SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 20.10 WITA, api berkobar di kawasan permukiman padat penduduk Jalan Kandea Lorong 2 dan 3, Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar.
Sekejap, kobaran api mengubah malam yang semula tenang menjadi kepanikan. Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung, berkumpul dan menyimpan kenangan, harus berhadapan dengan ganasnya si jago merah.
Data BPBD Kota Makassar mencatat, sebanyak 37 unit rumah terdampak, terdiri atas 25 rumah rusak berat, 7 rusak sedang dan 5 rusak ringan.
245 jiwa dari 60 kepala keluarga ikut merasakan getirnya musibah tersebut. Di antara rumah yang terdampak, terdapat pula kediaman Watie, Ketua Shelter Warga Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala.
Namun, di tengah kepedihan itu, ada satu hal yang tidak ikut terbakar: rasa persaudaraan. Siang hari, para ketua Shelter Warga se-Kota Makassar berinisiatif berkumpul di Polsek Bontoala, lalu bersama-sama menuju lokasi kebakaran.
Mereka datang bukan sekadar melihat puing dan sisa-sisa rumah, tetapi membawa pesan sederhana: “Kamu tidak sendiri.”
Ketika rombongan tiba di kediaman Watie, haru seakan menggantung di udara. Musibah telah mengambil seluruh harta benda dan kenyamanan, tetapi justru memperlihatkan betapa kuatnya ikatan persahabatan
Sahabat-sahabatnya para ketua shelter warga se Kota Makassar, datang menyapa, memeluk, mendengar cerita, sekaligus menyambangi para korban yang sedang menata kembali sisa-sisa kehidupan.
Begitulah kehidupan. Kadang api datang tanpa permisi, merenggut apa yang kita miliki dalam hitungan menit.
Tetapi pada saat yang sama, musibah juga memperlihatkan siapa yang benar-benar hadir ketika kita kehilangan.
Rumah boleh terbakar, dinding boleh runtuh, tetapi kepedulian yang tumbuh dari hati ke hati tidak akan mudah menjadi abu.
Musibah memang meninggalkan luka, tetapi persaudaraan menghadirkan obatnya. Sebab, ketika rumah kehilangan atapnya, manusia masih dapat menjadi tempat berteduh bagi sesamanya (sdn)