Screenshot
Di antara ombak yang tenang berbisik,
Datang kabar dari lautan yang pilu,
Barcelona V, kapal pengangkut harapan,
Tiba-tiba dilahap api di langit biru.
Asap menggulung di atas dek yang terbakar,
Jerit penumpang mengoyak sunyi samudra,
Anak-anak berlari tanpa arah,
Orang tua menggenggam doa dalam nestapa.
Lima jiwa tak sempat selamat,
Namanya kini jadi puisi duka,
Asna, Zakaria, Juliana…
dan dua lainnya masih dalam tanya.
Pelabuhan jadi saksi luka,
Air mata tumpah di pundak petugas,
Tubuh-tubuh letih bersandar di dinding posko,
Menggigil tak hanya oleh dingin—tapi trauma yang tak terhapus.
Oh laut Talise,
Mengapa kau biarkan nyala api begitu beringas?
Apakah karena kelalaian manusia,
Ataukah karena kita lupa berjaga dalam ikhlas?
Kini satu nakhoda jadi tersangka,
Tapi waktu tak bisa memutar cerita,
Manifes palsu, SOP yang tak berjalan,
Menjadi jejak kelam dalam pelayaran.
Kapal itu pernah mengangkut harapan,
Kini ia tenggelam bersama tangisan,
Doa kami untuk mereka yang berpulang,
Semoga damai di samudra keabadian.
Makassar, 22 Juli 2025
by. Syakhruddin Tagana
