SYAKHRUDDINNEWS.COM – Ahad siang, 5 April 2026, angin laut berembus lembut di pesisir Tanjung Bayang, mengantar langkah para alumni Ikatan Alumni Fakultas Dakwah & Komunikasi UIN Alauddin Makassar dalam sebuah temu yang lebih dari sekadar reuni.
Di bawah gagasan Ketua IKA, Prof. Dr. Syamsuddin AB, didampingi sekretaris Dr. Muh. Ilham Hamid, perjumpaan itu merajut kembali benang-benang kenangan lintas generasi dari angkatan 1988 hingga 2025.
Mereka hadir bukan sekadar membawa nama, melainkan jejak perjalanan panjang: dari ruang kuliah yang sederhana menuju pengabdian di berbagai lini kehidupan.
Acara yang dipandu Syakhruddin DN dibuka dengan potret kebersamaan, seolah waktu berhenti di antara tawa dan pelukan lama.
Laporan panitia oleh Hj. Syamsiah Halik mengalir hangat, disusul sambutan Ketua IKA yang menegaskan pentingnya menjaga simpul silaturahmi sebagai warisan tak ternilai.
Testimoni demi testimoni pun mengalun, dimulai dari angkatan 1988 yang diwakili H. Dr. Salmin A. Kadir. Ia mengisahkan hari-hari kuliah penuh keterbatasan bersama sahabat-sahabatnya, di antaranya Alamsyah dan Drs. H. Muh. Latief, masa ketika beras kerap menipis, namun harapan tak pernah surut.
Dari lorong-lorong kesederhanaan itu lahir keteguhan yang kini mengantar pada capaian, termasuk amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama di Ternate, serta kepedulian nyata melalui sumbangan awal bagi pembangunan sekretariat IKA.
Waktu bergerak, kisah pun berganti. Angkatan 1999 yang diwakili Basri Ali tampil dengan seragam biru yang mencolok, menghadirkan kembali wajah-wajah lama seperti Prof. Hidayat dan Prof. Mustari.
Sementara itu, kenangan angkatan 1992 mengalir dengan nuansa berbeda, tentang cinta yang berlabuh di Fakultas Dakwah, namun bersemi hingga lintas jurusan, menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tak terpisahkan dari kampus tercinta.
Dari Soppeng, Asriani datang membawa tape manis, simbol sederhana dari kehangatan kampung halaman. Dalam kehangatan itu pula ia menemukan kejutan kecil: rekan seangkatannya kini mengemban amanah sebagai Ketua IKA.
Harapannya pun mengalir lirih namun penuh makna, agar suatu saat pertemuan serupa dapat digelar di permandian alam Lejja, memperluas jejak silaturahmi yang telah terjalin.
Menjelang siang yang beranjak sore, lagu-lagu kenangan mengisi ruang, menautkan masa lalu dengan hari ini. Saat Prof. Dr. Hidayat melangkah ke depan dan mengambil alih mikrofon, suasana seketika hening, lalu khidmat, mengiringi doa makan yang dipanjatkan bersama.
Jarum jam menunjuk pukul 13.30 WITA, sebuah penanda bahwa pertemuan harus ditutup, namun bukan kebersamaan. Pertemuan itu berlangsung semarak, turut dihadiri tiga orang profesor serta Dr. Mirwan Rauf, Humas FDK.
Sebab di antara debur ombak dan semilir angin Tanjung Bayang, yang tertinggal bukan sekadar acara yang usai, melainkan ikatan yang kembali dipererat dan kenangan yang akhirnya menemukan rumahnya kembali (sdn)


