SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hujan turun dengan tekun, seolah tak ingin berhenti. Membasahi jalanan, menyentuh atap-atap rumah, dan mengetuk lembut jendela Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin, Makassar.
Jalur Pettarani bagaikan sungai dalam kota, sebagian rumah jamaah sudah dimasuki air, Namun hujan tak pernah mampu meredam langkah jamaah.
Di malam kelima Ramadan 1447 Hijriah itu, mereka tetap datang, membawa payung, membawa harap, memakai mantel dan membawa rindu pada sejuknya nasihat.
Di dalam masjid, suasana terasa hangat. Cahaya lampu berpadu dengan bisik doa. Di sela lantunan zikir, remaja masjid, Mirsalam Daeng Madeng, tampil menyampaikan laporan Panitia Amaliah Ramadan.
Dengan suara tenang, ia mengabarkan kondisi masjid, laporan keuangan, serta mengucapkan terima kasih kepada keluarga bapak dan ibu yang telah menyiapkan kue-kue buka puasa sore tadi. Sebuah laporan sederhana, namun sarat makna kebersamaan.
Mimbar kemudian diisi oleh Dr. Ilham Hamid, M.Pd.I, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar. Seperti membuka pintu hati jamaah, ia mengawali ceramah dengan pantun yang mengundang senyum:
Daun salam daun pepaya,
Yang jawab salam kudoakan masuk surga.
Salam terucap serempak. Suasana pun mencair. Ceramah dimulai dengan syukur kepada Allah Swt, atas limpahan rahmat yang kembali mempertemukan hamba-Nya dengan bulan suci.
Lalu, satu demi satu, Ustaz Ilham mengajak jamaah bercermin, mengenali diri sebelum menapaki samudera Ramadan.
Ia memaparkan lima klasifikasi manusia dalam menyambut Ramadan.
Kelompok pertama, adalah mereka yang menanti Ramadan dengan sabar dan menyambutnya dengan kegembiraan.
Hari-hari mereka dipenuhi ibadah, masjid menjadi rumah kedua, dan Al-Qur’an menjadi sahabat akrab.
Dengan senyum, Ustaz Ilham berseloroh, “Sesungguhnya yang paling gembira menyambut Ramadan itu adalah para mubalig, sementara pengurus masjid lebih sibuk lagi, mengurusi para mubalig.” Jamaah pun tertawa ringan.
Kelompok kedua, adalah mereka yang memandang Ramadan sebagai beban.
Keluhan menjadi sambutan: ‘Aduh, puasa lagi…’ Padahal, kata Ustaz Ilham, banyak peristiwa besar terjadi di bulan Ramadan, perang-perang Rasulullah SAW, hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kelompok ketiga, ialah mereka yang mengenal Allah hanya di bulan Ramadan. Di awal bulan, saf pertama selalu penuh oleh kehadiran mereka.
Namun selepas takbir Idulfitri, sajadah dilipat rapi, dan langkah pun jarang lagi menuju masjid.
Kelompok keempat, adalah mereka yang berpuasa hanya pada perutnya. Lapar dan dahaga ditahan, tetapi lisan dan perilaku tetap melukai, amarah tak bertepi, dan akhlak tak berbenah.
Sementara kelompok kelima, adalah mereka yang tak pernah ingin mengenal Allah, menjauh dari cahaya, dan memilih berjalan dalam gelap.
Ceramah singkat itu menancap dalam, seperti hujan yang meresap perlahan ke tanah kering. Menjelang penutup, Ustaz Ilham yang akan bersafari Ramadan ke Kabupaten Sinjai akhir bulan ini, kembali menyelipkan pantun:
Ikan sepat ikan gabus,
Lebih-lebih lebih bagus.
Senyum kembali merekah, mengiringi nasihat yang sederhana namun menggetarkan.
Malam pun kian larut. Hujan masih setia menemani. Jamaah berdiri rapat dalam shalat tarawih berjamaah, dipimpin Imam Arjun, S.Pd.I.
Dalam saf-saf yang tersusun rapi, doa-doa terbang ke langit, berharap agar kelima wajah manusia tadi dapat berubah menjadi sebaik-baiknya hamba.
Di bawah rintik hujan, Masjid Al-Abrar kembali menjadi saksi: bahwa Ramadan bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan pulang menuju cahaya.
Menjelang meninggalkan Masjid Besar Al-Abrar, ring ton SMS berbunyi : Isinya kabar duka, telah berpulang kerahmatullah, MUHTAR TOLA di Limbung Kelurahan Mata Allo Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa, Innalillahi wa inna ilahi rajiun (sdn)
