SYAKHRUDDINNEWS.COM – Jumat adalah hari Jumu’ah, hari berkumpulnya umat Islam untuk menunaikan salat Jumat, mendengarkan khutbah, memperbanyak doa, dan mengingat kebesaran Allah. Al-Qur’an secara khusus mengabadikan pesan tentang Jumat dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9:
Maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
Pesan ayat ini sangat relevan untuk Jumat, 23 Oktober 2026. Di tengah kesibukan mencari nafkah, mengejar pekerjaan dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan, Allah mengingatkan bahwa ada saatnya urusan dunia ditinggalkan sementara untuk memenuhi panggilan-Nya.
Menariknya, ayat berikutnya, QS. Al-Jumu’ah ayat 10, memberikan keseimbangan: setelah salat Jumat selesai, manusia dipersilakan kembali bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah, sambil tetap memperbanyak mengingat-Nya.
Jumat bukan sekadar pergantian hari. Ia adalah kesempatan untuk melakukan “reset” spiritual: membersihkan hati, memohon ampun, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan meneguhkan kembali bahwa rezeki yang kita kejar berasal dari Allah.
Tanggal 23 Oktober juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dunia. Pada 23 Oktober 1942, berlangsung fase penting Pertempuran El Alamein dalam Perang Dunia II. Pada 23 Oktober 1956, pecah pemberontakan di Hungaria terhadap pemerintahan yang didukung Uni Soviet.
Kemudian pada 23 Oktober 1983, terjadi pemboman barak Marinir Amerika Serikat di Beirut, Lebanon, yang menewaskan 241 personel Amerika dan 58 penerjun payung Prancis. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi besar yang dikenang dalam sejarah konflik Timur Tengah.
Sementara dalam sejarah teknologi, 23 Oktober 2001 menjadi tanggal penting karena Apple memperkenalkan iPod, sebuah produk yang kemudian sangat berpengaruh terhadap perkembangan industri musik digital.
Catatan sejarah itu mengajarkan sesuatu: satu tanggal dapat menyimpan kisah peperangan, tragedi, perjuangan, sekaligus inovasi. Karena itu, setiap tanggal yang kita lewati sesungguhnya adalah halaman baru dalam perjalanan kehidupan.
Dua buah pantun pembuka; Pergi ke pasar membeli kurma, Singgah sebentar membeli delima. Jumat tiba mengetuk sukma, Mari beribadah mendekatkan diri kepada-Nya.
Burung merpati terbang beriring, Hinggap sebentar di atas dahan. Jumat datang hati bening, Semoga hidup penuh keberkahan.
Semoga Jumat ini membawa ketenangan bagi hati, kesehatan bagi tubuh, keberkahan bagi keluarga, dan kelapangan rezeki bagi kita semua. Aamiin.
Sebuah serangan kelompok Houthi dari Yaman yang semakin intensif terhadap Arab Saudi membuat Amerika Serikat mengambil langkah pengamanan serius. Departemen Luar Negeri AS memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat dan anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi, menyusul serangkaian serangan yang menyasar bandara sipil serta infrastruktur penting.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan Teluk dinilai semakin berisiko, terlebih serangan terhadap fasilitas transportasi dan energi telah menimbulkan korban jiwa serta mengganggu perjalanan udara.
Langkah Washington tersebut menjadi sinyal kuat bahwa konflik Houthi-Saudi telah memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Dalam perkembangan terbaru, serangan drone juga dilaporkan menyebabkan korban di sekitar ladang minyak Shaybah, sementara serangan terhadap Bandara King Fahd di Dammam menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.
Di tengah ketegangan yang meluas di Timur Tengah, penarikan staf diplomatik bukan sekadar persoalan administrasi, tetapi mencerminkan kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi yang lebih besar dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan serta jalur energi dunia.
Sementara itu, Anggota Parlemen Malaysia, Kalam Salan, menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik mengenai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dengan menggunakan bahasa Jawa dalam sidang Dewan Rakyat.
Ia meminta Presiden Prabowo Subianto segera menangani karhutla yang dampaknya dirasakan lintas batas, mulai dari gangguan pernapasan, sekolah yang terganggu, pariwisata hingga aktivitas pekerja perkebunan.
