SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, Pagi ini kita kembali menyambut hari Kamis yang penuh berkah. Hari bergulir dalam suasana Ramadan yang telah memasuki hari ke-22 tahun 1447 Hijriah.
Waktu terasa melangkah cepat, seolah tanpa jeda, membawa kita semakin dekat ke gerbang hari kemenangan. Hari-hari yang tersisa terasa semakin berharga, seakan setiap detik mengingatkan bahwa perjalanan spiritual ini tidak akan berlangsung selamanya.
Di sudut-sudut kota, denyut persiapan mulai terasa. Tunjangan Hari Raya perlahan mengalir ke berbagai kebutuhan: dari pakaian baru anak-anak hingga bahan makanan yang akan menghangatkan meja keluarga pada hari Idulfitri nanti.
Ada kegembiraan sederhana yang tumbuh di balik aktivitas itu, kegembiraan kecil yang lahir dari harapan akan pertemuan keluarga dan kebersamaan yang lama dirindukan.
Sementara itu, langit masih setia menghadirkan hujan yang kadang turun tanpa aba-aba. Rintiknya menyapa jalanan, atap rumah, dan halaman masjid, seakan ikut menebarkan kesejukan di bulan yang suci ini.
Ramadan berjalan dengan ritmenya sendiri: tenang, khusyuk, dan sarat makna bagi siapa pun yang mau merasakannya. Di tengah perjalanan yang tinggal menghitung hari ini, mari terus menjaga stamina. bukan hanya kekuatan tubuh, tetapi juga semangat ibadah dan ketulusan hati.
Sebab sebagaimana ungkapan lama mengingatkan: Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Ramadan telah kita mulai bersama; kini saatnya menuntaskannya dengan kesungguhan hingga akhir.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda : Pergi ke pasar membeli kurma, singgah sebentar di tepi taman. Ramadan tiba membawa cahaya, Jumat berkah kembali menyapa pembaca sekalian.
Ramadan selalu menghadirkan suasana berbeda di masjid-masjid kita. Tempat yang pada hari-hari biasa terasa tenang, bahkan kadang lengang, tiba-tiba menjadi hidup. Sejak dini hari orang-orang berdatangan untuk salat subuh berjamaah, membaca Al-Qur’an, atau sekadar duduk dalam hening doa.
Ramadan seakan menghidupkan kembali hubungan manusia dengan rumah ibadahnya. Pemandangan itu terasa nyata di Masjid Besar Al-Abrar Makassar. Saf-saf jamaah mulai terisi sejak subuh hingga malam tarawih.
Orang datang dari berbagai latar: pedagang, pegawai, mahasiswa, hingga anak-anak muda yang perlahan belajar mencintai masjid. Ramadan menjadikan masjid bukan sekadar tempat salat, tetapi ruang kebersamaan yang mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan.
Menjelang senja, halaman masjid kembali dipenuhi orang-orang yang menunggu waktu berbuka. Ada yang berbagi takjil, ada yang menundukkan kepala dalam doa, sementara yang lain berbincang ringan dengan sesama jamaah.
Saat azan magrib berkumandang, rasa syukur terasa begitu sederhana: seteguk air, sepotong kurma, dan kebersamaan yang hangat. Ramadan mengingatkan kita bahwa masjid hidup bukan karena bangunannya, melainkan karena langkah orang-orang yang datang dengan niat tulus. Selama Ramadan masih membersamai kita, marilah terus meramaikan masjid. Sebab ketika masjid hidup, hati manusia pun ikut hidup.
Di ruang peradilan negara, sebuah perkara hukum kembali menjadi sorotan publik. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak permohonan praperadilan yang diajukan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.
Putusan hakim tunggal Sulistyo Muhammad Dwi Putro menyatakan bahwa permohonan tersebut tidak dapat dikabulkan seluruhnya, sehingga penetapan status tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi tetap dinyatakan sah menurut hukum.
Hakim menilai proses penetapan tersangka telah dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku. Dalam pertimbangannya, penyidik dinilai telah memiliki alat bukti yang cukup terkait dugaan korupsi kuota tambahan haji tahun 2023–2024. Karena itu, dalil yang diajukan pemohon dalam praperadilan tidak cukup kuat untuk membatalkan status tersangka tersebut.
