SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang kami banggakan, waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa. Kita kini telah berada pada penanggalan pertengahan Maret 2026, sebuah fase ketika hari-hari suci terasa melaju semakin singkat.
Rasanya baru kemarin kita sibuk menunggu kabar penentuan hilal sebagai penanda awal Ramadan, kini pembicaraan tentang hilal kembali mengemuka untuk menyongsong datangnya Idulfitri. Organisasi Muhammadiyah bahkan telah melangkah lebih awal dengan menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Namun di tengah pembahasan serius tentang hilal, ada pula seloroh ringan yang kerap mengundang senyum di lingkungan Masjid Besar Al-Abrar Makassar. Para jamaah sering bersenda gurau bahwa mereka tidak pernah kesulitan mencari “Hilal”, sebab ketua masjid bernama H. Hilal Kadir selalu hadir di tengah jamaah.
Maka secara bercanda kami sampaikan, jika ingin melihat bahkan berbincang dengan “Hilal”, datanglah ke Masjid Al-Abrar. Candaan sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik keseriusan ibadah Ramadan, selalu ada ruang kehangatan, kebersamaan, dan senyum yang menguatkan ukhuwah di antara para jamaah.
Sebuah Pantun Pembuka mewarnai naskah hari ini :
Andik teamaki susah dudui,
Ka niami antu bonena rekening ta
THR battu ri pamarintah,
Salamaki allapasa sallang.
Arti bebas:
Jika hidup tak lagi terasa susah,
Itulah tanda berkah mulai terasa.
THR telah datang dari pemerintah,
Selamat menyambut lebaran dengan hati penuh sukacita.
Dari suasana Ramadan yang penuh canda dan harapan itu, perhatian publik nasional juga diwarnai oleh perkembangan hukum yang cukup menyita perhatian. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka dalam sebuah perkara yang sedang ditangani lembaga antirasuah tersebut.
Penahanan dilakukan seusai proses pemeriksaan intensif oleh penyidik KPK, yang menilai telah terdapat bukti permulaan yang cukup terkait dugaan tindak pidana korupsi. Dengan mengenakan rompi tahanan KPK, Yaqut langsung dibawa menuju rumah tahanan untuk menjalani masa penahanan awal guna kepentingan penyidikan lebih lanjut, sementara KPK menegaskan proses hukum akan terus berjalan secara transparan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Di tengah dinamika pemberitaan tersebut, Ramadan tetap mengingatkan umat Islam pada kewajiban ibadah yang menjadi penyeimbang kehidupan. Salah satunya adalah zakat fitrah. Setiap muslim dianjurkan memahami niat zakat fitrah, setidaknya niat untuk diri sendiri, karena niat menjadi bagian penting dalam setiap ibadah.
Dengan melafalkan niat, seseorang menegaskan kesadaran dan keikhlasannya dalam menunaikan kewajiban zakat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Zakat fitrah sendiri wajib dikeluarkan pada bulan Ramadan sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Selain menjadi bentuk ketaatan, zakat fitrah juga berfungsi sebagai penyuci jiwa setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Di sisi lain, zakat ini juga menjadi sarana berbagi kebahagiaan kepada saudara-saudara seiman yang kurang mampu, sehingga mereka pun dapat merasakan kegembiraan dan keberkahan di hari kemenangan.
Semangat berbagi itu pula yang tercermin dalam kebijakan sosial di berbagai daerah. Di Jawa Barat, misalnya, ribuan sopir angkutan umum, mulai dari pengemudi angkot hingga kusir andong, menerima kompensasi dari pemerintah daerah sebagai bentuk perhatian atas kebijakan libur operasional selama arus mudik Lebaran.
Bantuan tersebut diberikan untuk mengganti potensi kehilangan pendapatan para pengemudi yang sementara tidak beroperasi demi kelancaran lalu lintas dan keselamatan pemudik. Program ini diharapkan dapat meringankan beban ekonomi para sopir sekaligus menjaga ketertiban transportasi selama puncak arus mudik dan balik Idulfitri.
Sementara itu, ruang publik juga diwarnai cerita yang bernuansa lebih hangat. Perbincangan warganet sempat tertuju pada kabar bahwa Rismon Sianipar menerima paket Lebaran dari Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka. Paket tersebut disebut sebagai bingkisan silaturahmi menjelang Hari Raya Idulfitri, sebuah tradisi yang lazim dalam budaya masyarakat Indonesia sebagai tanda penghormatan dan mempererat hubungan.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika perbedaan pandangan yang sering muncul di ruang publik, jalinan komunikasi dan sikap saling menghargai tetap dapat terjaga melalui gestur sederhana berupa kiriman paket Lebaran. Namun kehidupan tidak hanya menghadirkan kabar hangat, sebab di sudut lain terselip pula berita duka.
