SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi Idulfitri di Masjid Besar Al-Abrar mengalir dalam suasana yang khidmat dan teduh. Di bawah langit Makassar yang cerah, ribuan jamaah memadati pelataran masjid, menyambut hari kemenangan dengan gema takbir yang menggema syahdu.
Sholat Id dipimpin oleh Imam Lahamuddin Dg. Gassing, S.Ag, sementara khutbah disampaikan oleh Prof. Dr. H. Misbahuddin, M.Ag, menghadirkan refleksi mendalam tentang makna kebersamaan di tengah perubahan zaman.
Sebelum khutbah dimulai, laporan Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Masjid Al-Abrar yang disampaikan Suhardi Dg. Rurung, S.Sos.I, menjadi cerminan nyata kepedulian sosial jamaah.
Sebanyak 902 muzakki berkontribusi, dengan total beras terkumpul mencapai 1.024 kilogram dan dana tunai sebesar Rp24.452.000. Zakat tersebut disalurkan kepada 618 penerima, ditambah zakat fitrah sebesar Rp6.550.000 serta infak dan sedekah dari 2.153 jamaah. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan denyut solidaritas yang hidup di tengah masyarakat.
Mengusung tema “Merawat Ukhuwah di Tengah Dunia yang Terbelah,” khutbah Idulfitri kali ini menyoroti tantangan besar umat manusia di era disrupsi digital.
Khotib menegaskan bahwa kehidupan modern kian didominasi oleh pola pikir materialistik, pragmatis, dan sekularistik, yang perlahan menggeser nilai-nilai spiritual.
Dalam dunia yang serba cepat dan instan, agama kerap direduksi menjadi simbol, bukan lagi pedoman hidup yang membumi dalam perilaku sehari-hari.
Fenomena ini, menurut khotib, tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah wajah interaksi sosial. Relasi yang dahulu hangat dan komunal kini bergeser ke ruang-ruang virtual, melalui aplikasi seperti WhatsApp, Instagram, hingga TikTok.
Perubahan ini tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi proses pembentukan nilai dalam keluarga. Anak-anak, remaja, hingga generasi muda kini lebih akrab dengan layar dibandingkan pelukan nilai dari orang tua.
Dampaknya mulai terasa nyata. Silaturahmi yang dahulu menjadi ruh kebersamaan perlahan merenggang. Emosi menjadi lebih mudah tersulut, bahkan di kalangan terdidik.
Momen Idulfitri yang seharusnya menjadi ruang kehangatan keluarga pun tak luput dari distraksi gawai, ketika kebersamaan tergantikan oleh kesibukan masing-masing di dunia digital.
Namun, di tengah kegelisahan itu, khutbah ini sekaligus menjadi ajakan: merawat kembali ukhuwah, menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menempatkan agama sebagai kompas moral dalam kehidupan modern.
Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk menata ulang relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri.
Usai khutbah, suasana beralih menjadi hangat. Jamaah saling bersalaman, mengabadikan momen dalam foto bersama, sementara panitia mencatat perolehan celengan Idulfitri yang mencapai Rp18 juta.
Di sisi lain, kelancaran arus lalu lintas di sekitar masjid turut dijaga oleh aparat Samapta Polda Sulawesi Selatan yang telah bersiaga sejak malam sebelumnya hingga pelaksanaan sholat berlangsung.

