SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam tarawih ke-22 di Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82 Makassar, berlangsung dalam suasana yang khidmat dan hening. Para jamaah memenuhi saf-saf masjid, sementara di mimbar berdiri seorang ulama sepuh, Prof. Dr. Muhammad Rusdi Khalik.
Usia yang tak lagi muda membuat beliau menunaikan salat dengan duduk di kursi, namun semangat dakwahnya tetap menyala. Suaranya tenang, namun sarat makna, seolah mengajak jamaah merenung di ujung perjalanan Ramadan yang kini telah memasuki fase akhir.
Ia membuka ceramahnya dengan menyinggung nama Al-Abrar, yang berarti orang-orang yang berbuat baik. Sebuah doa pun mengalir dari lisannya: semoga para jamaah masjid ini termasuk golongan orang-orang yang ditempatkan Allah di tempat terbaik di sisi-Nya.
Ramadan, katanya, kini telah berada di penghujung perjalanan, ibarat sebuah perlombaan yang memasuki babak “semi final”. Para imam di Masjidil Haram bahkan menyerukan kepada umat Islam agar bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar, malam yang di dalamnya tersimpan rahasia besar dari Allah.
Malam itu panitia menyodorkan tema ceramah: fitnah dan ghibah. Dua penyakit lisan yang sering dianggap remeh, namun dampaknya dapat menghancurkan kehormatan seseorang.
Prof. Rusdi menjelaskan bahwa fitnah adalah menuduh tanpa bukti. Sejarah mencatat bagaimana tuduhan bisa membawa malapetaka. Ia menyinggung peristiwa tragis tahun 1965 ketika sejumlah jenderal dituduh bersekongkol membunuh presiden, sebuah tuduhan yang kemudian melahirkan ungkapan terkenal: fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Dalam bahasa Arab, kata fitnah juga berarti ujian. Anak, kekayaan, bahkan kekuasaan bisa menjadi fitnah, sebuah ujian bagi manusia. Dalam konteks kekinian, fitnah bisa menjelma menjadi hoaks, tuduhan, atau bahkan perundungan yang menyebar tanpa kendali.
Dunia modern memperlihatkan bagaimana tuduhan dapat menjadi alasan kehancuran sebuah bangsa. Ia mencontohkan bagaimana Irak pernah diserang dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal, yang kemudian terbukti tidak pernah ada.
Di sinilah Al-Qur’an memberi peringatan tegas: bila datang seorang fasik membawa kabar, maka tabayyunlah, periksalah terlebih dahulu sebelum mempercayainya.
Fitnah bahkan pernah menyentuh orang-orang besar. Prof. Rusdi mengingatkan kisah Gus Dur yang pernah difitnah melalui rekayasa situasi dengan seorang wanita.
Namun jauh sebelum itu, Rasulullah sendiri pernah diuji dengan fitnah yang menimpa istrinya, Aisyah. Dalam sebuah perjalanan, Aisyah tertinggal dari rombongan karena mencari anting yang jatuh.
Ketika ditemukan oleh sahabat yang bertugas menyisir rombongan terakhir, ia kemudian diantar menyusul pasukan. Namun ketika keduanya memasuki kota, bisik-bisik mulai menyebar: tuduhan keji pun lahir.
Aisyah menangis berhari-hari hingga akhirnya Allah menurunkan ayat dalam Surah An-Nur yang membersihkan namanya. Ayat itu juga menjadi pelajaran besar bagi umat: siapa yang sabar menghadapi fitnah akan memperoleh kemuliaan, sedangkan penyebarnya akan mendapat balasan dari Allah.
Dari fitnah, ceramah beralih pada penyakit lidah yang lain: ghibah. Ghibah, kata beliau, adalah menceritakan keburukan orang lain di belakangnya. Al-Qur’an menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat keras: seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Betapa menjijikkan gambaran itu, namun sering kali manusia melakukannya tanpa merasa bersalah. Bahkan tuduhan perselingkuhan pun tidak boleh diucapkan sembarangan.
Syariat menetapkan bahwa tuduhan seperti itu harus disaksikan oleh empat orang saksi. Tanpa itu, tuduhan hanyalah dosa besar.
Di penghujung ceramahnya, Prof. Rusdi mengingatkan bahwa ibadah Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ada orang yang berpuasa dan salat malam, tetapi tidak memperoleh apa-apa selain rasa lapar.
Mengapa? Karena lidahnya tetap sibuk menebar fitnah dan ghibah. Ibadah yang seharusnya membersihkan hati justru menjadi sia-sia karena kata-kata yang melukai sesama.
Malam semakin larut. Jamaah terdiam, seakan masing-masing sedang bercermin pada dirinya sendiri. Ramadan memang hampir sampai di garis akhir, namun pesan malam itu terasa sangat jelas: menjaga lisan adalah bagian dari menjaga iman.
Sebab satu kalimat yang keluar tanpa kendali bisa meruntuhkan pahala yang dikumpulkan sepanjang bulan suci. Di Masjid Al-Abrar malam itu, nasihat seorang ulama sepuh mengalir pelan, namun menancap dalam di hati para jamaah (sdn)