SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat kembali menyapa. Hari yang bagi banyak umat Islam terasa istimewa, hari untuk memperbanyak doa, mempererat silaturahmi, bersedekah, dan menata kembali hati agar lebih dekat kepada Allah SWT.
Di tengah kesibukan kehidupan, Jumat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam bentuk materi, tetapi juga melalui ketenangan, kesehatan, persaudaraan, dan kesempatan untuk berbuat baik.
Menariknya, Jumat 14 Agustus 2026 hadir sehari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 14 Agustus sendiri memiliki catatan penting dalam sejarah bangsa.
Pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Pada momentum itu, Presiden Soekarno menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang kemudian menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama.
Peristiwa tersebut kemudian dikenang setiap tahun sebagai Hari Pramuka. Ada pesan yang seolah bertaut antara Jumat penuh berkah, Hari Pramuka, dan semangat kemerdekaan: menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
Pramuka mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, gotong royong, dan pengabdian. Kemerdekaan pun tidak cukup hanya dikenang melalui kibaran Sang Merah Putih, tetapi harus diisi dengan karya, kepedulian, dan keberanian melakukan kebaikan.
Maka Jumat ini, mari kita awali dengan doa, melangkah dengan niat baik, dan menyambut hari kemerdekaan dengan hati yang penuh syukur.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang pandai mengenang sejarah, tetapi juga bangsa yang mampu meneruskan nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda semua :
Pergi ke taman memetik melati,
Bunga mekar harum mewangi.
Merah putih lambang sejati,
Kemerdekaan tumbuh di dalam diri.
Saat Polisi berbagi : Ada kalanya sebuah bingkisan bukan sekadar pemberian, melainkan pesan bahwa Anda tidak sendiri, masih ada yang peduli.
Pesan itulah yang terasa ketika Polda Sulawesi Selatan hadir di Kecamatan Tamalate melalui sosialisasi dan bakti sosial menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Mewakili Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, SH., M.H., rombongan yang dipimpin Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Sulsel Kombes Pol. Osva, S.I.K., M.Si., mengunjungi Baruga Maccini Sombala dan menyerahkan bantuan kepada anak-anak serta ibu korban KDRT yang berada dalam pendampingan 10 Shelter Warga.
Kegiatan ini menjadi wujud kepedulian Polri, sekaligus buah sinergi bersama DP3A Kota Makassar, dr. Ita Isdiana, M.Kes., Hj. Hafidah Djalangte, S.IP., dan para penggerak shelter.
Di hadapan warga, Kombes Pol. Osva menegaskan, “Polri hadir untuk masyarakat.” Kalimat sederhana itu menjadi berarti ketika diwujudkan dengan datang, mendengar, memberi perhatian dan menguatkan mereka yang sedang berjuang bangkit dari kekerasan.
Sementara itu, Sebanyak 12 mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) mengalami kecelakaan tunggal di Kabupaten Bantaeng, Kamis 13 Agustus 2026 sekitar pukul 14.00 Wita.
Rombongan yang menggunakan mobil pikap DD 8999 FO itu baru saja mengikuti kegiatan penutupan yang dirangkaikan penghijauan serentak di kawasan Pinus Rombeng, Desa Bonto Lojong, dan hendak menuju Posko Kayu Loe.
Saat melintas di perbatasan Desa Bonto Lojong dan Desa Kayu Loe, kendaraan diduga mengalami rem blong hingga terguling.
Dua belas mahasiswa yang dilaporkan terlibat yakni Dea, Inna, Geofannie, Sasa, M. Fadran, M. Roy, Farhan, Arif, Intang, Fais, Nadia, dan Rila. Kasat Lantas Polres Bantaeng Iptu Muhammad Irdham membenarkan kejadian tersebut.
Para mahasiswa sempat dievakuasi ke rumah warga sebelum kemudian dibawa ke RS Anwar Makkatutu untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan medis.
Koordinator Dosen Pendamping Kegiatan (DPK) KKN Bantaeng, Putri F Nurdin, yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi, segera menghubungi PSC.
Sekitar 10 menit kemudian tim medis PSC Cabang Loka tiba dan memberikan pertolongan awal. Kondisi para mahasiswa berangsur membaik; lima orang dilaporkan sehat dan stabil, sementara empat lainnya mengalami cedera ringan dan mendapat perawatan.
Dari Kampus Bermartabat, Ada-ada saja ide Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar. Di tengah kesibukan mengurus akademik, administrasi, dan berbagai kegiatan kampus, muncul sebuah gagasan yang sederhana, tetapi mengundang senyum: Lomba menulis indah.
Pesertanya pun bukan sembarang orang. Mulai dari profesor, dosen, hingga tenaga administrasi ikut menggoreskan pena.
Ruang H. Amir Said lantai dasar FDK pun berubah menjadi arena adu kreativitas. Suasananya ceria, apalagi peserta dibatasi waktu untuk menuangkan kata-kata.
Yang menarik, lomba dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan ke-81, bukan hanya mencari tulisan paling indah, tetapi juga menghadirkan kategori “tulisan paling tidak indah alias terjelek.”
Lebih menarik lagi, semua peserta tetap mendapatkan hadiah. Jadi, tidak ada yang pulang dengan tangan kosong, termasuk dewan juri, menang atau kalah, tetap tersenyum.
Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI Ke-81, Merdeka, Merdeka, Merdeka ucap Wadek II, Dr.Rahmawati Haruna di depan peserta.
Setelah melalui penilaian Dewan Juri, keputusan pun ditetapkan secara sah dan tidak dapat diganggu gugat. Juara I diraih Dr. Riri Sadhriyani Pertiwi Saleh, M.Si dan berhak mendapat hadiah Rp1 juta; Juara II Zulkifli, S.Ikom; dan Juara III Dr. Sitti Rahmatiah, M.Sos.I. masing-masing Rp600 dan Rp400 ribu rupiah.
Untuk kategori Juara Harapan, Harapan I diraih Prof. Dr. Hj. Sitti Asiqah Usman Ali, Lc., M.Ag.; Harapan II Prof. Dr. Syamsuddin AB, M.Pd.; dan Harapan III Sulaeman, SE.
Sementara kategori yang paling mengundang senyum, yakni Tulisan Paling Tidak Indah (Terjelek), diberikan kepada Dr. Muhammad Mirwan, M.Ag. dan Hasbi, S.Sos.
Keputusan tersebut ditetapkan di Samata, Gowa, 13 Agustus 2026, oleh Dewan Juri yang terdiri atas Dr. H. Arham Selo, M.Si., Drs. H. Syakhruddin. DN M.Si dan Dr. H. Ilham Hamid, M.Pd.I., M.Pd.
Kegiatan ini berada di bawah tanggung jawab Dekan FDK UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Abd Rasyid Masri, S.Ag., M.Pd., M.Si., MM.
Ternyata nenulis indah tidak selalu harus membuat orang terpukau. Kadang, tulisan yang dianggap “jelek” justru menjadi tulisan yang paling dikenang dalam lomba kali ini.
Sebab, dalam dunia kreativitas, yang terpenting bukan sekadar siapa yang paling indah menulis, tetapi siapa yang berani menuangkan pikiran dan perasaan ke atas kertas.
Sebuah pantun penutup untuk Anda : Menulis dengan hati, membaca dengan rasa, kata sederhana menjadi bermakna. Yang indah mendapat hadiah istimewa, yang terjelek pun pulang membawa tawa