SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam ke-26 Ramadan di Masjid Besar Al-Abrar Makassar berlangsung dalam suasana yang khusyuk dan tertib. Jamaah yang memadati ruang salat mengikuti rangkaian ibadah tarawih yang diawali dengan pengumuman panitia.
Mirsalam Dg Mideng, mewakili panitia Ramadan, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para jamaah yang telah berbagi bingkisan untuk buka puasa bersama pada sore harinya.
Ia juga mengabarkan pemanfaatan uang celengan jamaah yang digunakan untuk menunjang operasional masjid. Sebelum mempersilakan penceramah naik ke mimbar, ia mengundang jamaah untuk kembali hadir dalam salat lail berjamaah pada pukul 02.30 dinihari, sebuah ajakan untuk memaksimalkan malam-malam terakhir Ramadan.
Malam itu, mimbar diisi oleh Syahrir Rier yang mengangkat tema reflektif, “Membumikan Al-Qur’an.” Dalam pengantarnya, ia mengingatkan bahwa Ramadan kini telah memasuki “injury time”, masa-masa penentuan yang hanya tersisa beberapa malam.
Seruan Al-Qur’an “Ya ayyuhalladzina amanu” menurutnya merupakan panggilan khusus bagi orang-orang beriman, agar tidak menyia-nyiakan sisa waktu yang ada.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk menambah “gas penuh” dalam beribadah, menjadikan setiap aktivitas kehidupan bernilai ibadah.
Ia mengaitkan semangat itu dengan kearifan Bugis yang sarat makna: “Resopa temmangingngi, namaletei pammase Dewata” hanya dengan kerja keras dan kesungguhan, rahmat Tuhan akan turun.
Ramadan, katanya, adalah bulan yang dihiasi banyak pintu kebaikan: malamnya dipenuhi tarawih, siangnya berpuasa, di dalamnya ada zakat, infak, dan sedekah, serta satu malam agung yang dinantikan setiap mukmin—Lailatul Qadar.
Dalam ceramahnya, ia juga menyampaikan tiga golongan yang doanya sangat dekat untuk dikabulkan oleh Allah: orang yang berpuasa, pemimpin yang adil, dan mereka yang teraniaya.
Karena itu, di sisa Ramadan ini ia mengajak jamaah memperkuat “DOSIS”—Doa, Dzikir, dan Istigfar, sebagai bekal spiritual untuk menyempurnakan ibadah.
Lebih jauh ia menegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi orang-orang beriman. Oleh sebab itu, membumikan Al-Qur’an bukan hanya dengan membaca, tetapi juga menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan gaya yang hangat ia sempat berkelakar bahwa sebagian jamaah, khususnya ibu-ibu, mungkin sudah melakukan “thawaf” di pusat perbelanjaan menjelang Lebaran, sehingga saf di masjid kini semakin maju ke depan, sebuah humor yang disambut senyum jamaah.
Di penghujung ceramahnya, ia kembali mengajak jamaah untuk menanti dan mempersiapkan diri menyambut Lailatul Qadar dengan ibadah yang lebih sungguh-sungguh.
Ceramah pun ditutup dengan doa, lalu malam kembali hening ketika jamaah berdiri merapatkan saf untuk melanjutkan salat tarawih dan witir berjamaah, menjemput cahaya di penghujung Ramadan (sdn)