SYAKHRUDDINNEWS.COM – Dulu, ketika usia masih belia, malam Minggu adalah pintu kecil menuju kebahagiaan yang sederhana. Ada getar yang sulit dijelaskan setiap kali senja turun di ujung pekan. Anak-anak muda berdandan rapi, menanti janji pertemuan, lalu melangkah menuju Pantai Losari yang bercahaya oleh lampu-lampu malam dan desir angin laut.
Di sepanjang trotoar, suara ombak bersahutan dengan tawa muda yang penuh harapan. Kadang suasana itu diselingi teriakan khas penjual kacang, “Canggoreng… canggoreng…(Kacang goreng) ”, suara sederhana yang kini justru tinggal menjadi gema kenangan.
Waktu kemudian berjalan tanpa pernah meminta izin. Masa muda yang dahulu terasa panjang ternyata hanya sekejap persinggahan. Ketika karier berada di puncaknya, hidup berubah menjadi deretan kesibukan yang nyaris tanpa jeda. Perjalanan dinas sambung-menyambung, rapat demi rapat, pelatihan dan tugas yang tiada habisnya, membuat seseorang merasa dunia seolah berada dalam genggaman.
Hari-hari dipenuhi target dan tanggung jawab, sementara waktu istirahat menjadi barang mewah yang sering ditunda. Pada masa itu, malam Minggu tak lagi dinikmati sebagai ruang kebersamaan, melainkan sekadar jeda singkat sebelum kembali berlari mengejar esok.
Hingga akhirnya, usia perlahan membawa manusia ke tepian senja kehidupan. Jabatan yang dahulu disegani mulai ditinggalkan, kursi yang pernah diduduki berganti penghuni, dan masa aktif pun selesai pada waktunya.
Seseorang yang dahulu sibuk dipanggil ke sana kemari, kini harus belajar menerima kenyataan sebagai purnabakti, sebagai Lansia. Ada yang mampu menerima dengan lapang dada, namun tidak sedikit yang diam-diam merasa asing dengan kesunyian yang datang tiba-tiba.
Malam Minggu bagi para lanjut usia akhirnya berubah makna. Ia tidak lagi hadir dalam gemerlap lampu kota atau riuh hiburan malam. Malam Minggu kini hidup di beranda rumah yang tenang, di ruang tamu bercahaya redup, atau di kursi tua tempat seseorang duduk sambil menyeruput teh hangat.
Kenangan datang perlahan mengetuk ingatan, tentang sahabat lama, tentang pasangan hidup di masa muda, tentang anak-anak yang dulu kecil lalu tumbuh dewasa dan sibuk dengan kehidupannya masing-masing.
Ada lansia yang menunggu cucunya datang membawa tawa kecil ke dalam rumah. Ada yang menikmati lantunan ayat suci atau lagu-lagu lama yang membawa hati kembali ke masa silam.
Ada pula yang sekadar memandang langit malam sambil berbicara diam-diam dengan dirinya sendiri tentang perjalanan hidup yang telah dilalui begitu jauh.
Pada akhirnya, usia senja mengajarkan sebuah kebenaran yang sering terlambat dipahami manusia: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada gemerlap dunia, melainkan pada hadirnya orang-orang tercinta yang tetap mau menemani.
Sebab bagi seorang lansia, malam Minggu paling indah bukanlah pesta yang ramai, melainkan hati yang merasa dipedulikan, ditemani, dan tidak dilupakan oleh keluarganya sendiri. Dan mungkin, di situlah makna hidup yang sesungguhnya, ketika seseorang tidak lagi diingat karena jabatan atau kejayaannya, tetapi karena cinta dan kehangatan yang pernah ia tanamkan sepanjang hidupnya.
Sekedar bernostalgia, semua itu kenangan ITU perlahan tinggal menjadi bayangan masa lalu. Pantai berubah wajah, garis laut bergeser, dan ombak yang dahulu akrab dipandang dari tepi jalan kini tak lagi mudah disentuh mata. Perubahan itu lahir dari kekhawatiran warga setempat yang saban musim hujan harus menyaksikan ombak besar menghantam hingga ke badan jalan, membawa percikan air laut sampai ke aspal kota.
Demi keamanan, tanggul dan reklamasi pun dibangun. Tetapi bersama perubahan itu, ada pula kerinduan yang diam-diam ikut tertimbun.Dahulu, ciri khas Pantai Losari adalah duduk santai memandang laut di atas tanggul yang dijuluki “restoran terpanjang di dunia.” Dari tempat itu, masyarakat menikmati senja tanpa sekat.
Pada pagi hari libur, motorboat meluncur membelah ombak, sementara keluarga Bapak A. Mattalatta bersama putra-putrinya bermain ski air yang menjadi tontonan menarik warga. Dari semangat itulah kemudian lahir tradisi lomba perahu jolloro antarkecamatan se-Kotamadya Ujung Pandang (Nama masa itu) setiap bulan kemerdekaan. Losari bukan hanya pantai, tetapi ruang hidup yang menyatukan olahraga, hiburan, dan kebanggaan warga kota.
Saat malam tiba, kawasan itu berubah menjadi lautan manusia. Anak-anak muda, pasangan, hingga keluarga duduk berjajar menikmati angin laut sambil menyantap pisang epe dan kacang tanah. Sebagian hanya bercengkerama, melepas penat, atau sekadar menikmati cahaya lampu yang memantul di permukaan air. Di sisi jalan berdiri Kios Semarang di Jalan Penghibur yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjalanan zaman.
Pada masa itu hanya ada dua kios yang begitu dikenal masyarakat, yakni Kios Semarang dan Kios Madya di Jalan Gunung Latimojong. Begitu pula rumah makan legendaris yang menjadi tujuan warga, yaitu Rumah Makan Nikmat dekat Somba Opu dan Rumah Makan Maryam di Jalan Sulawesi Poso.
Pantai Losari kembali tampil gemerlap ketika masa kepemimpinan Wali Kota Ilham Arief Sirajuddin yang melakukan perubahan besar melalui pembangunan anjungan Pantai Losari. Kawasan itu kemudian menjadi ruang representatif bagi berbagai acara formal dan kegiatan masyarakat. Masa kepemimpinan Anak Lorong, Danny Pomanto, Losari tampil lebih megah dan modern.
Namun di balik kemegahan itu, ada sesuatu yang hilang: masyarakat tak lagi dapat melihat ombak sedekat dahulu, bahkan dari dalam mobil sekalipun. Laut seolah menjauh dari kehidupan warga.Kini, perubahan kembali berlanjut dengan hadirnya kawasan CPI atau Center Point of Indonesia, hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan Lippo Group sebagai pihak pengembang.
Kawasan baru tumbuh megah di atas reklamasi, menghadirkan wajah modern Makassar. Tetapi bagi mereka yang pernah menikmati Losari tempo dulu, kenangan tentang duduk di tanggul, aroma pisang epe, suara ombak, dan cahaya malam di tepi laut akan tetap menjadi bagian paling hangat dari sejarah kota ini.
Renungan Malam by. Syakhruddin Tagana


