SYAKHRUDDINNES.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, kita kembali bersua dalam bentangan waktu yang tak pernah lelah berputar Senin, 6 April 2026. Hari yang kerap dianggap biasa, namun sesungguhnya menyimpan makna sebagai titik mula: saat langkah-langkah kembali disusun, niat-niat diperbarui, dan harapan-harapan disematkan di pundak kehidupan.
Dari sinilah perjalanan panjang kembali dirajut meniti karier, mengasah diri, hingga kelak tiba pada fase purnabakti, ketika riuh dunia perlahan ditanggalkan.
Senin datang seperti tamu lama yang setia, tak pernah ingkar janji, membawa harapan baru di balik langit yang masih pucat. Dari subuh yang hening, ketika doa-doa dilangitkan dan embun menggantung lirih di ujung daun kehidupan perlahan bangkit dari diamnya.
Ada keyakinan yang tumbuh dalam sunyi, terselip di antara langkah-langkah tergesa menuju rutinitas: bahwa hari ini, sekecil apa pun, dapat menjadi lebih berarti dari kemarin.
Namun ketenangan itu tak lama singgah. Dunia kembali riuh oleh deru kendaraan, percakapan yang bersahutan, dan ambisi yang berkelindan tanpa jeda.
Senin pun menjelma panggung besar, tempat setiap insan memainkan perannya, pekerja mengejar target, pelajar menjemput ilmu, pemimpin memikul amanah, atau pejalan sunyi yang masih mencari arah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, janji-janji pagi diuji: siapa yang mampu menjaganya tetap menyala hingga senja, dan siapa yang membiarkannya padam oleh lelah yang tak terkelola.
Mengawali jumpa hari ini, seuntai pantun pembuka kami persembahkan:
Hari Senin mentari bersinar,
Langkah pagi menjemput asa,
Bekerja tekun penuh sabar,
Semoga hari membawa berkah dan bahagia.
Di tepian angin laut Tanjung Bayang, ombak berbisik lirih seakan menyambut langkah-langkah yang pulang pada kenangan. Ahad, 5 April 2026, jajaran Ikatan Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar berkumpul dalam suasana hangat di bawah nahkoda Syamsuddin AB, didampingi sekretaris Muh Ilham Hamid.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda, melainkan perjumpaan jiwa-jiwa yang pernah ditempa dalam ruang dakwah dan komunikasi, lalu tercerai oleh waktu, sebelum dipertemukan kembali oleh rindu yang sama.
Pertemuan ini menjadi simpul yang merajut kembali serpihan cerita, halal bihalal yang bukan hanya saling memaafkan, tetapi juga merawat ingatan kolektif sejak masa IAIN Alauddin hingga kini menjelma menjadi fakultas bermartabat di Samata, Gowa.
Dari rahim sejarah itu lahir ribuan alumni yang menyebar ke berbagai penjuru negeri. Namun sebagaimana petuah lama, setinggi-tinggi burung terbang, akhirnya kembali ke kandang juga dan di antara debur ombak serta cakrawala senja, mereka menemukan jalan pulang.
Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Munafri Arifuddin menyiapkan pembenahan besar di kawasan TPA Antang dengan pagu anggaran Rp23 miliar.
Program ini mencakup pembangunan akses jalan serta penataan jalur pedestrian sebagai solusi atas antrean panjang truk sampah dan kemacetan yang kerap terjadi, terutama pasca arus mudik.
Melalui sinergi lintas dinas—DLH, PTSP, PU, dan Distaru—langkah ini diarahkan untuk menciptakan sistem bongkar muat yang lebih tertib, aman, dan berkelanjutan.
Pembenahan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menjadi pijakan menuju tata kelola persampahan yang lebih modern dan manusiawi.
Di balik tumpukan residu kota, tersimpan harapan akan lingkungan yang lebih tertata—bahwa perubahan besar kerap bermula dari keberanian menata hal-hal yang selama ini terabaikan.
Riak kegelisahan publik di Kabupaten Gowa kian menguat seiring mencuatnya isu yang diduga menyeret nama orang nomor satu di daerah itu. Perbincangan meluas, memantik perhatian lintas lapisan masyarakat.
Dalam pusaran itu, Laskar Karaeng Ngemba melalui ketuanya Muh Rizal angkat suara, menegaskan sikap untuk tidak berpangku tangan terhadap situasi yang berpotensi menggerus kepercayaan publik.
