SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ramadan, Kota yang Berzikir, dan Riak-riak Kehidupan. Ahad pagi di bulan Ramadan 1447 Hijriah selalu hadir dengan wajah yang berbeda.
Usai sholat subuh berjamaah, kota seperti membuka tirai harinya perlahan. Di beberapa sudut Makassar, langkah-langkah ringan para remaja menyusuri jalanan. Memenuhi ruang-ruang terbuka, dari Center Point of Indonesia hingga tepian Pantai Losari.
Ada yang berlari kecil, ada yang bersepeda, ada pula yang sekadar berjalan santai, menyapa pagi dengan senyum dan peluh tipis.
Namun Ramadan menghadirkan irama yang lebih lembut. Car Free Day yang biasanya sesak oleh riuh tawa dan denting musik, kali ini terasa lebih lengang.
Banyak yang memilih menepi, menenangkan diri, menadabburi ayat-ayat suci, menautkan hati pada keheningan yang bermakna. Seolah kota sepakat menurunkan volume dunia, memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas lebih panjang.
Hujan yang turun sejak Sabtu petang menambah suasana menjadi lebih syahdu. Rintiknya perlahan memenuhi got, merambah ke jalan, bahkan memasuki rumah-rumah yang berada di dataran rendah.
Air mengalir membawa pesan yang sama: bahwa hidup adalah perjalanan menerima dan mengikhlaskan. Di balik genangan, tersimpan pengingat tentang rapuhnya manusia dan kuatnya harapan.
Di ruang-ruang digital, Mozaik Kehidupan tetap mengetuk layar gawai para pembaca. Ada yang menekan tombol like, ada yang mengirimkan pesan, namun lebih banyak yang membaca dalam diam.
Tak mengapa. Sebab, sebagaimana pesan seorang ustaz, menyampaikan informasi yang mencerahkan pun adalah ibadah. Membaca dengan hati, merenung dalam sunyi, lalu memetik hikmah, itulah doa yang tak selalu perlu diucapkan dengan kata.
Dari timur Nusantara, kabar pergantian tongkat kepemimpinan datang dari Bima Kota. AKBP Catur Erwin Setiawan resmi mengakhiri tugasnya sebagai Pelaksana Harian Kapolres.
Posisi itu kini diamanahkan kepada AKBP Hariyanto, sosok yang sebelumnya mengemban tugas sebagai Wakil Komandan Satuan Brimob Polda NTB.
Rotasi jabatan adalah denyut alami institusi: sebuah peralihan, sekaligus harapan baru bagi tertib dan aman di tanah Mbojo.
Sementara itu, di jagat otomotif dan kebijakan publik, keputusan mengimpor ratusan ribu unit pikap dari India memantik diskusi panjang. Di atas kertas, kendaraan-kendaraan ini tampak perkasa:
Mesin bertenaga besar, rangka baja tebal, dan teknologi mutakhir. Namun di medan nyata Indonesia, jalan berlumpur, bahan bakar tak selalu ramah mesin.
Serta bengkel yang minim peralatan diagnostik, ketangguhan bukan hanya soal tenaga, melainkan daya tahan terhadap keterbatasan.
Teknologi canggih bisa berubah menjadi titik lemah ketika bersua solar berkualitas rendah. Di desa-desa terpencil, kendaraan bukan sekadar alat angkut, melainkan urat nadi kehidupan.
Ketika mesin berhenti, denyut ekonomi pun ikut melambat. Di sinilah kebijakan diuji: apakah ia benar-benar menyentuh tanah tempat rakyat berpijak?
Dari tanah Pasundan, satu tahun kepemimpinan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan menjadi cermin refleksi.
Angka kepuasan publik yang tinggi tak membuat sang gubernur larut dalam euforia. Justru ia menegaskan, cinta warga adalah amanah, bukan legitimasi.
Di balik pujian, masih ada persoalan fiskal, ketimpangan layanan, dan pekerjaan rumah yang menunggu diselesaikan. Kepemimpinan, pada akhirnya, bukan tentang statistik, melainkan tentang keberanian menatap kekurangan.
Di Papua, lembaran sejarah pertambangan kembali ditulis. Perpanjangan izin operasi Freeport hingga 2061 menjanjikan investasi raksasa dan harapan peningkatan pendapatan negara.
Namun di balik angka miliaran dolar, ada doa agar kekayaan bumi benar-benar menjelma kesejahteraan bagi rakyat setempat. Agar emas dan tembaga tak hanya mengalir ke pusat, tetapi juga menyuburkan tanah tempat ia digali.
Dan di sudut lain mozaik ini, kisah Muhammad Ali mengajarkan makna keteguhan. Sang legenda ring, yang pernah mengguncang dunia dengan pukulan dan keberanian, harus berdamai dengan Parkinson.
Tubuhnya melemah, geraknya melambat, tetapi jiwanya tetap berdiri tegak. Dalam gemetar tangannya, tersimpan pelajaran besar: bahwa keagungan manusia bukan pada kekuatan raga, melainkan ketabahan menerima takdir.
Ramadan menyatukan semua kisah itu dalam satu tarikan napas. Kota yang basah oleh hujan, kebijakan yang diuji realitas.
Pemimpin yang bercermin pada diri, tambang yang menjanjikan masa depan, dan seorang legenda yang mengajarkan keteguhan.
Semuanya berpadu dalam satu pesan: hidup adalah perjalanan mencari makna.
Dan di setiap detiknya, kita diberi pilihan, menjadikan waktu sebagai keluhan, atau sebagai jalan pulang menuju kebahagiaan hakiki.
Selamat Berhari Ahad, . Selamat menjalani Ramadan. Semoga hati kita selalu menemukan cahaya di sela-sela riuh dunia.
Dengan penuh hormat, berikut pantun penutup untuk melengkapi Mozaik Kehidupan edisi Minggu:
Mentari pagi menyentuh kalbu,
Embun menetes di daun kenanga.
Ramadan hadir menyulam rindu,
Mozaik pamit, sampai jumpa di edisi berikutnya.
Salam
persahabatan : Syakhruddin Tagana
