SYAKHRUDDINNEWS.COM — Selasa datang perlahan. Membuka jendela pagi dengan cahaya yang jatuh di atap rumah, menyentuh dedaunan yang masih menyimpan embun, lalu berjalan pelan di antara langkah manusia yang kembali menaklukkan hari. Setelah Senin menguji kesabaran lewat kesibukan dan rutinitas, Selasa hadir seperti ruang jeda yang memberi kesempatan untuk menata ulang niat, memperbaiki arah, dan melanjutkan harapan yang sempat tertinggal di tikungan waktu.
Di sudut pasar, suara tawar-menawar mulai hidup bersama aroma sayur dan ikan yang baru datang dari perjalanan malam. Di pelabuhan dan terminal, roda kehidupan kembali bergerak membawa orang-orang menuju tujuan masing-masing. Di kantor, sekolah, sawah, dan lorong-lorong kehidupan, manusia kembali melanjutkan perjuangan.
Ada yang mengejar rezeki. Ada yang memburu cita-cita. Ada pula yang sekadar bertahan agar hidup tetap berjalan. Begitulah kehidupan, tak selalu gemerlap, tetapi selalu menyimpan makna bagi mereka yang mau mensyukuri setiap langkahnya.
Sahabat Mozaik yang kami banggakan, pagi ini mari membuka hari dengan hati yang lebih lapang. Sebab hidup bukan sekadar tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan bagaimana menjaga semangat agar tidak padam oleh keadaan. Waktu terus berjalan, dan setiap hari selalu membawa pelajaran baru bagi mereka yang bersedia mendengarkan suara kehidupan.
Pantun pembuka pagi:
Burung camar terbang melintas,
Hinggap sebentar di pohon randu.
Selamat pagi sahabat cerdas,
Mozaik hadir menemani harimu.
Langit Timur Tengah kembali memerah. Presiden Donald Trump dikabarkan semakin frustrasi menghadapi sikap Iran yang tak kunjung melunak meski serangan militer Amerika telah mengguncang sejumlah titik strategis. Di tengah bara konflik yang belum padam, Washington disebut mulai mempertimbangkan opsi baru, termasuk kemungkinan menggempur Teheran untuk kedua kalinya. Ketegangan itu membuat dunia kembali menahan napas, khawatir perang terbuka akan menyeret kawasan ke jurang yang lebih dalam.
Di balik dentuman ancaman dan manuver politik, rakyat sipil kembali menjadi bayang-bayang paling rentan. Pernyataan keras Trump memperlihatkan bahwa diplomasi kian kehilangan ruang di meja perundingan. Sementara itu, Iran tetap menunjukkan perlawanan, seolah memberi pesan bahwa negeri para mullah itu belum siap bertekuk lutut di bawah tekanan Amerika. Dunia internasional memandang dengan cemas, sebab satu keputusan dari Gedung Putih dapat mengubah Timur Tengah menjadi lautan api yang lebih luas dari sebelumnya.
Langkah baru kembali disiapkan pemerintah dalam menata peran prajurit di ruang pengabdian negara. Menteri Pertahanan menyebut, ke depan akan ada 15 institusi yang dapat ditempati prajurit TNI aktif. Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi pertahanan, keamanan, hingga penanganan berbagai persoalan strategis nasional yang membutuhkan disiplin serta pengalaman lapangan para prajurit.
Di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat, negara dinilai memerlukan sumber daya manusia yang tangguh, terlatih, dan siap bekerja dalam situasi penuh tekanan. Karena itu, kehadiran prajurit TNI aktif di sejumlah lembaga dianggap dapat mempercepat koordinasi sekaligus memperkuat pelayanan negara kepada masyarakat. Meski demikian, wacana ini diperkirakan tetap memunculkan ruang diskusi publik, terutama terkait batas peran militer dan sipil dalam kehidupan demokrasi modern.
