SYAKHRUDDINNEWS.COM – ANDAI JARUM JAM BISA DIPUTAR ULANG
Andai jarum jam bisa diputar ulang,
ingin rasanya kembali ke masa silam,
ketika rambut belum memutih,
lutut belum mengenal lelah,
dan langkah masih panjang mengejar matahari.
Kuingin kembali merangkul
sahabat-sahabat mudaku
yang dahulu tertawa tanpa banyak beban,
bercanda hingga lupa waktu,
menyusuri malam dengan langkah penuh percaya diri.
Tetapi waktu bukan roda
yang dapat diputar sesuka hati.
Ia berjalan sekali,
meninggalkan jejak di wajah,
menyimpan cerita di tulang-belulang,
dan membawa sebagian sahabat
lebih dahulu menghadap kepada-Nya.
Kini hari-hari terasa berbeda.
Ada pagi yang datang dengan sunyi,
ada sore yang menyimpan kenangan,
dan ada malam
yang tiba-tiba membuat kita bertanya:
Ke mana perginya masa muda?
Dahulu, malam minggu mengenal diskotik,
musik berdentum, lampu berkelip,
dan tubuh bergerak mengikuti irama.
Kini suasananya telah berubah.
Bukan lagi diskotik yang dicari,
melainkan apotek.
Bukan lagi musik keras yang ditunggu,
melainkan suara dokter yang berkata,
“Kolesterolnya harus dijaga…”
Asam urat ikut menjadi teman perjalanan,
tekanan darah mulai diperhatikan,
obat-obatan tersusun rapi
seperti koleksi kenangan
di atas meja kamar.
Begitulah orkestra kehidupan.
Dahulu kita menari mengikuti irama muda,
kini kita belajar menikmati
irama usia.
Yang dahulu gagah,
kini perlahan membungkuk.
Yang dahulu berlari,
kini memilih berjalan perlahan.
Mereka yang dahulu dikejar
karena kecantikannya,
kini mulai berdamai
dengan keriput yang datang
tanpa pernah diundang.
Rambut yang dulu hitam legam
satu demi satu berubah menjadi putih.
Kulit yang dahulu kencang
mulai mengenal garis-garis waktu.
Namun, bukankah semua itu
adalah tanda bahwa kita pernah hidup?
Setiap keriput adalah catatan.
Setiap uban adalah pengalaman.
Setiap langkah yang melambat
adalah kesaksian
bahwa kita telah menempuh perjalanan panjang.
Di usia lanjut,
yang dicari bukan lagi tepuk tangan dunia,
melainkan ketenangan hati.
Bukan lagi siapa yang paling cantik,
siapa yang paling gagah,
siapa yang paling kaya,
atau siapa yang paling terkenal.
Melainkan:
Siapa yang masih mampu tersenyum,
ketika tubuh mulai banyak mengeluh.
Siapa yang masih mampu bersyukur,
ketika sebagian sahabat telah pergi.
Siapa yang mampu menerima usia
sebagai anugerah, bukan sebagai musibah.
Sebab dalam gelaran usia lanjut,
hanya mereka yang mampu bertahan
dengan sabar, bijaksana, dan penuh syukur
yang akan menemukan keindahan
di balik perubahan.
Kita memang tidak dapat
menghentikan jarum jam.
Kita tidak mungkin
memanggil kembali masa muda.
Dan kita tidak sanggup
mengembalikan sahabat-sahabat
yang telah lebih dahulu menghadap
kepada Sang Pencipta.
Tetapi kita masih memiliki hari ini.
Masih ada tangan yang dapat dijabat.
Masih ada sahabat yang dapat disapa.
Masih ada keluarga yang dapat dipeluk.
Masih ada doa yang dapat dipanjatkan.
Masih ada kebaikan yang dapat dilakukan.
Maka jangan terlalu lama menangisi
apa yang telah pergi.
Mari kita nikmati apa yang masih dimiliki.
Sebab usia lanjut bukan akhir perjalanan,
melainkan babak kehidupan
untuk memetik hikmah
dari seluruh perjalanan yang telah dilalui.
Dahulu kita mengejar waktu.
Kini kita belajar menghargai waktu.
Dahulu kita ingin hidup lama.
Kini kita ingin hidup bermakna.
Dan akhirnya kita sadar:
Menjadi tua bukanlah kekalahan.
Menjadi tua adalah kesempatan
untuk menjadi lebih bijaksana.
Terimalah uban sebagai mahkota.
Terimalah keriput sebagai lukisan kehidupan.
Terimalah obat sebagai ikhtiar.
Terimalah keterbatasan sebagai pengingat.
Dan syukurilah setiap pagi
yang masih mempertemukan kita
dengan cahaya matahari.
Karena selama napas masih berembus,
selama hati masih mampu mencintai,
selama kaki masih mampu melangkah,
selalu ada alasan
untuk berkata:
Alhamdulillah…
aku masih diberi kesempatan
menikmati orkestra kehidupan.
Andai jarum jam bisa diputar ulang,
mungkin kita ingin kembali ke masa muda.
Namun karena jarum itu tak pernah kembali,
maka mari kita jalani hari ini
dengan senyum, sabar, dan syukur.
Sebab masa lalu adalah kenangan,
hari ini adalah kesempatan,
dan masa depan adalah rahasia Tuhan.
Syakhruddin
Mozaik Kehidupan (MoKa)
Sekretaris LLI Sulsel
