Pembaca setia Mozaik Kehidupan, alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dalam suasana sehat wal afiat. Mengarungi hari kelima Ramadan 1447 Hijriah dengan hati yang bening dan jiwa yang lapang.
Rasa syukur atas limpahan nikmat ini semestinya terus kita tingkatkan, salah satunya dengan mentadabburi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Pemandu langkah, sekaligus pengatur laku dalam melayari bahtera kehidupan di mayapada.
Hidup, sungguh terasa begitu singkat. Seakan baru kemarin kita berlari-lari kecil di masa kanak-kanak, lalu tumbuh dewasa, meniti karier, membangun keluarga, dan kini menua bersama anak cucu di rumah.
Di usia senja, sebagian dari kita memilih memanfaatkan sisa waktu dengan terus menulis, berkarya, dan berbagi kisah, sebuah ikhtiar menjaga kejernihan berpikir, agar tidak terhempas dari dunia yang terus bergerak.
Semua itu, pada hakikatnya, kembali pada satu kunci: mensyukuri nikmat. Selama rasa syukur tetap hidup, selama semangat berkarya tak pernah padam, usia tak lagi menjadi sekat.
Sebagaimana slogan Tagana Indonesia yang sarat makna pengabdian:
“Pantang Tugas Tidak Tuntas.”
Maka, rasa syukur dan semangat pengabdian itu sejatinya menemukan wadah nyatanya dalam ruang-ruang sosial umat. Salah satunya melalui masjid, yang dari masa ke masa terus berevolusi, menyesuaikan diri dengan denyut kebutuhan zaman.
Di era kini, pengelolaan masjid pun mengalami transformasi besar. Masjid tak lagi sekadar ruang ibadah ritual, melainkan beralih menjadi pusat peradaban, pusat sosial, sekaligus motor kemandirian ekonomi umat.
Contoh inspiratif dapat kita saksikan di Masjid Jogokariyan Yogyakarta, yang menerapkan manajemen infak mandiri, konsep kas nol rupiah, serta wakaf produktif demi memakmurkan jemaah.
Masjid yang efektif bukan hanya membangun kubah megah, melainkan menghadirkan pelayanan tulus, pemberdayaan ekonomi, dan transparansi keuangan.
Semangat inilah yang kini dihidupkan oleh Pengurus Masjid Agung Sultan Alauddin Makassar. Sebuah langkah awal yang penuh makna diwujudkan melalui pembukaan “Dapur Ramadan”,
Yang setiap hari menyediakan buka puasa bagi jamaah, khususnya para mahasiswa, dengan kapasitas sekitar 400 hingga 500 orang. Ajakan berinfak dan berdonasi dari para dermawan, guru besar, dan dosen disambut hangat.
Mereka menyadari, inilah ladang amal yang terbentang luas di bulan penuh berkah.
Di balik gerak cepat itu, tampak sosok Pak CAPI, mantan Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Dakwah dan Komunikasi, yang dikenal cekatan dalam urusan sosial dan kesejahteraan umat.
Sosok yang kerap lebih dahulu hadir di rumah duka, mengulurkan tangan, menguatkan hati, dan menggerakkan solidaritas.
Kali ini, Pak CAPI kembali tampil di barisan terdepan, mengajak semua pihak untuk menyukseskan Dapur Ramadan Masjid Agung Sultan Alauddin, yang berdiri megah di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin, Jalan HM Yasin Limpo, Samata, Gowa.
Sebuah ikhtiar sederhana, namun sarat nilai: menghadirkan kehangatan, menumbuhkan kepedulian, dan menyalakan cahaya harapan di setiap senja Ramadan.
Spirit perubahan itu tidak berhenti di Yogyakarta. Di berbagai penjuru negeri, kesadaran serupa perlahan tumbuh, menghadirkan wajah baru masjid, sebagai pusat pelayanan, penguatan ukhuwah, dan kemandirian umat.
Namun, di balik kehangatan Dapur Ramadan dan denyut kebaikan yang terus menyala, dunia di luar sana menyuguhkan wajah lain: riuh, penuh gesekan, dan kerap kehilangan kesabaran.