Bagi sebagian kalangan, langkah ini dipandang sebagai bentuk optimalisasi kemampuan prajurit di luar medan tempur. Namun bagi yang lain, pengaturan yang jelas tetap diperlukan agar profesionalisme TNI terjaga sesuai amanat reformasi. Di tengah perdebatan itu, satu hal yang pasti: negara tengah mencari format baru untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Malam di sebuah kafe di Palembang berubah menjadi panggung duka. Musik yang semula mengalun santai mendadak pecah oleh letusan senjata. Seorang prajurit muda TNI, Pratu F (23), tumbang bersimbah darah setelah diduga ditembak rekannya sendiri sesama anggota TNI berinisial R. Peristiwa itu disebut bermula dari salah paham ketika keduanya berada di arena hiburan malam dan saling bersenggolan saat berjoget.
Dalam hitungan detik, suasana riuh berubah panik. Pengunjung berlarian, sementara tubuh korban terkapar di lantai kafe. Korban diketahui berdinas di Denkesyah Palembang. Kabar kematiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang tak menyangka anak muda yang berangkat mengabdi sebagai prajurit justru pulang dalam peti jenazah.
Pihak keluarga meminta proses hukum dilakukan secara terbuka dan pelaku diberi hukuman tegas, termasuk pemecatan dari dinas militer. Di tengah sorotan publik, aparat kini mendalami motif dan kronologi lengkap insiden berdarah itu. Sebab di balik dentuman peluru di sudut kafe malam tersebut, tersimpan ironi tentang sesama prajurit yang seharusnya berdiri dalam satu barisan, namun justru saling mengakhiri kehidupan.
Kisah Nabi Musa kembali dibaca lintas zaman. Bukan hanya dalam ruang iman, tetapi juga melalui pendekatan sains. Peristiwa laut terbelah yang diyakini terjadi sekitar 3.500 tahun silam itu kini diteliti para ilmuwan melalui sudut pandang alam dan geologi.
Dalam kisah suci, Nabi Musa memimpin Bani Israel keluar dari Mesir, sementara pasukan Firaun terus mengejar dari belakang. Di hadapan mereka terbentang laut, seolah tak ada lagi jalan keselamatan. Namun sejumlah peneliti mencoba menjelaskan kemungkinan ilmiah di balik peristiwa tersebut.
Melalui pemodelan komputer, para ilmuwan menemukan bahwa angin berkekuatan sekitar 100 kilometer per jam yang bertiup dari arah tertentu dapat mendorong air laut menjauh di wilayah dangkal hingga membentuk jalur kering selebar beberapa kilometer. Namun fenomena itu hanya berlangsung singkat. Ketika angin berhenti, air kembali menghantam deras seperti gelombang raksasa.
Oseanografer National Center for Atmospheric Research, Carl Drews, menyebut peristiwa tersebut sebagai perpaduan antara kekuatan alam dan ketepatan waktu. Sains mungkin mencoba membaca jejaknya, namun kisah Nabi Musa tetap menyisakan ruang takjub yang melampaui hitungan manusia.
Wajahnya begitu lekat dalam ingatan publik Indonesia sebagai sosok Presiden Soeharto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Namun tak banyak yang mengetahui bahwa Amoroso Katamsi bukan hanya seorang aktor dengan pembawaan tenang dan kharisma kuat di layar kaca. Ia sesungguhnya adalah dokter militer dari lingkungan TNI Angkatan Laut yang mengabdikan hidupnya bukan hanya di dunia seni peran, tetapi juga di medan pelayanan kesehatan bagi bangsa dan negara.
Perjalanan hidupnya menjadi mozaik unik antara dunia kemiliteran dan perfilman. Di balik perannya yang monumental sebagai Soeharto, Amoroso Katamsi menjalani karier panjang sebagai dokter TNI AL hingga pensiun dengan pangkat Laksamana Pertama. Sosoknya seolah memperlihatkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam banyak wajah: melalui seragam militer, ruang pengobatan, maupun layar film yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan Indonesia.
Menjelang Idul Adha, pasar hewan kembali ramai dipenuhi penjual dan pembeli sapi, kambing, serta domba kurban. Suara tawar-menawar terdengar di antara deretan ternak yang didatangkan dari berbagai daerah. Bagi pedagang, musim kurban menjadi harapan rezeki tahunan, sementara masyarakat mulai memilih hewan terbaik yang sehat dan layak sesuai syariat.