Mereka mendesak DPRD Kabupaten Gowa agar segera mengambil sikap tegas, terbuka, dan bertanggung jawab. Sebab dalam setiap keraguan yang dibiarkan tumbuh, kepercayaan publik perlahan tergerus. Dan ketika kepercayaan itu runtuh, yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan, melainkan marwah pemerintahan itu sendiri.
Polemik penutupan akses jalan menuju Pesantren Darul Istiqamah yang berlarut hingga Ahad 5 April 2026, berujung pada batalnya resepsi pernikahan Ziyad Safwan dengan A. Alya Munasyirah Syakib.
Resepsi yang sedianya digelar di lingkungan SPIDI itu terpaksa dibatalkan meski sekitar 3.000 undangan telah tersebar. Sejak Kamis, sejumlah kendaraan vendor bahkan harus putar balik setelah berjam-jam menunggu tanpa kepastian akses.
Keputusan pahit itu diambil demi menghindari situasi yang tidak kondusif. Pihak keluarga pun menyampaikan permohonan maaf kepada para undangan, sembari berharap niat baik kedua mempelai tetap membawa keberkahan.
Sebab sejatinya, sebuah pernikahan bukan semata pesta, melainkan ikhtiar menyatukan dua kehidupan dalam ridha Ilahi.
Sejarah haji di Indonesia mencatat kisah menarik tentang sosok pertama dari Nusantara yang menunaikan ibadah ke Tanah Suci—figur yang bukan berasal dari kalangan ulama, melainkan memiliki kedudukan dalam struktur kekuasaan.
Dalam catatan Adeng Lukmantara, perjalanan haji dari wilayah Sunda telah terhubung dengan proses masuknya Islam sejak akhir abad ke-14 dan berkembang pada awal abad ke-15.
Perjalanan itu menjadi tonggak penting yang melampaui ibadah personal, sekaligus membuka jalur spiritual dan kultural antara Nusantara dan Tanah Suci.
Dari langkah awal tersebut, tradisi berhaji tumbuh menjadi bagian penting kehidupan umat Islam Indonesia—dari perjalanan panjang penuh tantangan, hingga kini menjadi ibadah yang lebih terorganisir dan menjangkau jutaan umat.
Duka menyelimuti keluarga besar TNI atas gugurnya Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar dalam misi perdamaian di Lebanon. Kepergian prajurit terbaik asal Cimahi itu menjadi kehilangan mendalam bagi keluarga, institusi, dan bangsa.
Ia gugur dalam tugas, pada jalan pengabdian yang tak semua orang sanggup menjalaninya.Sebagai penghormatan terakhir, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dijadwalkan memimpin langsung upacara pemakaman militer.
Di tanah peristirahatan terakhirnya, bukan hanya jasad yang dikuburkan, tetapi juga sebuah kisah tentang keberanian, loyalitas, dan pengabdian tanpa pamrih.
Insiden keributan yang melibatkan lima oknum aparat terjadi di sebuah tempat hiburan malam di Toraja Utara. Peristiwa bermula dari kesalahpahaman kecil yang dipicu senggolan dan adu mulut, diduga dalam pengaruh minuman keras.
Situasi yang semula terkendali berubah menjadi ketegangan yang sulit dibendung. Adu jotos pun tak terhindarkan, memicu kepanikan di lokasi.
Pihak keamanan bersama pengunjung berupaya melerai hingga situasi kembali terkendali. Pasca kejadian, para pihak diamankan untuk dimintai keterangan. Institusi terkait menegaskan komitmen untuk menindak tegas oknum yang terbukti melanggar, sebagai upaya menjaga kehormatan dan disiplin institusi.
Buntut dugaan keracunan yang menimpa 72 siswa, Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG di Pondok Kelapa tanpa batas waktu. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian, sekaligus memberi ruang bagi investigasi menyeluruh terhadap sumber penyebab insiden.
Sejumlah siswa sebelumnya mengalami gejala mual, muntah, dan pusing usai mengonsumsi makanan dari program tersebut. Penghentian operasional akan berlangsung hingga hasil uji laboratorium dan evaluasi keamanan pangan dinyatakan aman.
Dari peristiwa ini, publik diingatkan bahwa kualitas pangan bukan sekadar program, melainkan tanggung jawab yang menyangkut keselamatan generasi.
Sampai di sini perjumpaan kita hari ini. Waktu akan terus bergerak, dan esok kembali membuka lembar baru dengan cerita-cerita yang layak disimak.
Sebagai penutup, kami hadirkan seuntai pantun:
Bukan perpisahan yang kutangisi,
Hanya jeda di antara cerita,
Esok kita bersua kembali,
Menyulam makna dalam kisah kehidupan.
Salam Santun : Syakhruddin Tagana


