SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan yang budiman, Ahad, 18 Oktober 2026, kembali menyapa kita. Hari Ahad bukan sekadar penanda berakhirnya satu pekan, tetapi kesempatan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan, melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, sekaligus menyiapkan langkah untuk hari-hari yang akan datang.
Dalam kehidupan, manusia sering terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki, sampai lupa mensyukuri apa yang sudah berada dalam genggaman. Padahal setiap pagi yang masih mempertemukan kita dengan matahari adalah anugerah.
Setiap napas adalah kesempatan. Setiap pertemuan adalah amanah. Dan setiap hari yang berlalu sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada perjalanan akhir kehidupan.
Al-Qur’an memberikan pesan yang sangat dalam dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok…”
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak menjalani hidup secara sembarangan. Ada ajakan untuk melakukan introspeksi:
Apa yang sudah kita lakukan, apa manfaat yang telah kita berikan kepada sesama, dan bekal apa yang sedang kita siapkan untuk kehidupan yang lebih panjang, yakni kehidupan akhirat. Maka Ahad menjadi momentum yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah hidup kita memberi arti?
Sudahkah kata-kata kita menenangkan orang lain? Sudahkah tangan kita membantu mereka yang membutuhkan? Dan sudahkah hari-hari yang kita lalui mendekatkan kita kepada Allah SWT?
Lintasan Sejarah; Tanggal 18 Oktober juga menyimpan sejumlah catatan sejarah dunia. Pada 18 Oktober 1867, Amerika Serikat secara resmi mengambil alih Alaska dari Rusia.
Pada 18 Oktober 1954, Texas Instruments memperkenalkan Regency TR-1, salah satu radio transistor komersial pertama. Pada 18 Oktober 1968, atlet Amerika Bob Beamon mencatat rekor dunia lompat jauh yang fenomenal di Olimpiade Meksiko.
Sementara itu, pada 18 Oktober 2019, astronaut NASA Christina Koch dan Jessica Meir melakukan perjalanan luar angkasa yang menjadi tonggak sejarah sebagai spacewalk pertama yang seluruh anggotanya perempuan.
Sejarah mengajarkan satu hal penting: waktu tidak pernah berhenti. Apa yang hari ini menjadi peristiwa, besok berubah menjadi sejarah.
Karena itu, hidup kita pun suatu ketika akan menjadi bagian dari cerita masa lalu. Pertanyaannya, cerita seperti apa yang ingin kita tinggalkan?
Pembaca setia MoKa, jangan takut bila perjalanan hidup terasa lambat. Tidak semua keberhasilan harus datang dengan tepuk tangan. Ada perjuangan yang cukup diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT.
Mari menjadikan Ahad sebagai hari memperbaiki niat, memperkuat silaturahmi, memperbanyak syukur, dan memperindah amal. Sebab pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau panjangnya daftar prestasi. Yang menemani kita adalah amal dan kebaikan yang pernah kita tanam.
Sebuah Pantun Pembuka untuk Anda; Pergi pagi memetik melati,
Harumnya semerbak di halaman.
Ahad datang menyejukkan hati,
Mari menata bekal kehidupan.
Selanjutnya Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, resmi melantik Pengurus Harian PWI Sulsel periode 2026–2031 di Ballroom Sandeq, Hotel Claro Makassar, Sabtu, 17 Oktober 2026, dengan Suwardi Thahir sebagai ketua terpilih secara aklamasi dalam Konferprov PWI Sulsel, 2 Juni 2026.
Pelantikan ini bukan sekadar pergantian kepengurusan, tetapi menjadi penanda sebuah amanah untuk menjaga marwah organisasi dan kehormatan profesi jurnalistik.
Di hadapan para pejabat daerah, pimpinan media, organisasi pers, serta pengurus PWI kabupaten dan kota se-Sulsel, Suwardi menegaskan tekad menjadikan PWI sebagai rumah bersama bagi wartawan, rumah yang solid, inklusif, profesional, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kode etik jurnalistik.
Pendidikan, peningkatan kompetensi, regenerasi wartawan muda, kesejahteraan anggota, hingga pembelaan hukum bagi wartawan menjadi bagian dari agenda yang hendak diperkuat.
Kini tantangan pers bukan lagi sekadar bagaimana berita sampai lebih cepat kepada masyarakat, tetapi bagaimana informasi itu tetap benar, berimbang, terverifikasi, dan bertanggung jawab di tengah derasnya arus digital.
Karena itu, kepengurusan PWI Sulsel 2026–2031 memiliki pekerjaan besar: merawat kebersamaan internal sekaligus mengembalikan kepercayaan publik melalui karya jurnalistik yang bermutu.
Penganugerahan PWI Sulsel Award dalam rangkaian pelantikan menjadi simbol bahwa pers juga perlu membangun jembatan apresiasi dan kemitraan dengan tokoh masyarakat, pemerintah, serta berbagai elemen pembangunan daerah.
Bersamaan dengan itu, pengurus IKWI Sulsel periode 2026–2031 turut dilantik. Lima tahun ke depan akan menjadi perjalanan untuk membuktikan bahwa di tengah perubahan zaman, pers tetap memiliki satu kompas: kebenaran, independensi, profesionalisme, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Sebab, ketika teknologi boleh berubah dan platform pemberitaan terus berganti, marwah pers tidak boleh kehilangan arah.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai sorotan setelah menjadikan nama “Mohammad” sebagai bahan lelucon dalam pidato kampanyenya di Dalton, Georgia.
