SYAKHRUDDINNEWS.COM – Rabu kembali mengetuk pintu kehidupan. Ia datang di tengah pekan, ketika sebagian langkah mulai terasa lelah, tetapi perjalanan masih menyisakan beberapa hari untuk dituntaskan.
Rabu bukan sekadar nama hari di kalender. Ia adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan; yang telah berlalu tak mungkin dipanggil pulang, sementara yang akan datang masih menjadi rahasia.
12 Agustus juga menyimpan sejumlah catatan sejarah dunia. Pada 12 Agustus 1981, IBM memperkenalkan komputer personal IBM 5150, sebuah tonggak penting yang ikut mendorong komputer masuk semakin dekat ke kehidupan masyarakat umum.
itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang revolusi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi dan menyimpan pengetahuan.
Tanggal ini juga dikenang sebagai Hari Pemuda Internasional (International Youth Day). Sebuah pesan yang terasa semakin penting di zaman sekarang: anak muda bukan sekadar pewaris masa depan, tetapi juga bagian dari kekuatan yang menentukan hari ini.
Di tangan generasi muda, teknologi dapat menjadi jembatan ilmu, kreativitas dan kemajuan, sepanjang digunakan dengan kebijaksanaan.
Maka, Rabu 12 Agustus ini mari kita jalani dengan hati yang lapang. Jangan terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah berada di tangan.
Sebab kehidupan sering kali bukan tentang seberapa jauh kita berlari, melainkan seberapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan sepanjang perjalanan
Hari berganti, usia bertambah, sejarah terus ditulis. Dan kelak, tanpa kita sadari, kehidupan kita pun akan menjadi bagian dari sejarah kecil bagi orang-orang yang pernah mengenal kita.
Karena itu, mari tinggalkan jejak yang baik, agar ketika nama kita disebut, yang dikenang bukan harta dan jabatan, melainkan kebaikan.
Pantun Pembuka :
Pergi pagi membawa bekal,
Singgah sebentar membeli jamu.
Mari kita buka lembar yang kekal,
Menyambut datangnya hari Rabu.
Kabar tentang pejabat negara terkadang berlari lebih cepat daripada kenyataan. Begitu pula isu yang menyebut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, sedang sakit dan akan mundur dari Kabinet Merah Putih.
Namun isu tersebut langsung dibantahnya. Pratikno menegaskan dirinya sehat dan tetap menjalankan tugas negara, bahkan saat kabar itu beredar.
Ia tengah berada di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Dengan nada sederhana, Pratikno menjawab, “Sakit enggak, mundur enggak, wong lagi bertugas kok.” Kalimat pendek itu sekaligus menjadi penegasan bahwa dirinya masih bekerja dan tidak sedang bersiap meninggalkan kabinet.
Di tengah derasnya arus informasi, sebuah kabar bisa menyebar dalam hitungan menit, sementara kebenaran terkadang harus berlari mengejarnya.
Pratikno memilih cara sederhana untuk menjawab isu tersebut: bukan dengan banyak bicara, melainkan dengan tetap bekerja di tengah kepulan asap dan ancaman api Bromo.
Si Jago Merah Mengamuk di Baraya ; Malam Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 20.10 WITA, api berkobar di kawasan padat penduduk Jalan Kandea Lorong 2 dan 3, Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala, Makassar.
sekejap, malam yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Data BPBD Kota Makassar mencatat, 37 unit rumah terdampak, terdiri atas 25 rusak berat, 7 rusak sedang dan 5 rusak ringan, dengan 245 jiwa dari 60 kepala keluarga ikut merasakan getirnya musibah.
Di antara rumah yang terdampak, terdapat pula kediaman Watie, Ketua Shelter Warga Kelurahan Baraya. Namun, ketika api melahap rumah dan harta benda, ada satu hal yang tak mampu dibakar: rasa persaudaraan.
Siang harinya, para Ketua Shelter Warga se-Kota Makassar berkumpul di Polsek Bontoala, lalu bersama-sama mendatangi lokasi kebakaran. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan puing, tetapi membawa sebuah pesan sederhana: “Kamu tidak sendiri.”
Di kediaman Watie, suasana haru pun terasa. Rumah boleh kehilangan atap, harta boleh menjadi abu, tetapi sahabat-sahabatnya hadir membawa kekuatan yang tak ternilai.
Mereka menyapa, memeluk, mendengarkan cerita dan menyambangi para korban yang tengah mencoba menata kembali serpihan kehidupan.
Begitulah persahabatan diuji oleh musibah: bukan ketika kita sedang berjaya, tetapi ketika kita sedang kehilangan. Api mungkin mampu merobohkan dinding, membakar kenangan dan menghanguskan harta benda.
Tetapi kepedulian yang lahir dari hati ke hati tak mudah berubah menjadi abu. Sebab, ketika rumah kehilangan atapnya, manusia masih dapat menjadi tempat berteduh bagi sesamanya.
Sementara itu, Keluarga Besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Komunitas Senam Nusantara (KSN) berkumpul di kawasan wisata Tanjung bayang, di rumah kediaman Hj. Andi Yunita Dirham.
Kehadiran mereka disnaa, dalam rangka kegiatan bulananberupa arisan dan peringatan bagi anggota Lansia yang ulang tahun di bulan Agustus tahun 2026.
Selain itu kehadiran mereka disana dalam upaya berbagai informasi seputar pengenalan obat herbal dari Eskayvie Malaysia sekaligus mendapatkan pemeriksaan gratis terhadap 60 orang anggota Lansia dan KSN.
Sampai di sini dahulu jumpa kita, Pembaca MoKa yang baik hati. Bila tak ada aral melintang, insyaallah esok kita kembali bersua dengan berbagai informasi dan kisah kehidupan yang layak Anda ketahui.
Semoga setiap cerita yang hadir bukan hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga membawa pengetahuan, renungan, dan sesekali senyum kecil di sudut hati.
Sebagai penutup, sebuah pantun untuk Anda nikmati: Cinta perih di titik nadir,Pacar menjauh, sedihlah hati. Kalau jodoh tak kunjung hadir, Jangan bersedih, mungkin masih antre di langit tinggi.
Demikian MoKa hari ini. Tetaplah sehat, tetaplah tersenyum, dan jangan lupa.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya dengan menunggu pesan yang tak kunjung dibalas. Sampai jumpa esok dalam Mozaik Kehidupan.