SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat kembali datang dengan langkah yang teduh, seolah membawa pesan agar manusia sejenak menoleh pada perjalanan usia yang terus bertambah. Pagi 29 Mei 2026 ini bukan sekadar pergantian hari dalam kalender, melainkan momentum penuh makna karena bangsa Indonesia memperingati Hari Lanjut Usia Nasional ke-30. Sebuah usia pengabdian yang mengingatkan kita bahwa para lanjut usia bukanlah bayang-bayang masa lalu, melainkan akar kebijaksanaan yang masih menyangga kehidupan hari ini. Dari tangan merekalah generasi tumbuh, nilai diwariskan, dan ketabahan diajarkan tanpa banyak kata.
Peringatan nasional tahun ini dipusatkan di Nusa Tenggara Timur, daerah yang dikenal dengan kesederhanaan hidup namun kaya semangat kekeluargaan. Dari bumi Flobamora, gema penghormatan kepada para lansia kembali diperdengarkan kepada negeri, bahwa usia lanjut bukan alasan untuk dipinggirkan, melainkan fase kehidupan yang harus dimuliakan. Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, para lansia tetap menjadi penjaga nilai, penutur sejarah, sekaligus penanda bahwa perjalanan hidup sejatinya adalah tentang ketulusan dan ketahanan menghadapi waktu.
Dan Jumat pagi ini, ketika cahaya matahari perlahan menyentuh halaman rumah-rumah warga, kita kembali diingatkan bahwa menghormati orang tua bukan hanya kewajiban budaya, tetapi juga cermin peradaban. Sebab bangsa yang besar bukan hanya dihitung dari gedung-gedung yang menjulang, melainkan dari cara ia merawat mereka yang telah lebih dahulu menempuh jalan kehidupan. Selamat memperingati Hari Lanjut Usia Nasional ke-30. Semoga para lansia Indonesia senantiasa sehat, bahagia, bermartabat, dan tetap menjadi pelita bagi generasi penerus bangsa.
Pantun Pembuka
Angin Mammiri berembus pelan,
Membawa sejuk ke tanah Melayu.
Yang tua jangan disimpan di pinggiran,
Sebab doa merekalah penuntun hidupmu.
Di tengah hiruk-pikuk perebutan kekuasaan yang kerap mengikis kepekaan nurani, momentum Idul Adha hadir membawa pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar ritual penyembelihan hewan kurban. Kurban sejatinya adalah cermin untuk menaklukkan sifat-sifat purba manusia: ketamakan, keserakahan, dan ambisi tanpa batas. Dalam koridor politik, pesan ini menjadi sangat relevan ketika kekuasaan acap kali menjelma menjadi arena saling memangsa, sebagaimana ungkapan filsuf Thomas Hobbes, Homo Homini Lupus—manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Rakyat pun sering hanya diposisikan sebagai angka statistik dan komoditas elektoral, bukan sebagai pemilik kedaulatan yang harus dimuliakan.
Melalui telaah pemikiran Ryaas Rasyid, kekuasaan sejatinya dibangun di atas amanah pelayanan, pemberdayaan, dan pembangunan yang berkeadilan. Karena itu, makna kurban dalam politik bukanlah mengorbankan rakyat demi melanggengkan singgasana, melainkan keberanian pemimpin untuk “menyembelih” ego, kepentingan pribadi, dan syahwat kekuasaan demi kemaslahatan publik. Dari sanalah lahir tata kelola pemerintahan yang jujur, transparan, dan berperikemanusiaan. Sebab sejarah pada akhirnya tidak mencatat siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang paling tulus menjaga hati nurani pemerintahan.
Harapan baru tengah dibuka pemerintah melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia dengan rencana perekrutan besar-besaran sumber daya manusia untuk program Sekolah Rakyat. Tak kurang dari 3.000 formasi guru serta 5.000 tenaga kependidikan akan disiapkan guna mendukung operasional pendidikan di berbagai daerah. Rekrutmen ini menjadi sinyal bahwa negara mulai serius membangun akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu melalui sekolah yang berada langsung di bawah naungan Kemensos RI.
Tenaga kependidikan yang dibutuhkan pun cukup beragam, mulai dari staf tata usaha, pustakawan hingga laboran yang nantinya akan menopang aktivitas belajar mengajar di lingkungan sekolah. Kehadiran ribuan tenaga baru ini diharapkan bukan sekadar memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga menghadirkan wajah pendidikan yang lebih manusiawi, tertata, dan mampu menjangkau kelompok rentan yang selama ini berada di pinggir perhatian pembangunan.
Langkah besar tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan operasional pengajaran di 93 titik Sekolah Rakyat permanen yang ditargetkan rampung pada Juni 2026. Di tengah tantangan pengangguran dan kebutuhan lapangan kerja yang terus meningkat, program ini bukan hanya menghadirkan ruang belajar bagi rakyat kecil, tetapi juga membuka peluang pengabdian bagi ribuan tenaga pendidik di Indonesia.
