SYAKHRUDDINNEWS.COM – Subuh ke-27 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Besar Al-Abrar Makassar kembali dipenuhi jamaah yang datang menjemput keberkahan fajar.
Dalam suasana yang masih teduh selepas salat Subuh, Prof. Misbahuddin melanjutkan tausiah yang telah ia mulai pada ceramah tarawih malam sebelumnya.
Tema yang diangkat sederhana, tetapi menyentuh kehidupan sehari-hari: nikmat sehat dan waktu luang, dua karunia yang sering dimiliki, namun jarang disyukuri dengan benar.
Mengutip pandangan Ibnu Jausi, ia menjelaskan bahwa manusia sering baru menyadari nilai waktu ketika kesempatan itu telah berlalu. Ada orang yang memiliki banyak waktu luang, namun tak mampu memanfaatkannya karena tiba-tiba diuji sakit, bahkan terkena stroke.
Sebaliknya, ada pula yang diberi kesehatan dan waktu, tetapi membiarkannya habis dalam kelengahan.
Fenomena kehidupan modern pun disinggungnya. Dalam satu keluarga, katanya, sering terlihat pemandangan yang sunyi tetapi bukan karena khusyuk, setiap anggota keluarga tenggelam dalam layar telepon genggamnya.
Malam hari ketika semua telah berada di ranjang untuk beristirahat, masing-masing sibuk dengan gawai di tangan. Tidak ada lagi percakapan ringan, tidak ada tegur sapa; yang terdengar hanya kesunyian hingga akhirnya tertidur.
Demikian halnya, terkadang saat berada di ruang tamu, bersama isteri dan anak-anak, mereka larut dalam genggaman HP masing-masing.
Menurutnya, tanpa disadari waktu luang sering habis hanya untuk menggulir layar ponsel. Jari terus bergerak menelusuri berbagai informasi, hingga waktu berlalu begitu saja.
Padahal, waktu yang sama seharusnya bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, atau menambah ilmu agama.
Ia juga mengingatkan bahwa apa yang sering dicari seseorang di dunia digital akan menentukan apa yang terus muncul di hadapannya. Jika seseorang gemar mengikuti berita perang tertentu, maka itulah yang terus memenuhi layar.
Jika seseorang terbiasa mencari tontonan yang tidak pantas, maka itulah pula yang akan terus disodorkan oleh algoritma gawai. “Apa yang kita cari, itulah yang akan mendekati kita,” pesannya.
Karena itu, kembali mengutip nasihat Ibnu Jausi, Prof. Misbahuddin menegaskan bahwa nikmat sehat dan waktu luang adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ia bahkan mengingatkan para pejabat, dosen, atau siapa pun yang memiliki kewenangan. Selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, selama tanda tangan masih berlaku, maka permudahlah urusan orang yang datang meminta pelayanan.
Menutup tausiah subuhnya, ia mengajak jamaah memanfaatkan sisa hari-hari terakhir Ramadan dengan memperbanyak amal kebajikan. Infak, sedekah, dan kepedulian kepada sesama menjadi jalan untuk mensyukuri dua nikmat besar yang sering dilupakan itu: kesehatan dan waktu luang.
Di ujung fajar Ramadan yang kian menua, pesan itu terasa menggema di hati para jamaah—bahwa hidup yang singkat ini tidak diukur dari berapa lama kita memiliki waktu, tetapi dari bagaimana kita memanfaatkannya (sdn)