SYAKHRUDDINNEWS.COM – Suasana tarawih malam ke-10 Ramadan di Masjid Besar Al-Abrar berlangsung khidmat dan penuh ketenangan.
Hujan yang turun sesekali justru menambah syahdu, seolah alam ikut bersujud bersama para jamaah. Lantunan doa, desau angin, dan rintik hujan berpadu dalam harmoni spiritual yang menyejukkan jiwa.
Kegiatan diawali dengan laporan keuangan masjid yang disampaikan oleh Remaja Masjid, Mirsalam Dg Mideng, sebagai bentuk transparansi dan amanah pengelolaan rumah ibadah.
Setelah itu, jamaah menyimak ceramah tarawih yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Abd. Halim Talli, M.Ag, dengan gaya tutur yang teduh, jernih, dan sarat makna.
Dalam tausiyahnya, Prof. Halim mengingatkan pentingnya menempatkan skala prioritas dalam beragama. “Dahulukan yang wajib sebelum memperbanyak yang sunah,” tuturnya.
Sebab, agama telah memberi tuntunan yang jelas: wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah, sebuah peta jalan agar kehidupan beriman berjalan seimbang dan terarah.
Lebih lanjut, beliau mengurai makna Surah Fāṭir ayat 32 tentang tiga golongan pewaris cahaya Al-Qur’an. Sebuah ayat sederhana, namun memantulkan cermin kehidupan manusia.
Pertama, golongan yang menzalimi diri sendiri, mereka yang masih sering lalai, alpa dalam ibadah, terbuai gemerlap dunia, dan menunda kebaikan.
Namun, selama iman masih bersemi, pintu taubat senantiasa terbuka. Sebab rahmat Allah jauh melampaui segala dosa hamba-Nya.
Kedua, golongan pertengahan, mereka yang menjaga kewajiban, menjauhi larangan, serta menapaki hidup dengan keseimbangan.
Ibadah berjalan, akhlak terpelihara, meski belum sepenuhnya sempurna. Inilah pribadi yang stabil, tenang, dan konsisten.
Ketiga, golongan yang berlomba dalam kebaikan, jiwa-jiwa yang tak pernah puas dengan amal yang ada. Mereka terus memberi lebih, berbuat lebih, dan melangkah lebih jauh dalam ketaatan.
Hatinya terpaut pada masjid, waktunya dipenuhi ibadah, dan hidupnya diabdikan untuk kemaslahatan umat. Tiga golongan, satu tujuan: menggapai ridha Allah dan surga-Nya.
Ramadan, dengan tarawih dan limpahan cahaya spiritualnya, sejatinya adalah tangga kenaikan derajat, dari lalai menuju sadar, dari biasa menuju istimewa, dari sekadar baik menuju yang terbaik.
Usai ceramah, shalat tarawih dan witir dilaksanakan berjamaah, dipimpin oleh Imam Habibi, S.Pd. Di sela-sela tarawih dan witir, hujan kembali mengguyur masjid, membuat sebagian jamaah tertahan sejenak.
Momen itu pun berubah menjadi ruang silaturahmi hangat, ditemani suguhan kue-kue sederhana dari pengurus masjid, sebuah jamuan kecil yang sarat keikhlasan dan kebersamaan.
Malam pun berlalu, meninggalkan jejak ketenangan di hati, dan doa-doa yang melangit, memohon agar cahaya Ramadan terus menetap dalam jiwa hingga akhir hayat (sdn)