SYAKHRUDDINNEWS.COM – Rabu, 21 Oktober 2026, hadir sebagai pertengahan perjalanan dalam pekan. Ia mengingatkan kita bahwa hidup pun demikian: tidak selamanya berada di awal, tetapi waktu terus bergerak menuju penghujung.
Karena itu, Rabu dapat kita maknai sebagai hari untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang sudah ditempuh, lalu memperbaiki langkah yang masih kurang.
Dalam kehidupan seorang Muslim, tidak ada hari yang dianggap membawa keberuntungan atau kesialan secara khusus. Semua hari adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk berbuat baik.
Al-Qur’an bahkan mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian apabila waktunya tidak diisi dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.”
Pesannya sangat dalam: yang menentukan nilai sebuah hari bukan nama harinya, melainkan apa yang kita kerjakan di dalamnya. Rabu boleh menjadi hari biasa dalam kalender, tetapi dapat menjadi hari luar biasa jika diisi dengan kebaikan.
Catatan Sejarah; Tanggal 21 Oktober menyimpan sejumlah peristiwa penting dunia. Pada 21 Oktober 1805 terjadi Pertempuran Trafalgar, salah satu pertempuran laut penting dalam sejarah Eropa.
Pada 21 Oktober 1879, Thomas Edison berhasil menyempurnakan lampu listrik yang dapat bekerja secara praktis, sebuah tonggak penting dalam perkembangan teknologi penerangan
Namun tanggal ini juga menyimpan catatan kelam. Pada 21 Oktober 1966, bencana longsor limbah tambang di Aberfan, Wales, menewaskan 144 orang, termasuk 116 anak-anak.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan pengelolaan lingkungan selalu membutuhkan kehati-hatian serta tanggung jawab manusia.
Maka, Rabu 21 Oktober 2026 bukan sekadar angka pada kalender. Ia adalah ruang untuk belajar dari masa lalu, memperbaiki hari ini, dan menyiapkan masa depan. Sebab waktu tidak pernah kembali mengetuk pintu yang sama. Hari ini adalah kesempatan; esok adalah harapan.
Pantun pembuka:
Pergi ke pasar membeli kurma,
Singgah sebentar membeli delima.
Rabu datang menyapa kita,
Mari melangkah penuh makna.
Anies Baswedan dan Anugerah dari London; Ada kalanya sebuah penghargaan bukan sekadar medali atau piagam, melainkan sebuah catatan kecil yang menandai perjalanan panjang seseorang dalam mengabdi kepada masyarakat.
Itulah yang kini mengiringi nama Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta, setelah menerima Freedom of the City of London dalam sebuah upacara khidmat di Guildhall, London.
Penghargaan tersebut memiliki sejarah panjang. Tradisi Freedom of the City of London telah tercatat sejak tahun 1237. Dahulu, status ini berkaitan dengan hak warga untuk berdagang di Kota London.
Menariknya, Anies tidak memandang penghargaan itu semata-mata sebagai penghormatan pribadi. Ia mengaitkannya dengan kerja bersama selama menjalankan amanah di Jakarta serta berharap penghargaan tersebut menjadi jembatan bagi pertukaran pengetahuan dan penguatan hubungan antara Indonesia dan Inggris, khususnya melalui kerja sama antarkota.
Pada akhirnya, penghargaan bukanlah garis akhir sebuah perjalanan. Ia justru menjadi pertanyaan baru: setelah nama disebut, setelah tepuk tangan usai, apa yang akan dilakukan berikutnya? Sebab seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena penghargaan yang diterimanya, tetapi terutama karena gagasan, keberanian, dan manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat. Dari Jakarta menuju London, sebuah nama Indonesia kembali disebut di panggung dunia.
Sementara itu, Dua tahun bukan waktu yang singkat. Dua tahun cukup untuk melihat janji mulai menjelma kenyataan atau justru menyisakan pertanyaan.
Tetapi hari ini, sebelum menghitung gedung yang berdiri dan program yang diluncurkan, mari kita bertanya pada sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan: udara yang kita hirup.
Sebab ketika langit mulai kelabu oleh asap, ketika hutan terbakar dan bau hangus menyelinap ke permukiman, rakyat tidak lagi bertanya tentang teori pembangunan. Mereka bertanya sederhana: “Apakah hari ini kita masih bisa menghirup udara dengan tenang?”