Saat membahas Iran dan jabatan presiden negara tersebut, Trump mengatakan bahwa jika seseorang tidak mengetahui nama orang dari Timur Tengah, cukup memanggilnya “Mohammad” karena menurutnya memiliki peluang sekitar 65 persen untuk benar.
Lelucon itu kemudian diarahkan pada jabatan Presiden Iran, sementara reaksi massa di lokasi disebut relatif dingin. Nama Mohammad sendiri merupakan salah satu nama laki-laki yang sangat umum di kalangan Muslim karena berkaitan dengan nama Nabi Muhammad SAW.
Pernyataan Trump pun mendapat kritik dari kelompok pembela hak Muslim yang menilai candaan tersebut tidak pantas karena menyentuh identitas keagamaan dan berpotensi memperkuat stereotip terhadap umat Islam.
Akhirnya Anyox; sebuah kota terpencil di British Columbia, Kanada, pernah menjadi kawasan yang ramai berkat aktivitas pertambangan tembaga, perak, dan emas; pada masa kejayaannya sekitar 1910-an, kota ini dihuni hingga 3.000 orang, lengkap dengan pertokoan, rumah sakit, pelabuhan, jalan dan fasilitas pendukung kehidupan masyarakat.
Namun kejayaan itu berakhir ketika harga tembaga jatuh pada 1935, membuat tambang ditutup dan para pekerja kehilangan mata pencaharian hingga penduduk berangsur-angsur meninggalkan kota.
Puncaknya, kebakaran besar pada 1946 menghancurkan sebagian besar kawasan, menyisakan struktur beton dan baja yang kini menjadi saksi bisu sebuah kota yang pernah hidup dan kemudian berubah menjadi kota hantu.
Kisah Anyox seakan mengingatkan kita bahwa kekayaan alam memang mampu membangun sebuah peradaban, tetapi ketika sumber kehidupan berhenti, sebuah kota pun dapat kehilangan denyut nadinya.
DIsisi lain, Wacana baru kembali mengemuka. Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan bahwa rencana penyaluran gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) ditargetkan mulai direalisasikan tahun 2026. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu, 14 Oktober 2026, setelah usulan tersebut diajukan kepada Kementerian Keuangan.
Pemerintah ingin memperluas fungsi KDKMP, bukan hanya sebagai wadah kegiatan ekonomi masyarakat desa dan kelurahan, tetapi juga sebagai bagian dari layanan keuangan, dengan menggandeng mitra seperti PT Pos Indonesia, BRIlink dan penyedia layanan lainnya.
Namun, ada satu hal yang perlu diklarifikasi agar masyarakat tidak salah memahami berita. Sampai saat ini, pernyataan Menteri Koperasi lebih tepat disebut sebagai rencana kebijakan yang sedang dipersiapkan, bukan berarti gaji seluruh PNS sudah otomatis berpindah dari bank ke koperasi.
Pemerintah memang menyebut usulan telah diajukan dan anggaran sedang disiapkan, tetapi mekanisme teknis, tahapan pelaksanaan, serta kapan tepatnya pembayaran melalui KDKMP dilakukan belum dijelaskan secara terperinci. Jadi, bagi para PNS, belum perlu panik atau mengubah rekening pembayaran gaji sebelum ada ketentuan resmi dan petunjuk teknis dari pemerintah.
Pada akhirnya, gagasan tersebut tentu menarik untuk dikaji. Jika dilaksanakan dengan sistem yang transparan, aman, efisien dan tidak mengganggu hak ASN menerima gaji tepat waktu, KDKMP dapat memperoleh ruang baru dalam memperkuat ekonomi desa dan kelurahan.
Tetapi karena menyangkut jutaan aparatur dan sistem keuangan negara, pelaksanaannya harus benar-benar memiliki dasar hukum, mekanisme pengawasan serta jaminan keamanan transaksi. Rencana boleh berjalan, tetapi kepastian aturan harus menjadi panglima. Sebab gaji adalah hak, bukan sekadar angka dalam sebuah kebijakan.
Waspadalah, di tengah pesatnya transaksi digital, pelaku UMKM kini harus semakin waspada karena penipuan dapat datang dengan wajah yang tampak meyakinkan, mulai dari bukti transfer palsu, tautan yang mengatasnamakan layanan keuangan, hingga permintaan kode OTP.
Modus semacam ini bukan hanya dapat menguras hasil usaha, tetapi juga mengganggu keuangan keluarga.
Karena itu, kecakapan digital harus berjalan seiring dengan kemajuan teknologi: jangan mudah percaya, jangan sembarang klik tautan, jangan pernah memberikan OTP, PIN, atau kata sandi, dan selalu periksa kembali setiap transaksi sebelum mengambil keputusan.
Bagi pelaku UMKM, kewaspadaan bukan lagi pilihan, melainkan bagian dari menjaga keberlangsungan usaha di tengah derasnya arus ekonomi digital.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa), sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Insyaallah, esok pagi kita kembali bersua dalam lembaran penanggalan Senin, 19 Oktober 2026, dengan semangat baru dan energi yang lebih penuh setelah sejenak beristirahat.
Semoga Ahad yang indah ini menjadi ruang untuk menenangkan hati, menghangatkan kebersamaan, dan menikmati waktu bersama keluarga tercinta.
Selamat menjalani hari, semoga segala urusan dimudahkan, kesehatan menyertai, dan kesuksesan selalu berada di sisi kita. Salam takzim dari MoKa, sampai jumpa esok pagi.
Pantun Penutup: Transaksi digital makin menjamur, Penipu pun semakin merajalela. Bijak bermedia, jangan mudah tergiur, Jaga data pribadi, selamatkan harta.