SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hujan deras yang mengguyur Kota Makassar sejak pagi tak sedikit pun mengendurkan langkah jamaah menuju Masjid Besar Al-Abrar, Jalan Sultan Alauddin No. 82.
Payung terbuka, langkah dipercepat, namun semangat beribadah tetap menyala. Seolah hujan hanyalah irama alam yang mengiringi kerinduan para hamba menunaikan panggilan Jumat.
Seusai laporan keuangan masjid disampaikan oleh Suhardi Dg Rurung, S.Sos.I, mimbar Jumat kemudian diserahkan kepada Ustaz Alamsyah, M.Hum, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar.
Dengan jaket hijau yang dikenakannya, ia tampil sederhana namun penuh energi. Khotbah pun dibuka dengan pantun sederhana, namun sarat makna:
Tak kenal maka tak sayang, Tak sayang maka tak cinta, Tak cinta maka tak bahagia.
Pantun itu, menurut Alamsyah, adalah gambaran hubungan manusia dengan bulan suci Ramadan. “Jika kita tak mengenal Ramadan, mustahil kita mencintainya. Jika tak mencintai, maka Ramadan akan berlalu tanpa makna, dan kita pun kehilangan kebahagiaan sejati,” tuturnya.
Ramadan, lanjutnya, bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum membakar dosa-dosa masa lalu, sekaligus terapi bagi penyakit jasmani dan rohani.
Mengutip hasil penelitian seorang ilmuwan Jepang, Alamsyah menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat miliaran sel. Ketika seseorang dikuasai amarah, puluhan sel rusak, dan jika terus berulang, dapat memicu penyakit serius, bahkan stroke.
“Puasa adalah proses pembersihan karat-karat hati,” ujarnya. Karat itulah yang membuat seseorang malas beribadah, enggan bersedekah, berat melangkah ke masjid, bahkan gelisah saat mendengar ceramah yang panjang.
“Ibarat kuda liar yang dikandangkan,” katanya, disambut senyum jamaah.
Sebaliknya, bagi mereka yang mencintai Ramadan, masjid terasa seperti rumah. “Seperti ikan yang bertemu air,” ucapnya, menggambarkan kenyamanan dan kebahagiaan dalam beribadah.
Alamsyah kemudian menjelaskan tiga golongan orang dalam menjalankan puasa. Pertama, mereka yang hanya menahan lapar dan dahaga. Kedua, yang berpuasa tetapi lalai menghidupkan malam Ramadan dengan tarawih, atau sebaliknya rajin tarawih namun tak berpuasa.
Ketiga, golongan terbaik, yaitu mereka yang mengerahkan seluruh potensi diri untuk syiar Ramadan: berpuasa, shalat tarawih, mentadabburi Al-Qur’an, berinfak, dan memperbanyak amal kebajikan.
Golongan inilah yang paling dicintai Allah, karena hatinya menjadi lembut dan tawadhu.
Puasa, kata Alamsyah, bahkan dipraktikkan oleh makhluk lain. Ia mencontohkan ular yang berpuasa sebelum berganti kulit menjadi lebih sehat dan lincah, serta ulat yang berpuasa dalam kepompong hingga menjelma kupu-kupu indah.
“Puasa adalah proses transformasi menuju kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.
Maka, tak berlebihan jika Allah berjanji, “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Sebuah janji ilahi yang menyimpan pahala tak terhingga.
Usai shalat Jumat, Ustaz Alamsyah segera melanjutkan perjalanan menuju Maros, untuk menarik kembali mahasiswa yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Infokom Maros.
Hujan masih setia turun, namun semangat dakwah dan pengabdian tetap mengalir tanpa henti, semangat pagi ! (sdn)