SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali bertemu di hamparan waktu bernama Ahad, hari yang datang dengan napas lebih panjang dan langkah yang sengaja diperlambat.
Pagi di Makassar tidak sekadar terbit, ia dirayakan. Di kawasan Car Free Day, denyut kota berpindah dari deru mesin ke ritme langkah manusia: pelari menyusuri jalan, anak-anak berlarian dengan tawa yang lepas, sementara keluarga berjalan santai di sepanjang Jalur Boulevard hingga Jalan Jenderal Sudirman.
Di sana, keringat dan kebahagiaan bertukar tempat dengan aroma jajanan pasar yang hangat, sederhana, dan akrab di lidah rakyat.
Ahad juga menghadirkan janji pertemuan dengan kerabat Dr.Abdul Hayat Gani pada 12 April 2026, Keluarga Besar Lembaga Lanjut Usia Indonesia Sulawesi Selatan akan berkumpul dalam suasana halal bihalal, sebuah tradisi yang lebih dari sekadar berjabat tangan, melainkan upaya merajut kembali benang-benang silaturahmi yang mungkin sempat renggang.
Tausiyah yang akan disampaikan oleh Ustaz Arifuddin Lewa alais Arle, diharapkan menjadi penyejuk, mengalir pelan namun menembus ruang batin, mengingatkan bahwa usia boleh menua, tetapi semangat kebersamaan tak boleh pudar.
Namun, di belahan dunia lain, waktu berjalan dengan wajah yang berbeda. Konflik yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar terus memanas, mengguncang keseimbangan global yang rapuh.
Dunia menyaksikan, sementara lembaga-lembaga internasional seolah berjalan di lorong sunyi, berusaha, namun tak selalu berdaya. Di tengah arus informasi yang deras, kita diingatkan untuk tidak sekadar menjadi penonton yang larut.
Dunia maya menyediakan segalanya, tetapi tidak semuanya benar. Maka kearifan menjadi kompas: memilah, memeriksa, dan menimbang, agar kita tak tersesat di antara fakta dan ilusi.
Sebagai penutup pembuka, sebuah pantun menemani pagi Anda:
Hari Ahad mentari berseri, Langkah ringan di jalan kota, Bijaklah kita menyaring berita, Agar damai tetap terjaga di jiwa.
Sementara itu, Keluarga Besar Purna Bakti Departemen Sosial/Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur di Samarinda dan sekitarnya, berkolaborasi dengan para anggota Kapesos Kaltim, menggelar kegiatan halal bihalal di Aula Dinsos, Jalan Basuki Rahmat No. 76 Samarinda.
Hadir dalam kesempatan itu H. Taufik Rizal dari Tanah Grogot, Komaruddin dari Paser Utara bersama rekan, serta perwakilan dari Tenggarong. Sejumlah peserta lainnya turut bergabung melalui zoom meeting, mempertegas luasnya jangkauan kebersamaan yang terjalin.
Kegiatan berlangsung lancar dan sarat kehangatan, menjadi ruang temu kangen setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Lebih dari sekadar tradisi, halal bihalal ini memancarkan nilai luhur Tat Twam Asi “Engkau adalah Aku” yang meneguhkan ikatan batin di antara para purna bakti, sekaligus mempererat silaturahmi lintas generasi dan lintas wilayah.
Selain itu, Penulis kedatangan tamu, Risqi Chairul Anwar, anak cucu dari Bapak Almarhum Kasyful Anwar dan Ibu Arfiah, tetangga Penulis di Tanah Grogot dahulu. Risqi Chairil Anwar mendapat amanah dari negara sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Kabupaten Jeneponto di Belokallong, sekitar dua jam setengah dari Kota Makassar.
Ajang silaturahmi ini, sekaligus mengingatkan kenangan Sungai Kandilo dan berbagai pengalaman lapang saat bertugas di Bumi Daya Taka, antara tahun 1979 s/d 1985 ketika Kantor Departemen Sosial kala itu, masih beralamat di Jalan Kartini Tanah Grogot dan Penulis bertempat tinggal di Mess Sosial Jalan Melati, bertetangga dengan rumah Almarhum Bapak Kasful Anwar.
Kabar dari luar negeri datang dengan nada yang belum sepenuhnya jernih. Pernyataan keras yang dikaitkan dengan Irak menyebut potensi penargetan infrastruktur perusahaan teknologi global, termasuk jaringan komunikasi yang terhubung dengan tokoh-tokoh besar dunia usaha.