Di balik toga yang semestinya menjaga marwah keadilan, seorang hakim di Kabupaten Wajo justru terseret dalam pusaran pelanggaran etik dan hukum yang berlapis. Bukan hanya tersandung kasus dugaan suap, ia juga diketahui menjalankan aktivitas sebagai agen perjalanan haji dan umrah—sebuah pekerjaan sampingan yang dinilai bertentangan dengan integritas profesi hakim. Jabatan yang seharusnya berdiri tegak di atas independensi perlahan runtuh oleh kepentingan pribadi dan godaan materi. Publik pun kembali diingatkan bahwa runtuhnya kepercayaan terhadap lembaga hukum sering kali dimulai dari perilaku segelintir aparat yang menyalahgunakan kewenangan.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia peradilan. Ketika seorang hakim tidak lagi menjaga jarak dari praktik-praktik transaksional, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar karier pribadi, melainkan wibawa institusi hukum itu sendiri. Aktivitas sebagai agen haji dan umrah memperlihatkan adanya pencampuran kepentingan yang tidak pantas dilakukan oleh aparat penegak hukum. Pada akhirnya, sanksi pemecatan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Publik tentu berharap, peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa jabatan hakim bukan ruang untuk memperkaya diri, melainkan amanah moral yang menuntut kejujuran, keteladanan, dan pengabdian penuh kepada keadilan.
Wali Kota Munafri Arifuddin menginginkan kembali diaktifkannya pos keamanan lingkungan atau poskamling di berbagai wilayah Makassar menyusul maraknya aksi geng motor yang mulai meresahkan warga. Menurutnya, keamanan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat kepolisian semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga wilayahnya masing-masing. Poskamling dinilai bukan sekadar simbol ronda malam, melainkan ruang kebersamaan warga untuk saling mengenal, saling menjaga, dan memperkuat kewaspadaan sosial di tengah meningkatnya potensi gangguan keamanan.
Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk dan individualistis, keberadaan poskamling sesungguhnya menjadi benteng sosial yang pernah terbukti efektif menjaga ketenteraman kampung-kampung di Makassar. Munafri berharap budaya ronda malam dan kepedulian antarwarga dapat kembali hidup, sehingga aksi geng motor, balapan liar, hingga tindak kriminal jalanan dapat dicegah sejak dini. Sebab ketika warga mulai kembali peduli terhadap lingkungannya, rasa aman bukan hanya menjadi tugas negara, tetapi tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat itu sendiri.
Kegagalan seleksi dan pembentukan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Makassar mulai memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Program yang selama ini menjadi simbol kedisiplinan, nasionalisme, dan kebanggaan pelajar itu disebut-sebut mengalami berbagai persoalan, mulai dari proses seleksi yang dinilai kurang transparan hingga dugaan tarik-menarik kepentingan di balik penentuan peserta. Situasi ini memunculkan kekecewaan di kalangan siswa maupun orang tua yang berharap proses pembinaan generasi muda dilakukan secara profesional dan bersih dari intervensi.
Di balik polemik tersebut, publik sesungguhnya sedang menunggu keberanian pemerintah dan panitia untuk membuka fakta secara terang-benderang. Sebab Paskibraka bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang peringatan kemerdekaan, melainkan ruang pembentukan karakter generasi muda. Ketika prosesnya diwarnai kegaduhan, maka yang tercoreng bukan hanya nama lembaga penyelenggara, tetapi juga semangat nasionalisme itu sendiri. Kota Makassar tentu tidak kekurangan anak-anak muda berbakat dan berintegritas. Yang dibutuhkan hanyalah sistem seleksi yang adil, transparan, dan bebas dari kepentingan kelompok tertentu agar kepercayaan publik dapat kembali tumbuh dengan utuh.
Sampai di sini dahulu jumpa kita pada edisi hari ini. Esok, kita kembali bersua dengan ragam informasi yang kian menarik, hangat, dan layak menjadi teman di sela aktivitas Anda. Tetap jaga kesehatan, jaga semangat, dan siapkan diri menyongsong hari-hari mendatang yang penuh harapan, terlebih di tengah kabar yang mulai dinanti banyak kalangan: cairnya gaji ke-13 melalui pihak Taspen. Semoga tambahan rezeki itu bukan sekadar angka dalam rekening, tetapi juga menjadi penopang kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, hingga penyemangat menjalani hari dengan lebih optimistis.
Di tengah derasnya arus kehidupan, jangan lupa memberi ruang bagi hati untuk tetap bersyukur. Sebab kebahagiaan bukan hanya tentang apa yang diterima, melainkan juga bagaimana kita memaknainya. Sampai jumpa kembali pada perjumpaan berikutnya, dengan cerita baru, inspirasi baru, dan mozaik kehidupan yang selalu punya warna untuk dibagikan.
Pantun Penutup
Gaji ke-13 sudah di ambang pintu,
Datangnya dinanti penuh harapan.
Tetap sehat menjaga waktu,
Agar hidup berjalan penuh keberkahan.



