SYAKHRUDDINNEWS.COM – Agustus 2025, Semangat kemerdekaan terasa di udara. Di setiap sudut kota, bendera merah putih berkibar gagah. Tapi di lingkaran besar shelter warga Kota Makassar, justru ada riak-riak yang bergejolak. Riak yang kelak dikenal sebagai Prahara Tudng Sipulung.
Awal Sebuah Gagasan
Semuanya bermula dari rapat kecil di ruang kerja Kabid Perlindungan Perempuan DP3A Kota Makassar dan berlanjut ke Sekretariat Shelter Warga Pa’Baeng-Baeng, dimana Kabid Perlindungan Perempuan DP3A duduk berdampingan dengan Ketua dan bendahara panitia penyelengara.
“Bagaimana kalau kita buat Tudang Sipulung tahun ini secara besar-besaran, sekalian meriahkan 17 Agustus?” ujarnya sambil tersenyum penuh semangat.
Para panitia saling pandang. Ide itu terasa segar, apalagi baru saja dana operasional triwulan II cair.
“Setuju.
Kita libatkan semua pengurus shelter, mulai dari ketua, sekretaris dan bendahara sekalian perkuat silaturahmi,” timpal salah satu pengurus shelter.
Hasil konsultasi singkat dihadiri panitia inti:
Irham Amil Ishak dari Shelter Bontoduri sebagai Ketua
Syakhruddin DN dari Shelter Pa’Baeng-Baeng sebagai Sekretaris
Sumarni B. Jufri dari Shelter Tamamaung sebagai Bendahara
Semua setuju, semua senyum. Seolah ini akan jadi acara termanis di bulan kemerdekaan, dan hitung-hitungan kasar pun mulai di coret-coret oleh bendahara, mulai makan minum, transfort hingga hadiah pemenang lomba.
Pencarian Lokasi dan “Pertanda Misterius”
Malam Jumat, langit Maros gelap, hanya sesekali deru mobil yang melintas. Rombongan kecil Kabid, Nurhana bersama staf dan Rachmat Tumengkol dari Shelter Maccini Sombala menuju Puca Kabupaten Maros.
“Di sini tempatnya?” tanya Rachmat sambil memegang senter.
Belum lama menelusuri, pandangan mereka terhenti. Di antara semak, sesuatu bergerak. Nurhana menahan napas, Nurhana justru mundur dua langkah, wajahnya pucat, sambal duduk di dekat masjid.
“Itu… itu ‘Uka-Uka’ kah?” bisiknya.
Tak ada yang berani mendekat. Perjalanan malam itu berakhir dengan kesunyian yang tebal, hanya suara jangkrik menemani. Di perjalanan barulah Nurhana ceritera, namun langsung ditimpali oleh Sang Kabid.
Menuju Villa Permata dan Keputusan Sulit
Keesokan harinya, usai salat Jumat, tgl 1 Agustus 2025 rombongan bergerak ke Villa Permata Resort Bili-Bili. Disambut Dg Kila, mereka berkeliling lokasi. Fasilitasnya mewah, suasana asri.
“Pas sekali ini untuk acara besar,” ujar Syakhruddin sambil memotret sudut-sudut villa.
Namun Dg Kila memperingatkan pelan. “Maaf, kapasitas maksimal cuma 150 orang.”
Hening. Semua sadar, undangan mereka jauh lebih banyak. “Kalau begitu… kita bisa-bisa batal di sini,” ucap Hana lirih.
Rapat Darurat di Warung Jalan Nikel
Sore itu, aroma kopi bercampur dengan suara kendaraan di Jalan Nikel. Kamis 7 Agustus 2025, Rapat darurat digelar di sebuah warung sederhana. Ani, yang dikenal vokal di grup WhatsApp, ikut hadir.
Adapun yang membubuhkan tanda tangan dalam pertemuan itu diantaranya Syamsuddin Musa, Adi Wijaya, Rabiah Syachrir, Dyah Ayu Yuniati, Ani, Mastin, Jufri Jafar, Irham Amil Ishak dan Rachmat Tumengkol termasuk Penulis.
“Kita sepakat, lokasi di Bili-Bili batal,” tegas Irham. “Kita geser kegiatan ke tanggal 30–31 Agustus. Lokasi baru: Tanjung Bayang.”
Ani turut menandatangani berita acara tanpa banyak bicara. Keputusan cepat diambil: Villa Juita Tanjung Bayang jadi pilihan. Tim segera menuju dan mengecek lokasi, rencana hari Senin di berikan panjar, Semua terlihat lega, seraya berfoto selfi di lokasi.
Ledakan di Dunia Maya
Namun, usai keputusan diumumkan di grup, Forum Shelter Kelurahan, percakapan yang awalnya santai berubah panas.
“Apa-apaan ini? Kok lokasi dan tanggal ganti mendadak?” tulis Niar T. Jaya.
“Iya, setuju. Kenapa nggak dibahas sama semua dulu?” sambung Ani.
Komentar terus mengalir. Nada meninggi. Beberapa pesan mulai menyentuh ranah pribadi. Hana, yang awalnya mencoba menenangkan, akhirnya mengetik singkat: “Grup ditutup sementara.”
Tapi badai tak berhenti. Dalam percakapan pribadi, Nurhana menerima kata-kata kasar bahkan ada yang menyebut binatang. Hatinya tergores dalam.
Pelajaran dari Sebuah Prahara
Prahara ini membuka mata semua pihak: meski jumlah shelter warga sudah mencapai 103, ternyata sistem komando belum kokoh. Ego, rasa ingin menang sendiri, dan perasaan “lebih pantas” menjadi batu sandungan.
Hana menyadari, tugas terberatnya bukan hanya menyelenggarakan Tudang Sipulung, tapi juga menyatukan hati. Menegakkan kembali rasa kebersamaan yang sempat retak.
Agustus tetap menjadi bulan kemerdekaan. Tapi bagi keluarga besar shelter warga, kemerdekaan yang sejati adalah saat mereka bebas dari belenggu ego, saling menghargai, dan mau berjalan bersama.
Di kalender organisasi, Prahara Tudang Sipulung akan diingat—bukan hanya sebagai riak perbedaan, tapi sebagai titik balik menuju persatuan yang lebih kuat (sdn)