Dua tahun sudah pemerintahan berjalan. Apa yang sebenarnya paling dirasakan rakyat?
Pertanyaan ini tak selalu harus dijawab dengan angka pertumbuhan, deretan program, atau pidato keberhasilan. Sebab rakyat merasakan pembangunan dari hal yang paling sederhana: apakah hidup menjadi lebih mudah, aman, sehat, dan nyaman.
Ketika hutan terbakar, yang terkena bukan hanya pemerintah atau pemilik lahan. Anak-anak, lansia, pedagang kaki lima, pengemudi, mahasiswa, dan keluarga di rumah ikut menghirup dampaknya.
Hutan yang terbakar bukan sekadar statistik; ia adalah paru-paru yang terluka. Dan asap yang masuk ke kota adalah pesan keras bahwa pembangunan belum boleh berhenti pada angka—ia harus sampai pada kualitas kehidupan.
Maka, dua tahun pemerintahan semestinya bukan hanya tentang apa yang telah dibangun, tetapi juga tentang apa yang berhasil dilindungi.
Rakyat tidak menuntut langit tanpa awan dan dunia tanpa persoalan. Mereka hanya ingin hutan yang tidak mudah terbakar, udara yang tidak menyesakkan, dan masa depan yang tidak diselimuti asap.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya ketika rakyat mampu melihat kemajuan, tetapi ketika rakyat mampu menghirupnya.
Di Kota Makassar kembali dihadapkan pada persoalan geng motor dan tawuran yang meresahkan. Kapolda Sulsel Irjen Pol. M. Awal Chairuddin menegaskan, polisi akan menindak tegas pelaku kekerasan jalanan, termasuk melakukan razia terhadap pembuat dan penjual anak panah.
Namun di tengah ketegasan itu, ada pesan yang jauh lebih penting: keamanan kota bukan hanya tugas polisi. Orang tua, keluarga, tetangga dan lingkungan harus ikut mengawasi anak-anak agar tidak terjerumus dalam lingkaran kekerasan.
Yang juga perlu dicermati adalah beredarnya video viral tentang korban tawuran di Jalan Rajawali yang dinyatakan hoaks. Di sinilah kita belajar: jangan mudah percaya, jangan ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Kepada para orang tua, mari lebih dekat dengan anak-anak kita; kepada generasi muda, jangan biarkan masa depan dipertaruhkan hanya karena keberanian sesaat.
Lorong seharusnya menjadi tempat bermain, bercanda dan bersosialisasi bukan berubah menjadi arena perang. Polisi dapat menindak, tetapi keluarga dan masyarakatlah yang dapat mencegah sejak awal.
Diisi lain, kerja sama Universitas Muhammadiyah Makassar dengan Kanwil Ditjenpas Sulawesi Selatan hari ini membuka ruang baru bagi pendidikan untuk menyentuh persoalan kemanusiaan secara lebih nyata.
Bukan sekadar menandatangani dokumen kerja sama, tetapi menghadirkan peluang pendidikan, penelitian, magang, KKN hingga pengabdian masyarakat di lingkungan pemasyarakatan.
Kampus tidak lagi hanya menjadi tempat menimba teori, tetapi juga ruang untuk belajar memahami kehidupan, termasuk mereka yang sedang menjalani proses pembinaan.
Inilah napas positif yang patut dicatat MoKa: pendidikan harus turun dari ruang kuliah menuju persoalan nyata masyarakat. Mahasiswa perlu melihat bahwa di balik tembok pemasyarakatan ada manusia yang membutuhkan pendampingan, pengetahuan, kesempatan dan harapan untuk kembali menata kehidupan.
Ketika kampus dan dunia pemasyarakatan bergandengan tangan, ilmu pengetahuan menemukan makna sosialnya—bukan hanya mencetak sarjana, tetapi ikut menghadirkan perubahan dan kemanusiaan.
Selanjutnya BEM UI menggelar aksi memperingati dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di kawasan Tugu Tani, Jakarta, Selasa 20 Oktober 2026.
Aksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan evaluasi terhadap perjalanan pemerintahan selama dua tahun terakhir. Dalam aksi itu, massa juga mengangkat tiga jari sebagai simbol yang menjadi bagian dari ekspresi tuntutan mereka.
Dua tahun pemerintahan bukan sekadar angka dalam kalender kekuasaan, tetapi momentum untuk bertanya: sejauh mana janji politik telah menjelma menjadi kesejahteraan yang benar-benar dirasakan rakyat?
Dari Tugu Tani, suara mahasiswa kembali mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan ruang kritik, sementara pemerintah dituntut menjawabnya dengan kebijakan dan kerja nyata. Aksi ini menjadi cermin bahwa di tengah perjalanan pemerintahan, suara generasi muda masih ingin didengar.
Ketika Paradigma Bertemu Al-Qur’an, Ilmu Tak Boleh Berhenti Berpikir; Ruang H. Amir Said Lantai I FDK UIN Alauddin Makassar seakan berubah menjadi ruang pertarungan gagasan.
Prof. Dr. Abd. Rasyid Masri tampil sebagai keynote speaker, mengupas teori-teori sosial dan beragam paradigma keilmuan sosial dalam bedah buku “Konstruksi Paradigma dalam Bimbingan Islam Berbasis Al-Qur’an”, karya Dr. Ilham Hamid, M.Pd.
Gagasan itu kemudian dipertajam oleh Prof. Dr. Abdullah Sinring, yang pernah menjadi Dekan FIP UNM. Mahasiswa, dosen hingga guru besar FDK menyimak dengan perhatian.
Sebab yang sedang dibedah bukan sekadar sebuah buku, tetapi cara manusia memandang ilmu, memahami manusia, dan menempatkan Al-Qur’an sebagai pijakan dalam membangun bimbingan Islam.
Acara berlangsung tertib dan penuh nuansa akademik. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qariah Arifah, S.Pi, membuka kegiatan, sementara Dr. Arham Selo tampil sebagai moderator sekaligus protokol.
Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan penyerahan buku kepada para tamu undangan.
Di ruang lain, Rektor UIN Alauddin Makassar menerima kunjungan Ibu Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arief. Dua agenda berbeda, tetapi bertemu dalam satu pesan: kampus tidak boleh hanya melahirkan sarjana yang pandai berbicara tentang ilmu; kampus harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan ilmu untuk membaca zaman dan sebuah pantun penutup untuk Anda;
Buku dibuka, pikiran bergerak, ayat dibaca, hati pun tersentak. Jika paradigma hanya menjadi teori, untuk apa ilmu hadir di bumi?
Sampai di sini dahulu jumpa kita. Setiap pertemuan tentu memiliki jeda, tetapi cerita tidak pernah benar-benar selesai.
MoKa akan kembali hadir esok hari, menyapa Anda melalui gawai dalam genggaman, membawa serpihan kabar, renungan, dan warna kehidupan yang kita jalani bersama.
Teruslah berkarya, jangan pernah lelah menebar kebaikan. Dan yang tak kalah penting, jaga kesehatan, sebab kesehatan adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Tanpa kesehatan, banyak hal terasa kehilangan makna.
Terima kasih atas perhatian, waktu, dan kesetiaan Anda menjadi pembaca MoKa. Semoga sukses selalu menyertai langkah kita, hari ini, esok, dan seterusnya.
Karena MoKa bukan sekadar tulisan yang hadir setiap hari, tetapi sebuah sapaan kecil yang ingin tetap setia mengetuk pintu hati Anda, Wassalam !
1 thought on “Mozaik Kehidupan Edisi Rabu 21 Oktober 2026”
Ada stereotif di masyarakat bahwa Lembaga apapun yg dibangun dilingkungan masyarakat dimasa sekarang ini, pasti tidak ada manfaatnya bagi masyarakat sekitar, termasuk didalamnya lembaga-lembaga Keagamaan. Apakah termasuk UIN Alaudin Makasar ?
Ada stereotif di masyarakat bahwa Lembaga apapun yg dibangun dilingkungan masyarakat dimasa sekarang ini, pasti tidak ada manfaatnya bagi masyarakat sekitar, termasuk didalamnya lembaga-lembaga Keagamaan. Apakah termasuk UIN Alaudin Makasar ?