SYAKHRUDDINNEWS.COM — Senin pagi kembali datang mengetuk pintu kehidupan. Cahaya matahari perlahan jatuh di atap rumah-rumah warga, menyelinap ke lorong-lorong kota yang mulai sibuk, lalu singgah di wajah manusia yang kembali bersiap menaklukkan rutinitas. Setelah akhir pekan berlalu singkat, hari Senin sering terasa seperti lembar baru yang belum sepenuhnya tertulis. Ada yang menyambutnya dengan semangat, ada pula yang masih memikul lelah yang belum benar-benar reda. Namun kehidupan selalu meminta manusia untuk terus berjalan, sebab waktu tak pernah menunggu siapa pun.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan, setiap tanggal dalam kalender sesungguhnya menyimpan jejak cerita. Ada peristiwa yang mengubah arah bangsa, ada pula kisah sederhana yang diam-diam meninggalkan pelajaran besar bagi kemanusiaan. Dan pada penanggalan 25 Mei, sejarah kembali membuka lembar kenangannya.
Tahun 1958, Indonesia kehilangan seorang maestro besar: Ismail Marzuki. Sosok seniman yang melahirkan lagu-lagu abadi penuh cinta tanah air itu meninggalkan karya yang bukan sekadar enak didengar, melainkan juga merekam denyut jiwa bangsa. Dari tangannya lahir nyanyian tentang perjuangan, kerinduan, pengorbanan, hingga harapan akan Indonesia yang lebih baik. Meski zaman telah berkali-kali berganti, lagu-lagunya tetap hidup di hati lintas generasi. Namanya kemudian diabadikan menjadi pusat kesenian nasional, seolah menegaskan bahwa karya besar tidak pernah benar-benar mati.
Di belahan dunia lain, tanggal 25 Mei juga dikenang sebagai hari ketika Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, pada tahun 1961 menyampaikan pidato monumental tentang ambisi mendaratkan manusia di Bulan. Saat itu, mimpi tersebut terdengar nyaris mustahil. Namun dari mimbar kekuasaan, Kennedy menyalakan keyakinan bahwa kemajuan hanya dapat diraih oleh keberanian menantang batas. Dan sejarah kemudian membuktikan, mimpi besar sering kali lahir dari keberanian manusia melawan keraguan dirinya sendiri.
Dari dua peristiwa itu, kita belajar bahwa manusia dikenang bukan semata karena panjang usianya, melainkan karena jejak yang ditinggalkannya. Ada yang hidup melalui karya seni yang menghidupkan jiwa bangsa, ada pula yang dikenang karena keberaniannya menyalakan mimpi besar bagi umat manusia. Sebagai pembuka pagi untuk Anda, izinkan Penulis menghadiahkan sebuah pantun sederhana:
Burung camar terbang melayang,
Hinggap sejenak di tepi taman.
Selamat pagi para pembaca tersayang,
Mari sambut Senin dengan harapan.
Di tengah derasnya arus informasi digital yang nyaris tak pernah tidur, puluhan wartawan dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan berkumpul di Hotel KHAS Makassar, Jalan Andi Mappanyukki, Kota Makassar. Di ruangan itu, semangat profesionalisme dan marwah jurnalistik kembali diteguhkan melalui pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) 2026 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Selatan Angkatan XXIX dengan tema “Peningkatan Kapasitas dan Integritas Jurnalistik di Era Digital.”
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Atal Sembiring Depari, mewakili Ketua PWI Pusat. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi pelaksanaan UKW mandiri oleh PWI Sulsel sebagai langkah penting menjaga mutu profesi di tengah perubahan lanskap media yang semakin cepat dan kompetitif. Menurutnya, kualitas pers sangat ditentukan oleh kualitas wartawannya — bukan hanya cakap menulis berita, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan integritas profesi.
Sebanyak 41 peserta mengikuti UKW tahun ini, mulai kategori Wartawan Muda, Madya, hingga Utama. Antusiasme tersebut menjadi penanda bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas wartawan di era digital semakin mendesak, terutama di tengah banjir informasi yang sering bergerak lebih cepat daripada proses verifikasi.
Kegiatan yang dipandu H. Syakhruddin DN berlangsung khidmat namun hangat dalam nuansa kekeluargaan. Acara diawali pembacaan doa dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu dilanjutkan prosesi pengalungan kain sutera khas Wajo kepada enam tim penguji sebagai simbol penghormatan terhadap budaya lokal Sulawesi Selatan. Setelah pembukaan resmi berakhir, peserta, panitia, dan penguji mengabadikan momentum melalui foto bersama — sebuah penanda bahwa menjaga kualitas pers dimulai dari kesediaan wartawan untuk terus belajar dan menguji diri.
Dari panggung sejarah dan dunia jurnalistik, dunia hari ini kembali bergerak dengan dinamika yang tak kalah menarik. Politik global memanas setelah beredar kabar pengunduran diri Kepala Intelijen Nasional Amerika Serikat di tengah meningkatnya tekanan politik di lingkar pemerintahan Donald Trump.
