SYAKHRUDDINNEWS.COM – Sabtu subuh, 17 Oktober 2026, suasana di Masjid Besar Al-Abrar Makassar terasa berbeda. Jamaah bukan hanya mendapatkan siraman rohani, tetapi juga menerima kabar langsung dari pucuk pimpinan Kepolisian Resor Kota Besar Makassar.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol. Arya Perdana, S.H., S.I.K., M.Si., bersama jajaran, hadir dalam rangkaian Safari Kamtibmas, menyapa jamaah sekaligus menyampaikan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat di Kota Makassar.
Dalam paparannya, Kombes Arya menegaskan bahwa secara umum situasi Kamtibmas di Kota Makassar masih terkendali. Namun, ada fenomena yang patut mendapat perhatian bersama: meningkatnya aksi yang melibatkan anak-anak usia sekitar 12 hingga 17 tahun.
Polisi, kata dia, beberapa kali mengamankan kelompok anak di bawah umur, mulai dari sekitar lima hingga puluhan orang, bahkan di antaranya kedapatan membawa senjata tajam dan menggunakan busur.
Yang membuat persoalan ini terasa miris, ternyata sebagian aksi tersebut bukan berawal dari permusuhan yang mendalam. Mereka berkomunikasi melalui WhatsApp, saling menantang, kemudian menentukan lokasi dan waktu pertemuan.
“Saya akan menyerang Anda.” “Siap!” “Berapa kekuatanmu?” “Tiga puluh orang!” “Oke, kita bertemu di Ujung Pettarani pukul 02.00 dini hari.”
Begitulah gambaran percakapan yang berhasil ditemukan aparat. Tetapi di balik percakapan yang terdengar menegangkan itu, terdapat ironi yang lebih besar.
Sebagian dari mereka sebenarnya saling mengenal bahkan berteman. Provokasi dilakukan demi membuat konten, melakukan siaran langsung di TikTok, mencari perhatian, lalu mempertontonkan keberanian di dunia maya.
Dunia digital yang semestinya menjadi ruang kreativitas justru berubah menjadi panggung adu nyali. Di sinilah persoalannya menjadi serius.
Ketika jempol lebih cepat daripada pikiran, ketika kamera lebih penting daripada keselamatan, dan ketika konten dianggap lebih berharga daripada masa depan.
Kombes Arya juga menggambarkan besarnya tantangan kepolisian di Kota Makassar. Sekitar 1.753 personel Polrestabes Makassar harus membawahi wilayah dengan 155 kelurahan dan ribuan RW, menghadapi beragam persoalan masyarakat yang terus berkembang.
Mulai dari game online, narkoba, judi online, hingga berbagai bentuk kenakalan dan gangguan Kamtibmas lainnya. Karena itu, menjaga keamanan kota bukan semata-mata tugas polisi.
Anak-anak tidak lahir untuk menjadi pelaku kejahatan. Mereka tumbuh dari rumah, lingkungan, sekolah, pergaulan dan dunia digital yang setiap hari mereka konsumsi.
Maka keluarga menjadi benteng pertama. Sekolah menjadi pagar berikutnya. Masyarakat menjadi mata dan telinga. Sementara polisi hadir sebagai pelindung sekaligus penegak hukum.
Kapolrestabes juga mengakui bahwa dari ratusan ribu warga Makassar, tentu tidak semuanya dapat luput dari persoalan hukum.
Ada yang tersentuh narkoba, judi online dan berbagai bentuk pelanggaran lainnya. Karena itu, pembenahan bukan hanya dilakukan keluar, tetapi juga ke dalam tubuh institusi kepolisian sendiri.
Pesan ini penting: penegakan hukum harus dimulai dari keteladanan.
Usai penyampaian Kapolrestabes Makassar, kegiatan dilanjutkan dengan ceramah singkat oleh Ustaz Dr. H. Azhar Tamanggong, S.Ag., M.Pd.I. Suasana kemudian mencair. Tidak ada lagi sekat antara aparat dan jamaah.
Pagi itu, di Lantai II Masjid Besar Al-Abrar, polisi dan masyarakat duduk bersama. Kamera mengabadikan kebersamaan melalui foto bersama, lalu suasana semakin akrab ketika jamaah dan jajaran kepolisian menikmati sarapan nasi kuning bersama.
Sederhana memang. Tetapi dari nasi kuning itu ada sebuah pesan besar: Kamtibmas tidak hanya dibangun dengan sirene, patroli dan penangkapan. Kamtibmas juga lahir dari silaturahmi, komunikasi dan rasa saling percaya.
Subuh di Al-Abrar pagi itu seakan mengingatkan kita bahwa menjaga Makassar bukan pekerjaan satu lembaga.
Polisi membutuhkan masyarakat. Masyarakat membutuhkan polisi. Dan anak-anak kita membutuhkan keduanya, agar masa depan mereka tidak habis di jalan, di tawuran, di balik busur, atau sekadar mengejar viralitas di TikTok.
Sebuah pantun untuk Anda : Pagi belum sepenuhnya merekah. Ayam jantan masih bersahutan, Azan Subuh baru saja ditunaikan, Namun sebuah pesan keamanan sudah mengetuk kesadaran.