Sementara itu, kabar kepergian Drs. Mansur Tini menyisakan kesedihan bagi banyak pihak. Sosok yang pernah mengabdikan diri di Pemkab Gowa, juga pernah tercatat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Soppeng ini dikenal sebagai pribadi yang tenang, bersahaja, dan memiliki komitmen kuat dalam menjaga integritas penyelenggaraan demokrasi di daerahnya.
Selain pengabdiannya di KPU, almarhum juga tercatat sebagai alumni STIKS Bongaya, sebuah kampus yang banyak melahirkan kader pekerja sosial dan tokoh masyarakat di Sulawesi Selatan. Semoga segala amal pengabdiannya diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Sementara itu, dari belahan dunia lain, peristiwa yang jauh dari tanah air kembali mengguncang rasa kemanusiaan. Serangkaian aksi teror terjadi di Amerika Serikat pada Kamis 12 Maret 2026 waktu setempat, ketika seorang pria yang diketahui merupakan mantan tentara melakukan penembakan di sebuah kampus.
Suara tembakan yang tiba-tiba pecah memicu kepanikan di lingkungan akademik yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa dan civitas kampus. Mahasiswa dan staf berlarian menyelamatkan diri, sementara aparat keamanan segera dikerahkan untuk mengendalikan situasi.
Dalam insiden tersebut, sedikitnya empat orang dilaporkan menjadi korban setelah pelaku melepaskan tembakan secara membabi buta. Aparat keamanan pun bergerak cepat menutup area kampus dan melakukan pengejaran terhadap pelaku guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran publik mengenai maraknya aksi kekerasan bersenjata di Amerika Serikat, khususnya yang melibatkan individu dengan latar belakang militer.
Di tengah berbagai kabar besar itu, kisah-kisah sederhana dari dunia pendidikan justru sering menghadirkan pelajaran yang lebih membekas. Sebuah video memperlihatkan seorang guru membawa pulang sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah kegiatan makan bersama para siswa selesai.
Tindakan itu bukan sekadar mengambil sisa, melainkan cerminan kesederhanaan dan rasa tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan makanan yang masih layak konsumsi.
Bagi sang guru, setiap butir nasi memiliki nilai, apalagi di tengah upaya pemerintah menghadirkan program pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah. Sikap tersebut sekaligus menjadi pelajaran sunyi bagi para murid tentang arti menghargai rezeki, hidup sederhana, dan menjaga Amanah bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui teladan dalam keseharian.
Namun kisah yang paling menyentuh barangkali datang dari sudut keras kehidupan di ibu kota. Di usianya yang baru menginjak empat tahun, seorang bocah laki-laki berinisial F di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, harus menghadapi kenyataan hidup yang begitu berat.
Alih-alih mengenakan seragam dan menenteng tas sekolah seperti anak seusianya, F justru terlihat memikul karung untuk mengumpulkan botol bekas. Pemandangan itu terekam dalam video amatir yang kemudian viral di media sosial, memperlihatkan bocah kecil itu berjalan di kawasan Jalan Rawa Sumur, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, sambil memulung barang-barang bekas yang dapat dijual kembali.
Dalam video tersebut, F sempat diajak berbincang oleh seorang sopir truk yang penasaran melihat anak sekecil itu bekerja sendirian. Percakapan singkat itu mengungkap kisah pilu di balik kehidupannya: sang ayah sedang menjalani hukuman di penjara, sementara kondisi keluarga memaksanya turun ke jalan mencari barang bekas. Kisah bocah kecil ini pun menyentuh hati banyak orang, menjadi potret getir tentang perjuangan hidup di tengah hiruk-pikuk ibu kota yang tidak selalu ramah bagi mereka yang paling lemah.
Demikianlah sekelumit potret kehidupan yang menghiasi hari-hari kita tentang ibadah, kabar negeri, kisah kemanusiaan, hingga pelajaran sunyi dari orang-orang sederhana. Sampai di sini dahulu jumpa kita pada edisi hari ini. Selamat menikmati Hari Ahad yang indah.
Sahabat penulis dari Kota Barru merekomendasikan pantun penutup:
Bale salo, bale tasi,
Sekian dulu, terima kasih.
