SYAKHRUDDINNEWS.COM — Kamis pagi kembali hadir perlahan, membawa cahaya yang menetes lembut dari ufuk timur. Di sela desir angin dan denyut kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti, manusia kembali melanjutkan perjalanan waktunya. Ada yang memulai hari dengan harapan, ada pula yang menatap masa depan dengan kegelisahan. Namun seperti biasa, kehidupan selalu menyediakan cerita—tentang pengabdian, pergantian zaman, juga tentang nilai-nilai yang diam-diam terus diuji oleh keadaan.
Di Sulawesi Selatan, denyut kehidupan itu terasa dari ruang-ruang sederhana tempat para lanjut usia masih menanam makna pengabdian. Besok, Jumat 29 Mei 2026, bangsa ini akan memperingati Hari Lanjut Usia Indonesia ke-30. Sebuah momentum yang tidak sekadar hadir sebagai seremoni tahunan, melainkan penanda bahwa usia senja bukan akhir dari arti keberadaan. Pada wajah-wajah renta itu tersimpan jejak sejarah panjang tentang kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan yang pernah menjaga negeri ini tetap berdiri.
Mereka adalah generasi yang pernah berjalan di masa sulit, melewati zaman yang tak selalu ramah, namun tetap bertahan dengan keyakinan dan kerja keras. Karena itu, Hari Lanjut Usia sejatinya menjadi ruang penghormatan bagi mereka yang masih ingin berguna, tetap bergerak, dan terus dicintai di tengah dunia yang berubah begitu cepat. Sebab sebuah bangsa yang besar bukan hanya diukur dari kemajuan teknologinya, tetapi juga dari caranya menghormati orang-orang yang lebih dahulu menanam pondasi kehidupan.
Sementara itu, dari dunia kewartawanan Sulawesi Selatan, dinamika organisasi juga mulai menghangat menjelang Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel yang dijadwalkan berlangsung Selasa, 2 Juni 2026, di Graha Pena Fajar, Jalan Urip Sumoharjo Makassar. Di balik agenda konferensi itu, sesungguhnya tersimpan harapan besar tentang arah dan wajah pers ke depan—apakah tetap mampu berdiri independen di tengah arus kepentingan yang makin deras menghampiri ruang-ruang redaksi.
Pengurus PWI Pusat telah menetapkan dua pasangan kandidat yang dinyatakan memenuhi syarat untuk bertarung dalam konferensi tersebut. Pasangan pertama menghadirkan Suwardi Thahir sebagai calon Ketua PWI Sulsel bersama H. Dahlan Abubakar sebagai calon Ketua Dewan Kehormatan Provinsi. Sementara pasangan lainnya menempatkan Amrullah Basri sebagai kandidat Ketua PWI Sulsel didampingi H. Abd. Jurlan sebagai calon Ketua DKP. Nama-nama itu kini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan wartawan, menghadirkan harapan sekaligus tantangan tentang bagaimana menjaga marwah profesi di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
Dan pagi ini, Kamis 28 Mei 2026, kita kembali membuka lembaran hari dengan doa yang sederhana: semoga segala peristiwa yang hadir membawa manfaat, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kembali semangat pengabdian kepada sesama. Sebab pada akhirnya, usia boleh bertambah, kepengurusan boleh berganti, namun nilai kejujuran dan ketulusan tidak boleh ikut pergi meninggalkan hati manusia.
Pantun Pembuka
Mentari pagi mulai berseri
Burung bernyanyi di dahan cemara
Kamis hadir menyapa kembali
Membawa harapan untuk kita semua
Namun di tengah suasana Idul Adha yang semestinya menghadirkan kesederhanaan dan keteladanan, perhatian publik justru tertuju pada angka yang begitu mencolok. Sebanyak 1.098 ekor sapi kurban Presiden Prabowo Subianto diberitakan dibiayai melalui APBN dengan nilai mencapai sekitar Rp100 miliar. Angka itu segera menjadi perbincangan luas, sebab di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, rakyat semakin peka terhadap setiap penggunaan uang negara.