Jika benar, ini bukan sekadar ancaman militer, melainkan sinyal bahwa konflik modern telah merambah ruang-ruang sipil yang selama ini menjadi tulang punggung komunikasi global.
Namun hingga kini, kabar tersebut masih berada di wilayah abu-abu, belum terkonfirmasi secara independen. Dalam situasi seperti ini, publik dihadapkan pada ujian nalar: apakah kita akan ikut hanyut dalam gelombang spekulasi, atau berdiri tenang menunggu kepastian?
Sejarah berulang mengajarkan, di tengah konflik, informasi sering kali menjadi senjata dan tidak semua yang terdengar keras, benar adanya.
Di langit yang sama, namun dengan narasi berbeda, Iran memperlihatkan wajah kekuatannya melalui teknologi yang terbang tanpa suara. Mereka menyebutnya “burung ababil” sebuah istilah yang sarat makna simbolik, kini menjelma menjadi drone dan sistem persenjataan modern.
Dari kejauhan, ia mengintai, mengumpulkan data, hingga menyerang dengan presisi yang menggetarkan. “Ababil” hari ini bukan lagi sekadar kisah dari langit masa lalu. Ia adalah strategi, representasi zaman baru di mana peperangan tak selalu tampak, tetapi dampaknya terasa.
Dari langit yang sunyi, arah sejarah bisa berubah, tanpa gemuruh, namun dengan daya yang mengguncang.
Di dalam negeri, kabar kemanusiaan hadir dari Bandung. Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, menunjukkan respons cepat terhadap nasib para pekerja kebun binatang yang sempat terabaikan.
Gaji yang tertunda berbulan-bulan akhirnya mendapat perhatian. Negara hadir, bukan sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai penjamin keadilan bagi mereka yang nyaris tak terdengar suaranya.
Keputusan untuk membayarkan tunggakan dan menjamin keberlanjutan penghasilan menjadi lebih dari sekadar kebijakan. Ia adalah pesan: bahwa di balik setiap institusi, ada manusia yang bergantung pada kepastian hidup.
Dan ketika negara memilih untuk hadir, harapan pun kembali menemukan tempatnya.
Sementara itu, di Makassar, peristiwa tak biasa menyentak ruang yang seharusnya paling aman. Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, pusat administrasi dan simbol kewibawaan justru menjadi sasaran pembobolan.
Pintu dicungkil, laci diacak, berkas berserakan. Sebuah ironi yang menyisakan pertanyaan: bagaimana ruang yang dijaga bisa ditembus dalam sunyi?
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan bukan sekadar sistem, tetapi juga kewaspadaan. Bahkan di pusat kekuasaan, celah bisa munculdan dari celah itulah kepercayaan diuji.
Dari dunia usaha, kisah Haji Isam kembali menjadi cermin tentang kemungkinan. Dari jalanan sederhana hingga membangun kerajaan bisnis, ia menapaki hidup dengan ketekunan dan keberanian membaca peluang. Debu jalanan, kerasnya tambang, hingga jejaring bisnis menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Kisahnya mengajarkan satu hal sederhana namun dalam: bahwa hidup tidak selalu dimulai dari titik yang ideal. Namun dengan kerja keras dan keberanian, arah bisa diubah dan masa depan bisa ditulis ulang.
Di ranah hukum, penangkapan sosok yang disebut sebagai “bos buzzer” membuka babak baru. Dugaan perintangan penyidikan melalui penggiringan opini publik menunjukkan bahwa ruang digital bukan lagi sekadar tempat berbagi, tetapi juga arena pertarungan narasi.
Kasus ini mengingatkan bahwa batas antara opini dan manipulasi bisa sangat tipis. Dan ketika batas itu dilanggar, hukum hadir sebagai penjaga menegaskan bahwa kebenaran tidak boleh dikaburkan oleh kepentingan.
Sampai di sini dahulu jumpa kita. Esok, jika mentari kembali muncul di ufuk timur, di situlah Mozaik Kehidupan akan hadir, membawa kabar, menenun makna, dan menjadi sahabat pagi Anda.
Sebagai penutup, pantun untuk mengakhiri Ahad dengan senyum tipis di bibir:
Ahad pagi hati pun riang, Langkah santai menyapa hari, Jika hidup terasa tenang, Itulah rezeki yang tak ternilai lagi.