Pergantian elite keamanan itu memunculkan spekulasi baru mengenai retaknya soliditas internal Gedung Putih, terlebih ketika berbagai agenda geopolitik dunia sedang berada dalam situasi sensitif. Banyak pengamat menilai, setiap pergolakan di lingkar kekuasaan Amerika hampir selalu berdampak luas terhadap arah politik dan keamanan dunia internasional.
Sementara itu di Indonesia, Bandara Internasional Kertajati kembali menjadi perbincangan publik. Pemerintah disebut membuka peluang kerja sama menjadikan Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat Hercules C-130 untuk kawasan Asia. Proyek ini dinilai dapat menjadi napas baru bagi industri dirgantara nasional sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja.
Namun di balik peluang ekonomi tersebut, muncul pula kehati-hatian dari sejumlah kalangan parlemen. Mereka mengingatkan agar kerja sama internasional tetap berjalan transparan dan tidak menimbulkan persepsi bahwa Indonesia sedang membuka ruang bagi kepentingan militer asing. Sebab dalam geopolitik modern, proyek ekonomi sering kali tidak pernah benar-benar lepas dari tafsir politik dan pertahanan.
Dari urusan negara dan politik global, perhatian umat Islam kini tertuju ke Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi mencatat puluhan ribu dam jemaah haji Indonesia telah dipotong baik di Arab Saudi maupun di Indonesia melalui mekanisme resmi pemerintah. Di balik ibadah yang sakral itu, tersimpan pula nilai solidaritas sosial agar manfaat ibadah tidak berhenti pada ritual semata, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat luas.
Namun di tengah suasana ibadah haji, kabar duka datang dari Makkah. Seorang jemaah haji lanjut usia asal Jakarta, Muhammad Firdaus, yang sebelumnya dilaporkan hilang, akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa beratnya perjuangan para lansia menjalani ibadah haji di tengah cuaca ekstrem dan padatnya jutaan manusia di Tanah Suci. Di usia senja, semangat memenuhi panggilan suci sering kali melampaui kekuatan fisik yang dimiliki.
Pembaca setia, kisah pilu lainnya datang dari Bulukumba. Di sebuah rumah sederhana yang sunyi, Kakek Nasaruddin mengembuskan napas terakhir dalam keadaan sebatang kara. Tak ada keramaian keluarga. Tak ada pelukan hangat yang menemani hari-hari tuanya. Hanya kesunyian yang perlahan menjadi sahabat terakhir hidupnya.
Kisah itu terasa menyesakkan dada. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern dan derasnya perkembangan zaman, ternyata masih ada lansia yang menjalani hidup dalam kesendirian panjang. Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan cermin yang memantulkan pertanyaan bagi kita semua: sudahkah orang-orang tua di sekitar kita benar-benar mendapatkan perhatian yang layak? Sebab sesungguhnya, kesepian di usia senja adalah luka yang sering tak terlihat, tetapi diam-diam sangat menyakitkan.
Di sisi lain, dunia teknologi terus bergerak melampaui imajinasi manusia. Google melalui ajang Google I/O 2026 memperkenalkan Gemini Spark, asisten kecerdasan buatan terbaru yang diklaim mampu bekerja mandiri hingga 24 jam tanpa pengawasan terus-menerus. Teknologi ini dirancang bukan hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga menjalankan tugas-tugas digital secara otomatis — mulai dari merangkum email, menyusun laporan, hingga mengatur alur pekerjaan pengguna.
Kemajuan teknologi seperti ini menghadirkan dua wajah sekaligus: kekaguman dan kekhawatiran. Di satu sisi, manusia dimudahkan oleh kecerdasan buatan yang semakin canggih. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan besar tentang bagaimana manusia menjaga kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri. Peradaban modern memang terus melaju, tetapi nilai kemanusiaan harus tetap menjadi kompas agar teknologi tidak menjauhkan manusia dari nuraninya.
Anggota Lembaga Lanjut Usia Indonesia saat selesai kegiatan bersama
Komunitas Senam Nusantara di Kawasan Boulevard Ahad 24 Mei 2026
Pembaca setia Mozaik Kehidupan, sebenarnya masih banyak kisah yang ingin dibentangkan pada lembar hari ini. Namun Penulis memahami, mata yang lelah dan waktu yang terus bergerak kadang membuat bacaan panjang terasa berat untuk dituntaskan. Karena itu, sebelum kita berpisah di penghujung pagi ini, izinkan sebuah pantun sederhana menjadi penanda akhir kebersamaan kita.
Untuk apa berambut panjang
Kalau tak disisir rapi
Untuk apa menulis panjang
Kalau pembaca mengantuk di malam sepi
Terima kasih telah setia menemani Mozaik Kehidupan. Semoga setiap kisah yang tersaji hari ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan menjadi cahaya kecil yang menambah makna dalam perjalanan hidup Anda. Sampai bersua kembali pada edisi berikutnya, dengan cerita baru, renungan baru, dan harapan yang tetap menyala di tengah perjalanan zaman.
Salam Santun,
Syakhruddin Tagana




