SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pagi selalu memberi ruang untuk merenung. Di sela udara yang masih dingin dan langkah yang belum tergesa, tanggal hari ini—23 Desember—menyimpan jejak sejarah, kisah perjuangan, dan harapan yang terus diwariskan lintas generasi.
Enam puluh delapan tahun silam, tepat pada 23 Desember 1957, sekelompok tokoh bangsa menanam benih perubahan melalui Deklarasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Di masa ketika isu kesehatan reproduksi masih dianggap tabu, PKBI hadir sebagai lembaga swadaya masyarakat pertama yang berani membuka percakapan tentang hak kesehatan perempuan dan tantangan kependudukan.
Di balik deklarasi itu, tersimpan kegelisahan para ibu, angka kematian yang terlalu tinggi, serta harapan agar setiap kelahiran kelak membawa keselamatan, bukan duka. Dari sinilah Gerakan Keluarga Berencana Nasional bertumbuh, menjadi fondasi penting pembangunan manusia Indonesia.
Waktu terus berputar. Pada tanggal yang sama di tahun 2024, kisah pengabdian kembali hadir dari ruang yang berbeda. Di Rembang, Jawa Timur, Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono berdiri di hadapan para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Bukan sekadar memberi arahan, tetapi menyalakan kembali semangat—bahwa tugas pendamping sosial bukan hanya menyalurkan bantuan, melainkan mengantarkan harapan menuju kemandirian.
Hari itu pula, publik disuguhi kisah Nuraini, seorang warga Pringsewu. Ia bukan tokoh terkenal, bukan pula pejabat. Namun keberhasilannya lulus dari status penerima manfaat PKH adalah bukti nyata bahwa program kesejahteraan sosial bekerja. Dari tangan yang pernah menerima bantuan, kini ia berdiri lebih tegak, melangkah dengan percaya diri sebagai warga yang mandiri. Kisah Nuraini adalah potret kecil dari perubahan besar yang diperjuangkan negara.
Masih dalam rentang hari-hari bermakna ini, perhatian kita tertuju pada generasi yang sering luput dari sorotan: para lanjut usia. Dalam sebuah webinar yang digagas Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan (GPSP) bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang dan The SMERU Research Institute, Direktur Kelanjutusiaan Kemensos, Ibu Dr. Suratna, menyampaikan realitas yang menggetarkan: sekitar 16 juta lansia Indonesia masih membutuhkan layanan sosial, terutama mereka yang berada pada desil 1 hingga 5 dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial.
Namun dari data itu, juga lahir harapan. Ke depan, pelayanan lansia akan difokuskan pada pembinaan berbasis komunitas dan penguatan perawatan keluarga—menua di rumah. Sebuah pendekatan yang lebih manusiawi, hangat, dan berakar pada nilai kekeluargaan bangsa.
Momentum ini sejatinya menjadi panggilan bagi seluruh elemen, termasuk pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Provinsi Sulawesi Selatan, untuk menangkap peluang, berinovasi, dan menghadirkan program yang selaras dengan kebutuhan zaman.
Inspirasi pagi hari ini mengajarkan kita satu hal:
bahwa perubahan besar selalu lahir dari kepedulian—entah itu kepedulian pada ibu yang melahirkan, keluarga yang berjuang keluar dari kemiskinan, atau lansia yang ingin menjalani hari tua dengan bermartabat.
Mari terus berkiprah, belajar dari masa silam, bekerja di hari ini, dan menyiapkan masa depan yang lebih berkeadilan dan manusiawi.
Selamat pagi.
Semoga hari ini menjadi langkah kecil menuju perubahan besar.