Sebagian argumentasi yang disampaikan pemohon bahkan dinilai telah memasuki wilayah pokok perkara. Artinya, hal-hal tersebut semestinya diuji dalam persidangan tindak pidana korupsi, bukan melalui mekanisme praperadilan.
Dengan demikian, proses hukum dipastikan akan terus berlanjut sesuai dengan tahapan peradilan yang berlaku. Perkara ini kembali mengingatkan bahwa hukum memiliki jalannya sendiri, kadang panjang, kadang berliku, tetapi pada akhirnya ia ditujukan untuk mencari keadilan yang seimbang bagi semua pihak.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan desa, sebuah rencana besar sempat mengemuka: mendatangkan ribuan mobil operasional dari negeri jauh, dari tanah India. Kendaraan-kendaraan itu diproyeksikan menjadi penggerak roda ekonomi desa, membantu distribusi hasil pertanian, mempercepat layanan koperasi, dan mendekatkan harapan pembangunan ke pelosok negeri.
Namun seperti setiap rencana besar, langkah itu tidak luput dari perenungan ulang. Suara kehati-hatian muncul dari parlemen. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, meminta agar rencana impor kendaraan tersebut ditangguhkan sementara waktu, sambil menunggu pembahasan lebih lanjut bersama Presiden Prabowo Subianto.
Perbincangan ini pun membuka pertanyaan yang lebih luas: apakah kebutuhan kendaraan operasional itu harus dipenuhi dari luar negeri? Banyak pihak menilai industri otomotif nasional memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Jika peluang itu diberikan, bukan saja kendaraan yang lahir, tetapi juga lapangan kerja, kemandirian industri, dan kebanggaan nasional.
Penangguhan ini menjadi semacam jeda yang bijak, ruang untuk berpikir lebih dalam sebelum melangkah. Sebab dalam perjalanan sebuah bangsa, keputusan yang baik bukanlah yang paling cepat diambil, melainkan yang paling matang dipertimbangkan.
Sementara itu, dinamika ekonomi global kembali memberi pengaruh pada nilai tukar rupiah. Dalam beberapa waktu terakhir, mata uang nasional bergerak di bawah tekanan, dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Pelemahan rupiah membawa dua sisi yang saling berhadapan. Di satu sisi, sektor ekspor dapat memperoleh keuntungan karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Namun di sisi lain, biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, energi, dan pangan, menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan pada inflasi dan biaya produksi dalam negeri.
Di tengah situasi ini, stabilitas ekonomi menjadi kata kunci. Kebijakan moneter yang hati-hati, penguatan sektor produksi nasional, serta kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia menjadi penopang penting agar rupiah tetap terjaga. Sebab pada akhirnya, nilai sebuah mata uang bukan hanya soal angka di layar perdagangan, melainkan juga cermin dari daya tahan ekonomi dan optimisme terhadap masa depan bangsa.
Namun Ramadan tidak selalu hadir dengan cerita kebahagiaan bagi semua orang. Di sebuah sudut kampung yang sunyi, seorang ibu tua menyiapkan hidangan berbuka yang sangat sederhana: sepiring nasi, sedikit sayur, dan segelas air putih.
Dahulu, meja kecil itu selalu penuh tawa anak-anaknya yang pulang dari perantauan setiap Ramadan. Kini kursi-kursi itu kosong, seakan menyimpan cerita tentang waktu yang telah berlalu tanpa bisa dipanggil kembali.
Setiap kali azan magrib berkumandang, ia menatap pintu rumah yang mulai lapuk dimakan usia. Hatinya berharap, mungkin saja suatu hari ada langkah kaki yang tiba-tiba datang membawa kabar rindu. Namun yang hadir hanya angin sore dan gema takbir dari masjid di kejauhan.
Ramadan bagi ibu itu bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga belajar berdamai dengan sepi. Ia tetap menyalakan lampu rumah setiap malam, seolah memberi tanda bahwa pintu hatinya masih terbuka.
Sebab di bulan penuh rahmat ini, ia percaya: setiap kesabaran, setiap air mata, dan setiap rindu yang tertahan akan dicatat sebagai ibadah oleh Yang Maha Mendengar.
Pantun Penutup Pergi ke masjid meniti jalan, langkah ringan membawa harapan. Jika masjid hidup oleh insan, Damailah negeri dalam naungan iman.
Sampai disini jumpa kita, nantikan kami kembali esok dengan info-info teranyar , yang terbuang sayang, terbaca ulang.