SYAKHRUDDINNEWS.COM – KENANGAN
Dahulu, di kala usia masih belia,
malam Minggu selalu terasa istimewa.
Langit menjadi saksi,
jalan-jalan menjadi halaman cerita,
dan tawa teman sebaya
menjadi musik yang tak pernah kami pesan,
tetapi selalu ingin kami dengarkan.
Kami berjalan tanpa banyak beban,
bercanda tanpa takut kehilangan waktu.
Duduk berkelompok di sudut kota,
berbagi cerita tentang sekolah,
tentang cinta yang baru tumbuh,
tentang cita-cita yang masih setinggi langit.
Malam semakin larut,
tetapi langkah belum ingin pulang.
Sebab masa muda memang begitu—
ia merasa malam masih panjang,
sementara hari esok seolah tak pernah datang.
Kini…
Waktu telah berubah wajah.
Malam Minggu bukan lagi milik kami.
Tempat-tempat yang dahulu ramai oleh suara generasi kami,
kini dipenuhi wajah-wajah baru.
Tawa yang dulu kami miliki
telah diwariskan kepada mereka.
Di tangan generasi baru,
telepon genggam menjadi saksi,
media sosial menjadi panggung,
dan dunia terasa hanya sejauh ujung jari.
Kami tidak perlu cemburu.
Sebab begitulah hukum kehidupan:
Setiap zaman ada orangnya,
dan setiap orang ada zamannya.
Kami pernah menjadi generasi yang berlari mengejar waktu.
Kini kami menjadi generasi yang belajar
mengejar makna.
Dulu kami menghitung berapa lama bisa berkumpul.
Sekarang kami menghitung
berapa banyak kebaikan yang masih bisa dilakukan.
Dulu berita datang dari koran pagi,
radio, dan televisi.
Kini berita berlari lebih cepat daripada langkah manusia.
Satu peristiwa terjadi di sebuah sudut kota,
beberapa detik kemudian
dunia sudah mengetahuinya.
Tetapi ada satu hal yang tidak berubah:
Manusia tetap membutuhkan manusia.
Teknologi boleh semakin canggih,
zaman boleh semakin cepat,
tetapi persahabatan, kepedulian,
dan kehangatan sebuah perjumpaan
tidak pernah bisa sepenuhnya digantikan layar.
Karena itu, kepada generasi muda,
jangan hanya sibuk mengejar popularitas.
Bangunlah prestasi.
Jangan hanya mengejar jumlah pengikut.
Bangunlah manfaat.
Sebab suatu hari nanti,
kalian pun akan sampai pada usia kami.
Dan ketika itu terjadi,
kalian mungkin akan menoleh ke belakang
sambil tersenyum dan berkata:
“Ternyata waktu berjalan begitu cepat.”
Lalu kalian akan melihat generasi setelah kalian
mengambil alih panggung kehidupan.
Jangan marah.
Jangan merasa tersisih.
Tersenyumlah.
Karena dahulu
kita juga pernah mengambil panggung
dari generasi sebelum kita.
Begitulah kehidupan bekerja—
datang, tumbuh, berkarya,
kemudian perlahan memberi ruang.
Bukan karena kita kalah,
melainkan karena estafet kehidupan harus terus berjalan.
Yang muda membawa tenaga.
Yang dewasa membawa pengalaman.
Yang tua membawa kebijaksanaan.
Jika ketiganya bertemu,
lahirlah sebuah masyarakat
yang tidak hanya maju,
tetapi juga beradab.
Maka kenangan jangan hanya disimpan
sebagai album masa lalu.
Jadikan ia kompas untuk masa depan.
Sebab masa lalu adalah guru,
masa kini adalah kesempatan,
dan masa depan adalah halaman
yang sedang menunggu untuk ditulis.
Kami pernah muda.
Kalian sedang muda.
Dan suatu hari nanti,
kalian akan menjadi kenangan bagi generasi berikutnya.
Maka sebelum waktu benar-benar berlalu,
tinggalkanlah sesuatu yang layak dikenang:
sebuah karya,
sebuah kebaikan,
sebuah pengabdian,
atau sekadar senyum
yang pernah membuat seseorang
merasa bahwa hidup ini masih indah.
Penutup
Malam Minggu boleh berganti cerita,
wajah-wajah boleh berganti generasi.
Namun kenangan tidak pernah benar-benar mati.
Ia tinggal diam
di sudut hati,
menunggu suatu ketika
untuk kembali mengetuk pintu ingatan.
Dan ketika pintu itu terbuka,
kita akan tersenyum…
“Oh, ternyata kita pernah semuda itu.”
Lalu kita melanjutkan langkah,
sebab hidup bukan tentang berapa lama kita berada di panggung,
tetapi seberapa berarti peran yang kita tinggalkan
ketika lampu panggung perlahan dipadamkan.
Salam Literasi : Syakhruddin Tagana.
