SYAKHRUDDINNEWS.COM – Malam itu, Masjid Besar Al-Abrar berpendar dalam cahaya keheningan yang khusyuk. Usai azan Isya menggema, jamaah berdatangan perlahan.
Sebagian masih membawa sisa lelah hari, sebagian lain membawa harap. Di antara langkah-langkah menuju saf, terbit kerinduan yang sama: ingin pulang dengan hati yang lebih tenang dari sebelumnya.
Tarawih malam itu berlangsung tertib dan khidmat. Sebelum ceramah dimulai, laporan singkat disampaikan oleh Zulkarnaen Syamsuddin, mewakili panitia pelaksana.
Dengan suara penuh syukur, ia menyampaikan hasil celengan masjid serta mengucapkan terima kasih kepada para dermawan yang telah mengirimkan kue-kue untuk buka puasa.
Ucapannya sederhana, namun sarat makna: bahwa kebaikan sekecil apa pun, bila dilakukan dengan ikhlas, akan berbuah keberkahan.
Lalu mimbar diisi oleh Dr. H. Khairul Ulum. Dengan nada lembut namun tegas, ia mengajak jamaah merenungi satu perkara yang sering dianggap remeh, tetapi justru menentukan kualitas ibadah puasa: menjaga lisan.
“Dalam berpuasa,” tuturnya, “bukan hanya perut yang kita latih menahan lapar dan dahaga. Lisan dan hati pun harus kita jaga. Ingatlah, lisanmu itu harimaumu.”
Kata-kata itu meluncur pelan, namun terasa menghunjam. Betapa sering manusia tersandung bukan oleh langkahnya, melainkan oleh ucapannya sendiri.
Khairul Ulum lalu mengajak jamaah tersenyum, saat menyinggung kehidupan rumah tangga. “Istri cerewet itu tidak mengapa,” katanya ringan, “asal jangan gosip.”
Sebuah kalimat sederhana, namun sarat hikmah: bahwa harmoni bukan soal sunyi, melainkan bagaimana kata-kata digunakan untuk kebaikan.
Ia menukil kisah Umar bin Khattab, sosok yang dikenal tegas bak singa padang pasir. Namun di hadapan istrinya, Umar justru menunjukkan kelembutan. “Aku tidak mampu melawan istriku,” kata Umar, “sebab ia telah melahirkan anak-anakku, merawat, dan membesarkan mereka.”
Dari sini, Khairul Ulum menegaskan, betapa kemuliaan seseorang justru tampak dari caranya menghargai pasangan hidupnya.
Maka, resep kehidupan pun disodorkan: berkatalah yang baik, atau lebih baik diam.
Ia melanjutkan, diamnya orang berpuasa dinilai sebagai dzikir, dan tidurnya bernilai ibadah. “Jika menghadapi situasi yang membuat emosi memuncak,” pesannya, “lebih baik diam dan perbanyak istighfar. Ucapkan astaghfirullah seratus kali. Di sanalah ketenangan akan turun.”
Ceramah itu mengalir hingga ke puncak makna: menjadikan Ramadan sebagai surga dunia. Bulan di mana keluarga berkumpul saat sahur, berbagi tawa saat berbuka, dan melangkah bersama menuju tarawih.
Sebuah mozaik kebahagiaan yang mungkin tak selalu hadir di bulan-bulan lain.
“Jika ada perselisihan dengan istri, anak, atau tetangga,” ajaknya, “mari kita tuntaskan di bulan Ramadan ini. Bersihkan hati, perbanyak dzikir, dan tadabburi Al-Qur’an.”
Suasana masjid semakin hening. Seakan tiap kata jatuh perlahan ke relung jiwa, menumbuhkan kesadaran baru: bahwa puasa bukan semata menahan, tetapi memperbaiki.
Malam itu, tarawih dilaksanakan tanpa dzikir bersuara di antara rakaat, sebagaimana biasanya, yang dikomando H. Haruna.
Namun justru dalam keheningan itulah, jamaah menemukan ruang paling sunyi untuk berdialog dengan Tuhannya. Di sela-sela sujud, terselip doa-doa yang tak terucap, harapan yang hanya langit mampu menampung.
Dan di Masjid Besar Al-Abrar, malam itu, banyak hati pulang dalam keadaan lebih ringan, karena lisan dijaga, dan jiwa kembali dipeluk damai (sdn)