Partai Gerindra menegaskan program tersebut tidak melanggar aturan karena masuk dalam skema bantuan kemasyarakatan presiden. Secara administratif mungkin benar. Tetapi kehidupan publik tidak selalu selesai hanya dengan jawaban legalitas. Ada ruang lain yang lebih sunyi namun jauh lebih sensitif, yakni ruang etika dan rasa keadilan masyarakat.
Sebab di saat sebagian rakyat masih berjuang menghadapi harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang makin sempit, serta berbagai kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak langsung pada pelayanan publik, penggunaan dana negara dalam jumlah besar untuk program kurban tetap memunculkan tanda tanya. Publik pun mulai bertanya dalam diam: apakah negara sedang menunjukkan empati sosial, atau justru sedang mempertontonkan simbol kemurahan hati dengan biaya yang berasal dari kantong rakyat sendiri?
Gerindra meminta agar program itu tidak dipolitisasi. Namun dalam dunia kekuasaan, simbol keagamaan memang sulit dipisahkan dari pencitraan politik. Padahal kurban sejatinya mengajarkan tentang pengorbanan pribadi, keikhlasan, dan kesediaan berbagi tanpa perlu dipertontonkan berlebihan. Karena itu, ketika penguasa terlalu sibuk menjelaskan bahwa semuanya “sesuai aturan”, masyarakat justru mulai mencari sesuatu yang lebih penting dari sekadar aturan: yakni kepekaan terhadap rasa keadilan sosial.
Dari dalam negeri, suasana Idul Adha juga memantulkan cerita lain dari belahan dunia berbeda. Di halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah yang dihadiri Presiden RI bersama masyarakat Indonesia di negeri itu. Dalam udara pagi Kota Paris yang sejuk, gema takbir berkumandang menyatukan diplomat, mahasiswa, hingga diaspora Indonesia dalam satu saf persaudaraan yang hangat dan sederhana.
Bertindak selaku imam adalah seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah yang memimpin jalannya ibadah dengan penuh kekhusyukan. Momentum itu terasa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan penanda bahwa sejauh apa pun langkah merantau, ada ikatan batin yang tetap menghubungkan anak bangsa dengan tanah airnya. Dari halaman KBRI Paris, gema doa dan takbir seolah melintasi batas negara, membawa kerinduan tentang Indonesia yang damai, teduh, dan saling menguatkan.
Sementara itu, Pengurus Masjid Besar Al-Abrar di Jalan St. Alauddin No.82 Makassar menyalurkan daging kurban bekerjasama dengan Pengurus Shelter Warga Kelurahan Pa’Baeng-Baeng. Daging kurban diantar ke rumah kediaman Sekretaris SW. pa’baeng-Baeng dan selanjutnya dibagikan kepada para mitra shelter dan telah diterima dengan riang gembira.
Sampai di sini jumpa kita hari ini. Semoga pada hari-hari mendatang kita terus belajar tentang makna berkurban—bukan hanya menghadirkan hewan terbaik di hari raya, tetapi juga kesediaan mengorbankan ego, amarah, dan kepentingan pribadi demi menjaga persaudaraan dan kemanusiaan. Karena dalam kehidupan, sering kali pengorbanan terbesar justru lahir dari hati yang memilih mengalah demi kebaikan bersama.
Kini langkah kembali diarahkan menuju hari Jumat yang penuh berkah. Semoga setiap aktivitas yang dijalani senantiasa dibimbing kemudahan, dilimpahi kesehatan, dan dibukakan pintu rezeki oleh Allah SWT. Tetaplah menebar kebaikan, sebab sekecil apa pun ketulusan akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk menjadi cahaya bagi sesama.
Pantun Penutup
Sudah berkurban penuh keikhlasan
Kini Jumat datang membawa cahaya
Mari tebarkan kasih dan kebaikan
Agar hidup penuh berkah dan bahagia
Penulis Naskah : Syakhruddin Tagana


