SYAKHRUDDINNEWS.COM — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar terus menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan hak dan perlindungan bagi kelompok rentan, khususnya perempuan penyandang disabilitas.
Hal ini terlihat dalam kegiatan “Peningkatan Peran Kelompok Perempuan Disabilitas dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan Kekerasan Seksual Tahap I”, yang digelar di Hotel Best Western, Jalan Botolempangan No. 67 Makassar, Senin (3/11/2025).
Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala DP3A Kota Makassar, drg. Ita Istiana Anwar, M.Kes, didampingi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan, Hj. Hafidah Djalante, S.IP. Dalam sambutannya, drg. Ita menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas dan kesadaran perempuan disabilitas terhadap berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, khususnya di ruang digital yang kini semakin marak.
“Kami ingin para peserta memahami bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender online dan kekerasan seksual, serta mengetahui hak-hak mereka atas perlindungan dan pemulihan. Perempuan disabilitas memiliki hak yang sama untuk merasa aman dan terlindungi, baik di dunia nyata maupun dunia maya,” ujar drg. Ita dalam arahannya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, hingga komunitas disabilitas, untuk membangun dukungan dan menciptakan lingkungan digital yang ramah serta inklusif bagi perempuan disabilitas.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Selestina Febronia dan Andi Hadi Ibrahim Baso, SS, MA, yang membawakan materi seputar pengenalan bentuk-bentuk KBGO, strategi perlindungan diri di dunia maya, hingga pentingnya jejaring dukungan bagi penyintas.
Untuk memperlancar penyampaian materi, pihak panitia juga menghadirkan dua orang JBI (Juru Bahasa Isyarat) masing-masing, Muh. Fahriko dan Yuni Anggraeni Atakari.
Peserta kegiatan merupakan perwakilan dari berbagai kelompok perempuan disabilitas di Kota Makassar. Mereka terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman nyata tentang tantangan yang dihadapi di ruang digital, termasuk bagaimana memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan paparan dari para narasumber yang dikemas interaktif. Suasana acara berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut agar semakin banyak perempuan disabilitas yang mampu menjadi agen perubahan dalam pencegahan kekerasan berbasis gender online di lingkungan mereka (sdn)



