SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hari Ahad sering dimaknai sebagai hari untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, menata kembali pikiran, sekaligus melakukan introspeksi setelah melewati kesibukan selama sepekan.
Bagi seorang Muslim, Ahad bukan sekadar hari libur. Ia dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, bersilaturahmi dan menyusun kembali langkah menghadapi pekan yang baru.
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh pergantian waktu. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1–3,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
Pesannya sangat dekat dengan makna Ahad: waktu terus berjalan, usia terus berkurang, maka setiap hari seharusnya diisi dengan sesuatu yang bernilai.
Mengenang 25 Oktober dalam Sejarah;
Tanggal 25 Oktober menyimpan sejumlah catatan sejarah dunia. Pada 25 Oktober 1415, terjadi Pertempuran Agincourt yang menjadi kemenangan penting pasukan Inggris atas Prancis.
Pada 25 Oktober 1944, Jepang melancarkan serangan kamikaze pertama dalam Pertempuran Teluk Leyte. Kemudian pada 25 Oktober 1971, Majelis Umum PBB memilih Republik Rakyat Tiongkok untuk mewakili Tiongkok di PBB dan menggantikan perwakilan Taiwan.
Bagi Indonesia, tanggal ini juga memiliki kaitan penting dengan Pertempuran Surabaya 1945. Pada 25 Oktober 1945, sekitar 4.000 pasukan India yang berada di bawah komando Sekutu mendarat di Surabaya.
Kedatangan mereka pada awalnya ditujukan antara lain untuk mengevakuasi tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang, tetapi kemudian berkembang menjadi ketegangan dengan kekuatan Republik Indonesia yang mempertahankan kemerdekaan.
Maka Ahad, 25 Oktober 2026, dapat kita jadikan hari untuk berhenti sejenak, bukan berhenti dari kehidupan, tetapi berhenti untuk melihat kembali perjalanan.
Apa yang telah kita lakukan selama sepekan? Siapa yang telah kita bahagiakan? Adakah kata-kata kita melukai orang lain?
Dan apa yang dapat kita perbaiki sebelum memasuki pekan berikutnya? Sebab waktu tidak pernah berjalan mundur. Yang telah berlalu menjadi sejarah, sementara hari ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda: Ahad datang membawa ketenangan,
Jadikan waktu ruang perenungan.
Selagi umur masih diberi Tuhan,
Mari perbanyak amal dan kebaikan.
Menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026, peta politik negara itu semakin terbelah. Jajak pendapat menunjukkan blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum mampu memastikan mayoritas 61 kursi di Knesset yang memiliki 120 kursi.
Di sejumlah survei, kubu penantangnya, mantan kepala staf militer Gadi Eisenkot, bahkan berada di posisi lebih unggul. Namun persaingan masih sangat ketat karena hasil jajak pendapat berbeda-beda dan belum ada kubu yang benar-benar mampu membentuk pemerintahan tanpa dukungan partai lain.
Situasi tersebut membuat masa depan politik Netanyahu berada di persimpangan. Ia bahkan menyerukan agar partai-partai kecil sayap kanan tidak ikut bertarung jika berisiko gagal melewati ambang batas parlemen 3,25 persen, karena suara yang terpecah dapat merugikan bloknya.
Di sisi lain, tingginya partisipasi pemilih Arab Israel juga diperkirakan dapat memengaruhi kalkulasi pembentukan pemerintahan baru. Dengan demikian, pemilu kali ini bukan sekadar perebutan kursi parlemen, tetapi juga menjadi referendum politik terhadap kepemimpinan Netanyahu setelah gejolak keamanan dan perang Sejak 2023.
Menurut Muhammad Said Didu, pergantian sejumlah pejabat menjadi salah satu langkah yang perlu dipertimbangkan Presiden Prabowo Subianto apabila ingin meningkatkan kembali kepercayaan dan popularitas pemerintah.
Dalam pernyataannya, Said Didu menyebut lima posisi yang menurutnya perlu diganti, yakni Panglima TNI, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Menko Perekonomian atau Menteri Keuangan.
Ia menilai perubahan tersebut harus menyentuh persoalan yang dianggap menjadi sumber kekecewaan publik, bukan sekadar pergantian jabatan.
Pandangan Said Didu itu tentu merupakan pendapat dan penilaian politik pribadi, bukan keputusan resmi pemerintah. Ia mengaitkannya dengan kebutuhan melakukan evaluasi lebih mendalam terhadap kinerja kabinet dan memperbaiki kepercayaan masyarakat.
Menariknya, beberapa perubahan memang telah dilakukan pemerintahan Prabowo, termasuk pergantian Kapolri dan sejumlah pejabat, tetapi menurut Said Didu langkah tersebut belum cukup menghasilkan peningkatan popularitas yang diharapkan.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa memasuki tahun kedua pemerintahan, evaluasi kinerja menteri, efektivitas kebijakan, dan respons terhadap persoalan rakyat akan menjadi ukuran penting bagi citra pemerintahan Prabowo ke depan.
