SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam ke-28 Ramadan menyelimuti Masjid Besar Al-Abrar dengan suasana yang lebih hening, namun terasa khusyuk. Di antara saf yang tak lagi serapat malam-malam awal, terselip wajah-wajah yang setia bertahan hingga penghujung.
Laporan panitia yang disampaikan Muhammad Ilham, S.Pd.I Dg Naba membuka rangkaian ibadah malam itu, menyampaikan kondisi keuangan masjid sekaligus ungkapan terima kasih kepada para ibu yang setia menyediakan hidangan berbuka, serta bantuan air mineral dari Pimpinan Travel Haji & Umrah Darussalam yang dipimpin Drs. H. Guntur Mas’ud, MM.
Di mimbar, Harun Baso Nur, S.Ag,MA menyampaikan tauziyahnya, sementara lantunan ayat suci dipimpin oleh imam tarawih, Nabhan Al Arsy.
Dengan gaya tutur yang renyah namun menggugah, ia mengajak jamaah menengok realitas ibadah Ramadan di Makassar, kota dengan lebih dari seribu masjid, 15 kecamatan, dan 153 kelurahan.
“Malam pertama adalah babak penyisihan,” ujarnya, “sedang malam ini adalah mereka yang telah memasuki babak final.” Sebuah perumpamaan sederhana, tetapi menohok, seakan menegaskan bahwa yang tersisa di saf-saf itu adalah mereka yang bersungguh-sungguh memburu derajat la‘allakum tattaqun.
Mengusung tema Kemuliaan Al-Qur’an, sang ustaz menegaskan bahwa kitab suci ini bukan sekadar bacaan ritual, melainkan petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia.
Ia mengisahkan seorang ilmuwan Prancis yang meneliti jasad Firaun dan menemukan bahwa keutuhan jasad tersebut telah lebih dahulu diisyaratkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Yunus ayat 92. Dari rasa ingin tahu yang ilmiah, lahirlah pengakuan akan kebenaran wahyu Ilahi.
Al-Qur’an, lanjutnya, adalah kalam Allah yang dijaga kemurniannya sepanjang zaman. Ia diajarkan di rumah-rumah, di pesantren, dihafalkan oleh anak-anak hingga dewasa, bahkan disabilitas saja mampu menghafal Al-Quran.
Kitab suci ini terdiri dari 114 surah, 30 juz, dan lebih dari 6.000 ayat, sebuah mukjizat yang hidup dalam ingatan manusia. Karena itu, tak ada kata terlambat untuk mendekatkan diri kepadanya, sebab kelak di alam kubur yang sunyi, amal itulah yang akan menjadi teman setia: bacaan Al-Qur’an, salat yang ditegakkan, sedekah yang ditunaikan, serta doa anak saleh.
Dalam alur kisahnya, Al-Qur’an juga menghadirkan cermin sejarah. Tentang kesombongan Qarun yang ditelan bumi bersama hartanya, atau keangkuhan Namrud yang runtuh oleh makhluk kecil tak terduga.
Semua itu menjadi pelajaran bahwa kekuasaan dan kekayaan tanpa iman hanya akan berujung kehancuran.
Menjelang akhir ceramah, suara ustaz melandai, mengajak jamaah merenungi masa depan yang pasti: kematian dan datangnya hari kiamat.
Waktu yang tersisa di penghujung Ramadan, katanya, adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri. Malam-malam ini bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi perjalanan menuju keberhasilan sejati, menyempurnakan Ramadan dengan harapan meraih derajat takwa.
Di luar, angin malam berembus pelan. Di dalam masjid, ayat-ayat suci kembali dilantunkan. Dan di antara jeda-jeda doa, tersimpan harapan:
semoga mereka yang bertahan hingga malam ke-28 ini, benar-benar menjadi pemenang di hadapan-Nya (sdn)