Di tengah hiruk-pikuk penjualan itu, kurban bukan sekadar transaksi jual beli hewan. Ada nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi yang menyertai setiap pembelian. Menjelang hari raya, pasar hewan berubah menjadi ruang pertemuan harapan, tempat rezeki, ibadah, dan kebersamaan bertemu dalam suasana hangat yang sederhana.
Pemeriksaan kesehatan hewan pun semakin diperketat menjelang hari raya. Petugas turun langsung ke lokasi penjualan untuk memastikan ternak bebas penyakit dan memenuhi syarat kurban. Langkah ini dilakukan agar masyarakat merasa aman dan nyaman saat menunaikan ibadah, sekaligus menjaga kepercayaan terhadap kualitas hewan yang diperjualbelikan.
Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polda Sulsel, AKBP Dr Sahruna Nasrun, melakukan inspeksi mendadak ke Polsek Tamalate, Minggu, 17 Mei 2026. Dalam kunjungan yang turut didampingi Direktur PUKAT Sulsel Farid Mamma dan Ketua Bajak Hitam Muhammad Edi itu, Sahruna menemukan sejumlah persoalan internal, mulai dari kondisi tahanan yang mengalami kekurangan air bersih hingga sorotan terhadap etika personel di tingkat wilayah.
Ia mengaku sengaja datang tanpa pemberitahuan kepada Kapolsek Tamalate untuk melihat langsung kesiapan pelayanan dan perilaku anggota di lapangan. Menurutnya, pengawasan mendadak penting dilakukan agar pembenahan organisasi tidak hanya berjalan ketika ada pemeriksaan resmi dari pimpinan.Dalam peninjauan tersebut, ia menyoroti kondisi tahanan yang kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk saat hendak menjalankan ibadah salat.
Meski menilai respons Kapolsek Tamalate terkesan kurang maksimal saat menerima kunjungan, Sahruna memilih menyikapinya secara bijak dan menegaskan bahwa kedatangannya semata-mata untuk memberikan masukan demi perbaikan institusi kepolisian.
Pelarian DR (29), pria asal Bulukumba, akhirnya terhenti di pelabuhan Surabaya. Ia ditangkap aparat kepolisian sesaat setelah turun dari kapal penumpang, usai diduga memperkosa seorang gadis yang hendak melamar pekerjaan. Penangkapan itu menjadi akhir dari pelarian pelaku yang sempat meninggalkan Makassar untuk menghindari kejaran polisi.
Peristiwa memilukan tersebut terjadi di sebuah perumahan di kawasan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar. Korban yang datang dengan harapan memperoleh pekerjaan justru mengalami trauma mendalam setelah diduga menjadi korban kekerasan seksual. Polisi bergerak cepat melakukan penyelidikan hingga akhirnya melacak keberadaan pelaku dan mengamankannya di Surabaya untuk dibawa kembali menjalani proses hukum. Di balik kasus itu, terselip peringatan bahwa kejahatan kerap datang saat harapan sedang diperjuangkan.
Pembaca setia Mozaik yang kami banggakan, sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Bila tak ada aral melintang, esok kami akan kembali menyapa Anda dengan kabar-kabar teranyar, cerita kehidupan yang hangat, serta gambar-gambar menarik yang menemani waktu senggang Anda. Terima kasih atas kebersamaan yang tak pernah putus, sebab setiap pembaca adalah cahaya yang membuat Mozaik terus hidup dan bertumbuh di tengah arus zaman.Sebelum tirai perjumpaan hari ini ditutup, izinkan kami menghadirkan sebuah pantun penutup untuk Anda.
Hujan di pagi hari turun perlahan,
Membasahi daun di tepi halaman.
Terima kasih sahabat atas kebersamaan,
Esok berjumpa dalam cerita dan harapan.
Penulis Naskah : Syakhruddin Tagana