Menariknya, Kalam menegaskan bahwa pekerja Indonesia di Malaysia juga ikut terdampak karena kabut asap menghambat mereka bekerja dan memperoleh penghasilan.
Dalam pesannya, Kalam meminta agar persoalan kabut asap tidak dijadikan bahan lelucon. Dengan bahasa Jawa ia menyampaikan, “Pak Prabowo, tolong masalah iki enggal ditangani. Kobongan alas kudu dipateni” meminta kebakaran segera dipadamkan dan tidak berulang setiap tahun.
Ia juga menyindir anggapan bahwa hutan Indonesia memasok oksigen bagi Malaysia. Di balik kritik yang cukup tajam itu, terselip pesan penting:
Karhutla dan kabut asap bukan sekadar persoalan Indonesia atau Malaysia, melainkan persoalan kemanusiaan dan lingkungan yang membutuhkan kerja sama regional.
Setelah Hari Santri berlalu, yang semestinya tidak ikut berlalu adalah nilai-nilai kesantrian: kecintaan kepada ilmu, penghormatan kepada guru, keteguhan dalam beribadah, kesederhanaan dalam kehidupan, serta semangat mengabdi kepada masyarakat dan bangsa.
Hari Santri bukan sekadar peringatan tahunan dengan upacara, sarung dan peci, tetapi momentum untuk mengingat bahwa santri telah mewariskan sejarah perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan.
Dari pesantren lahir manusia-manusia yang mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak, dan keberanian harus berpijak pada iman.
Karena itu, warisan terbesar Hari Santri adalah karakter—generasi yang berilmu tetapi tetap rendah hati, beragama tetapi menghargai perbedaan, serta memiliki kepedulian terhadap sesama.
Setelah peringatannya selesai, mari kita bawa semangat itu ke rumah, masjid, kampus, tempat kerja dan tengah masyarakat. Sebab ukuran keberhasilan Hari Santri bukan pada meriahnya acara, melainkan pada seberapa jauh nilai santri hidup dalam perilaku kita sehari-hari.
Selanjutnya Antara Prestasi dan Tantangan Anak Muda; Makassar hari ini memperlihatkan wajah yang menarik: di satu sisi menorehkan prestasi, di sisi lain masih menghadapi pekerjaan rumah sosial.
Penghargaan Terbaik I Jamsostek Award Sulsel 2026 melalui program Makassar Berjasa yang disebut telah memberikan perlindungan kepada sekitar 81.000 pekerja rentan dan pekerja keagamaan, menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat terus bergerak.
Prestasi ini tentu patut diapresiasi, sebab kota yang maju bukan hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari keberpihakannya kepada mereka yang membutuhkan perlindungan.
Namun, di balik capaian tersebut, persoalan tawuran dan geng motor masih menjadi tantangan yang tidak boleh dianggap ringan. Dorongan agar orang tua lebih aktif mencegah anak terlibat tawuran mengingatkan kita bahwa pendidikan karakter tidak cukup diserahkan kepada sekolah dan aparat.
Keluarga adalah benteng pertama, masyarakat adalah lingkungan pembentuk, dan pemerintah bersama sekolah menjadi penguatnya.
Makassar boleh semakin maju, tetapi anak mudanya jangan sampai kehilangan arah. Sebab masa depan kota ini tidak hanya dibangun dengan gedung dan jalan, melainkan oleh generasi muda yang berilmu, berkarakter, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Pembaca setia MoKa, Sampai di sini dulu jumpa kita hari ini. Mozaik Kehidupan akan kembali hadir esok hari, membawa aneka informasi, catatan peristiwa, dan renungan yang layak Anda ketahui.
Setiap lembar kehidupan selalu menyimpan cerita, dan kami berusaha merangkainya menjadi catatan sederhana yang mudah dibaca, namun semoga tetap bermakna.
Andaikata ada keinginan untuk menyampaikan saran, pendapat, koreksi, ataupun sekadar berbagi cerita, jangan segan menghubungi kami melalui jaringan WhatsApp 081 2424 5938.
Masukan Anda adalah energi bagi kami untuk terus menulis, terus belajar, dan terus mengabadikan denyut kehidupan sepanjang hayat.
Sebuah pantun penutup: Pergi ke pasar membeli ketupat, Singgah sebentar membeli jamu. Menulis adalah jejak yang melekat, Menjadi warisan sepanjang waktu.