Sejumlah mantan tahanan yang ditangkap setelah demonstrasi pada Agustus 2025 kini menghadapi persoalan baru setelah bebas. Status sebagai eks tahanan membuat sebagian dari mereka kesulitan kembali mendapatkan pekerjaan.
Pengalaman ditahan dan stigma sosial menjadi beban tersendiri, sementara mereka harus kembali membangun kehidupan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan memulihkan kepercayaan lingkungan.
Bagi mereka, kebebasan dari balik jeruji ternyata belum otomatis berarti terbebas dari persoalan kehidupan.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa proses pemulihan seseorang tidak berhenti ketika pintu tahanan terbuka. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali bekerja, diterima di tengah masyarakat, serta memperoleh ruang untuk menata masa depan tanpa terus dibayangi masa lalu.
Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pandangan dan keberanian menyampaikan pendapat semestinya tidak serta-merta menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh hak dasar sebagai warga negara.
Yang diperlukan adalah keadilan, kesempatan kedua, dan masyarakat yang mampu melihat seseorang bukan hanya dari catatan masa lalunya, tetapi dari kemauan untuk bangkit dan memperbaiki kehidupan.
Ada berita yang membuat kita mengelus dada. Bukan karena jumlah uangnya fantastis, bukan pula karena persoalannya menyangkut harta miliaran rupiah. Hanya Rp1 juta.
Tetapi uang sebesar itu, menurut pengungkapan polisi, menjadi bagian dari latar belakang dendam yang berujung pada tawuran maut di Jalan Rajawali, Kecamatan Mariso, Makassar.
Khairil, pemuda berusia 22 tahun, akhirnya kehilangan nyawa. Bentrokan antara kelompok Rajawali Rusun dan Kokolojia berlangsung dengan batu, busur dan senjata tajam. Polisi kemudian menetapkan tujuh orang sebagai tersangka.
Di sinilah MoKa ingin berhenti sejenak. Rp1 juta itu bisa dicari.
Rp1 juta itu bisa diganti.
Rp1 juta itu bisa dibicarakan.
Rp1 juta itu bahkan bisa dilupakan.
Tetapi nyawa manusia? Tidak ada tombol “kembali”.
Inilah wajah paling mengerikan dari tawuran. Persoalan yang semestinya selesai di meja dialog, berubah menjadi perang di jalanan. Emosi mengalahkan akal sehat.
Harga diri yang salah tempat berubah menjadi dendam. Dendam melahirkan serangan. Dan serangan akhirnya menghadirkan kematian.
Yang lebih memprihatinkan, ketika senjata sudah berada di tangan, manusia sering lupa bahwa di balik setiap tubuh yang diserang ada seorang ibu yang menunggu anaknya pulang, ada seorang ayah yang berharap anaknya baik-baik saja, ada keluarga yang menggantungkan masa depan pada seorang pemuda.
Satu tebasan mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi dukanya dapat tinggal puluhan tahun.
Al-Qur’an telah mengingatkan kita:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.” (QS. Al-Isra: 33)
Pesannya jelas: nyawa manusia bukan barang tawar-menawar.
Karena itu, tawuran tidak boleh dianggap sebagai kenakalan biasa. Ketika busur, parang, samurai dan senjata lainnya sudah digunakan, persoalannya telah berubah menjadi ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat.
Dan kepada para orang tua, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan:
Ketika anak kita keluar rumah pukul 01.00 atau 02.00 dini hari, sedang bersama siapa dia? Ke mana dia pergi? Dan apa yang dibawanya?
Pertanyaan sederhana itu mungkin terasa mengganggu. Tetapi lebih baik orang tua sedikit cerewet malam ini, daripada menangis di pemakaman anaknya esok hari.
Kita tidak sedang mencari siapa yang paling gagah di jalanan.
Kita sedang mencari cara agar anak-anak Makassar tetap hidup, tetap belajar, tetap bekerja, dan tetap punya masa depan.
Sebab keberanian bukanlah berani membawa parang.
Keberanian yang sesungguhnya adalah mampu menahan tangan ketika emosi memuncak.
Dan jangan sampai kelak kita hanya bisa berkata:
“Seandainya malam itu kami memilih berdamai…”
Karena kata seandainya tidak pernah mampu menghidupkan orang yang sudah pergi. Rp1 juta dapat diganti. Kehormatan dapat dibicarakan. Perselisihan dapat dimediasi. Tetapi satu nyawa yang hilang—tidak akan pernah kembali.
Itulah pelajaran paling mahal dari Tawuran Maut Rp1 Juta.
Penutup MoKa
Pembaca setia MoKa, mari kita jadikan tragedi ini sebagai cermin. Jangan biarkan anak-anak muda kita mewarisi budaya saling serang. Mereka harus mewarisi pendidikan, pekerjaan, kreativitas, persahabatan dan masa depan.
Makassar adalah kota kita bersama. Jalan-jalannya bukan arena perang. Kampung-kampungnya bukan medan pertempuran. Dan anak-anak mudanya bukan tumbal emosi, Salamaki.