Imsak di Tengah Riuh Dunia Ramadan datang membawa pesan paling sederhana, namun paling berat: menahan diri.
Di Gili Trawangan, Lombok, sebuah musala kecil menjadi pusat kisah besar. Lantunan tadarus yang seharusnya mengalir lembut di udara senja justru memantik amarah seorang warga negara asing.
Suara ayat-ayat suci yang bagi kaum muslimin adalah penyejuk jiwa, bagi telinga yang tak terbiasa berubah menjadi gangguan.
Peristiwa itu segera menyebar. Majelis Ulama Indonesia dan Kementerian Agama turun tangan, mengajak semua pihak kembali pada esensi Ramadan: imsak dan menahan diri.
“Segala persoalan bisa disampaikan dengan arif dan bijaksana,” pesan Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan. Sebuah kalimat pendek, namun mengandung kedalaman spiritual.
Ramadan, katanya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan amarah, ego, dan keinginan untuk menang sendiri.
Di kampung-kampung muslim, tadarus adalah denyut nadi Ramadan. Namun denyut itu pun perlu dijaga agar tetap ritmis, tidak melukai telinga yang berbeda keyakinan.
Sebaliknya, mereka yang datang dan menetap di tanah muslim, perlu membuka ruang pengertian: bahwa bulan ini adalah waktu sakral, saat langit dan bumi seolah lebih dekat. Ramadan sejatinya mengajarkan harmoni bukan dominasi.
Sementara itu, langit di atas Nusantara menyimpan cerita lain. Awan tebal berarak, menumpahkan hujan deras di banyak wilayah.
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat dari Jawa hingga Papua. Hujan, seperti Ramadan, membawa dua sisi: rahmat dan peringatan.
Ia menumbuhkan, tetapi juga menguji. Di jalanan kota, air menggenang, angin menderu, dan manusia kembali diingatkan akan rapuhnya dirinya di hadapan alam.
Di tengah cuaca ekstrem, Ramadan kembali berbisik: bersiaplah, waspadalah, dan tetap bersyukur.
Lebih jauh, di Yerusalem, ketegangan membara. Di kompleks Masjid Al-Aqsa, tempat suci yang selama puluhan tahun dijaga dengan keseimbangan rapuh, situasi kian genting.
Penangkapan imam, pembatasan akses jamaah, dan penggerebekan saat tarawih menjadi rangkaian luka baru.
Kesepakatan pasca-1967, yang menjamin umat Islam beribadah dengan aman di Al-Haram al-Sharif, kian tergerus oleh tekanan politik dan ekstremisme.
Seorang pengamat menyebut, “Al-Aqsa adalah detonator.” Sumbu yang jika tersulut, dapat mengguncang bukan hanya Yerusalem, tapi dunia.
Ramadan yang seharusnya menjadi bulan damai, di sana justru terasa penuh kecemasan. Doa-doa melayang di bawah kubah emas, bercampur dengan suara sepatu tentara dan pintu-pintu yang digedor paksa.
Bila kegaduhan manusia kerap lahir dari ego dan prasangka, alam pun berbicara dengan caranya sendiri, mengingatkan betapa kecil dan rapuhnya kita.
Dari Gili Trawangan hingga Yerusalem, dari hujan Nusantara hingga langit Timur Tengah, satu pesan Ramadan berulang: menahan diri. Menahan emosi. Menahan ego. Menahan dendam. Menahan nafsu untuk saling melukai.
Ramadan mengajak manusia belajar menjadi lembut di dunia yang kerap keras. Dan di tengah segala hiruk-pikuk peristiwa, kita kembali pada makna paling hakiki:
Bahwa iman bukan hanya soal ritual, tetapi tentang bagaimana kita menjaga sesama, menjaga bumi, dan menjaga kemanusiaan.
Mengakhiri naskah Mozaik Kehidupan, izinkan Penulis menyampaikan pantun;
Masya Allah… tulisan yang darat dengan informasi. Sesuai Slogan “Pantang Tugas Tidak Tuntas”…lanjutkan..!👍👍
Tetap semangat pagiiiii