SYAKHRUDDINNEWS.COM – Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pembaca setia Mozaik Kehidupan, hari ini kita menutup lembaran terakhir bulan Februari. Sebuah bulan yang berlalu dengan segala cerita, harap, dan doa. Esok, mentari 1 Maret 2026 akan kita sambut dengan penuh suka cita.
Bukan sekadar pergantian tanggal, melainkan juga janji-janji kehidupan yang menyertainya. Sebagian berharap datangnya rezeki, sebagian lain menanti kehangatan silaturahmi, dan tak sedikit pula yang menyiapkan langkah menyongsong hari-hari Ramadan dengan lebih khusyuk.
Di tengah pergantian waktu ini, semesta pun menyiapkan peristiwa langit: gerhana bulan total pada 3 Maret 2026, sebagaimana telah diprediksi para ahli. Fenomena ini kembali mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan mampu membaca isyarat alam dengan perhitungan yang presisi.
Namun, setepat apa pun kalkulasi manusia, tetap ada ruang takzim pada kehendak Ilahi. Tugas kita bukan hanya mengagumi kecanggihan sains, melainkan juga menundukkan hati, memperbanyak syukur, dan memperdalam makna ibadah.
Ramadan telah memasuki hari-hari awalnya. Waktu terasa melaju lebih cepat dari biasanya. Dua puluh hari lagi, zakat fitrah akan kita tunaikan, dan insya Allah Idulfitri akan kita rayakan pada Jumat, 20 Maret 2026.
Maka, marilah kita maksimalkan hari-hari ini dengan memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperhalus budi, dan membersihkan niat.Sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan silaturahmi digital, kami juga akan menyeleksi kembali para penerima naskah Mozaik Kehidupan.
Respon sederhana berupa like atau komentar menjadi tanda bahwa nomor yang kami tuju masih aktif dan naskah ini benar-benar dibaca. Tanpa respon, boleh jadi nomor tersebut telah berganti tangan atau tak lagi digunakan, sehingga pengiriman akan kami hentikan.
Semua ini semata demi efektivitas dan keberlanjutan dakwah literasi yang sedang kita bangun bersama. Untuk membuka lembaran hari ini, mari kita awali dengan sebuah pantun:
Pergi berlayar menyusuri teluk,
Angin sepoi menemani bahtera.
Hari berganti, gajian pun tiba,
Ramadan hadir membawa cahaya.
AI, Akal Imitasi, dan Masa Depan Peradaban
Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) kini melesat dengan kecepatan yang mencengangkan. Teknologi ini tak lagi sekadar menjadi teman berbincang atau alat bantu mengetik. Ia telah mampu memecahkan persoalan matematika kompleks, merancang sistem pemrograman rumit, hingga membantu analisis medis dan riset ilmiah.
Prediksi tentang kemunculan Artificial General Intelligence (AGI), kecerdasan mesin yang setara dengan kemampuan berpikir manusia, menjadi topik yang memantik decak kagum sekaligus kegelisahan. Akankah kecerdasan buatan melampaui kecerdasan insani? Ataukah justru menjadi mitra peradaban?
Di sinilah letak tantangannya: memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpijak pada etika, nilai kemanusiaan, dan kearifan spiritual. Sebab setinggi apa pun teknologi, ia tetaplah alat dan manusialah yang menentukan arahnya.
Meksiko Membara: Kematian El Mencho dan Ledakan Kekerasan
Dari panggung global, kabar mencekam datang dari Meksiko. Negara itu dilanda kekacauan pasca tewasnya bos narkoba paling ditakuti, Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho, dalam operasi militer di wilayah Jalisco.
Kematian sang gembong memicu gelombang kerusuhan dan aksi balasan brutal di berbagai kota. Jalan-jalan diblokade, kendaraan dibakar, dan ketakutan menyelimuti warga sipil.
Peristiwa ini membuka kembali luka lama tentang betapa gelapnya wajah perdagangan narkoba yang selama puluhan tahun mencengkeram negeri itu.
Di balik hiruk-pikuk politik dan operasi keamanan, korban sesungguhnya tetaplah masyarakat kecil—yang hanya ingin hidup tenang, bekerja, dan membesarkan keluarga. Dunia kembali diingatkan, bahwa kekerasan tak pernah melahirkan solusi, melainkan hanya mewariskan trauma yang panjang.
Saat Langit Berjejer, Hati Diminta Bersatu
Malam ini, Sabtu 28 Februari 2026, langit Indonesia menyuguhkan pemandangan langka. Enam planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, dan Uranustampak berjejer rapi, seolah membentuk barisan kosmik yang menakjubkan.
Fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan isyarat kebesaran Sang Pencipta, yang mengundang manusia untuk menunduk, merenung, dan bersyukur.
Di bawah langit yang tertib itu, manusia justru kerap mempertontonkan kekacauan perilaku. Hari ini, dunia memperingati Hari Internasional Menentang Perundungan.
Sebuah pengingat bahwa luka terdalam sering bukan berasal dari pukulan, melainkan dari kata-kata, ejekan, dan hinaan yang merendahkan martabat sesama. Sebagaimana planet-planet patuh beredar pada garis edarnya, manusia pun seharusnya tunduk pada nilai kasih, adab, dan kemanusiaan.
Saat mata menatap langit yang teratur, semoga hati pun kembali disusun rapi: menahan lisan, menjaga sikap, dan menumbuhkan empati. Sebab dunia akan lebih damai jika manusia belajar dari langit—bersatu tanpa saling melukai.
Dari Kampus hingga Mimbar Idulfitri
Beberapa hari lalu, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar menggelar rapat edukasi, pelatihan aplikasi Lentera, buka puasa bersama, serta pembagian hadiah sarung tarawih bagi seluruh dosen yang hadir.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung H. Amir Said Samata, Gowa, ini menjadi ruang silaturahmi akademik yang hangat dan penuh makna. Sementara itu, Pengurus Masjid Besar Al-Abrar Makassar menetapkan Prof. Dr. H. Misbahuddin, M.Ag sebagai khatib pada pelaksanaan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H.
Sebuah kabar yang disambut dengan penuh syukur dan harap, agar mimbar Idulfitri kelak menjadi sumber pencerahan dan penguat ukhuwah.
Penutup Reflektif
Di antara kecanggihan AI dan kerasnya konflik global, kita—manusia biasa—tetap berpijak pada realitas sederhana: menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, menebar manfaat, dan menjaga nurani. Ramadan mengajarkan kita untuk melambat sejenak, menengok ke dalam diri, lalu melangkah lebih bijak.
Sebagaimana pantun penutup berikut:
Mentari senja merunduk ke barat,
Langit memerah pertanda malam.
Hidup singkat, waktu pun sempit,
Mari berlomba dalam amal dan salam.
Wa
ssalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Penulis : Syakhruddin Tagana

Apakah kesejajaran Planet berkorelasi dengan hari gajian ? 😀