTI) periode 2023–2028.
Ia juga aktif dalam IKA Lemhannas PPSA XXII.
Potret ini memperlihatkan sisi lain dari perjalanan seorang perwira tinggi: bahwa pengabdian tidak selalu berhenti di balik meja birokrasi atau ruang komando.
Ada ruang olahraga, organisasi, pendidikan, dan kemasyarakatan yang juga menjadi bagian dari aktivitasnya. Seorang polisi akhirnya tetaplah bagian dari masyarakat.
Dan seorang Kapolda, pada hakikatnya, bukan hanya pemimpin bagi anggota kepolisian, tetapi juga figur yang setiap langkahnya akan bersentuhan dengan kehidupan masyarakat yang dilayaninya.
Sulsel Menunggu Babak Baru; Kini tongkat komando Polda Sulsel berpindah.
Irjen Pol. M. Awal Chairuddin datang membawa pengalaman panjang: pengalaman kewilayahan, pengalaman di lingkungan Mabes Polri, pengalaman mendampingi pejabat negara, pengalaman pendidikan hingga doktoral, serta pengalaman organisasi.
Sulawesi Selatan sendiri memiliki dinamika sosial yang beragam.
Makassar sebagai kota metropolitan menghadapi persoalan perkotaan yang kompleks. Kabupaten dan kota lainnya memiliki karakter sosial, ekonomi, budaya, dan geografis yang berbeda-beda.
Karena itu, kepemimpinan kepolisian di Sulsel selalu berhadapan dengan pekerjaan yang tidak sederhana.
Masyarakat tentu berharap keamanan tetap terjaga, pelayanan kepolisian semakin dekat dengan warga, penegakan hukum berjalan sesuai ketentuan, dan komunikasi antara polisi dengan masyarakat semakin terbuka.
Dan di sinilah gagasan tentang public trust yang pernah menjadi tema doktoralnya menemukan ruang pengujiannya.
Sebab sebuah teori yang ditulis di ruang akademik akan menemukan maknanya ketika berhadapan dengan realitas di jalan raya, di kantor polisi, di kampung-kampung, di pasar, di sekolah, di ruang publik, dan di tengah masyarakat.
Awal Chairuddin pulang ke Makassar bukan untuk sekadar mencatat nama baru dalam daftar Kapolda Sulawesi Selatan. Ia pulang membawa sejarah perjalanan hidupnya sendiri.
Dari seorang pemuda yang menempuh pendidikan di Akpol 1994, menjalani berbagai penugasan, memimpin sejumlah wilayah kepolisian, mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, meniti jenjang kepangkatan hingga jenderal bintang dua, menyelesaikan pendidikan doktor dengan predikat cum laude, memimpin organisasi olahraga, dan akhirnya kembali sebagai Kapolda di tanah kelahirannya.
Begitulah hidup; Kadang kita pergi jauh untuk menemukan pengalaman, lalu waktu membawa kita kembali ke tempat dari mana semuanya bermula.
Makassar hari ini bukan hanya menyambut seorang jenderal. Makassar menyambut anak daerah yang pulang membawa amanah. Dan amanah, sebagaimana kita tahu, bukanlah mahkota.
Amanah adalah beban yang harus dipikul dengan hati-hati, dijalankan dengan keteguhan, dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat serta kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Semoga perjalanan baru Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin di Sulawesi Selatan menjadi bagian dari perjalanan panjang menjaga keamanan, ketertiban, pelayanan publik, dan kepercayaan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, pangkat boleh tinggi, jabatan boleh berganti, tetapi yang paling lama tinggal dalam ingatan masyarakat adalah cara seorang pemimpin menjalankan amanahnya.
Pantun MoKa
Ke Losari menikmati senja, angin berembus menyapa negeri. Jenderal pulang ke tanah tercinta, membawa amanah untuk Sulsel tercinta.
Burung camar terbang beriring, hinggap sebentar di pohon lontar. Jabatan tinggi bukanlah akhir, melainkan awal sebuah pengabdian yang lebih besar.