SYAKHRUDDINNEWS.COM – Kamis adalah hari keempat dalam hitungan pekan. Ia datang setelah Rabu dan menjadi jembatan menuju Jumat.
Bagi sebagian orang, Kamis mungkin hanya sebuah nama dalam kalender. Namun bagi mereka yang mau merenung, setiap hari sesungguhnya membawa pesan.
Kamis mengajarkan kita bahwa perjalanan belum selesai. Masih ada waktu untuk memperbaiki yang keliru, menyelesaikan yang tertunda, dan menata kembali langkah sebelum pekan berganti.
Jangan menunggu hari esok untuk berbuat baik, sebab kesempatan yang datang hari ini belum tentu kembali dengan bentuk yang sama.
Maka, jadikan Kamis sebagai momentum untuk memperkuat silaturahmi, memperbanyak syukur dan menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Sebab hidup bukan sekadar tentang berapa banyak hari yang telah kita lewati, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan di setiap hari yang kita jalani.
Lintasan Sejarah; Tanggal 27 Agustus menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah dunia. Salah satunya adalah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883.
Ledakan besar tersebut menjadi salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dan menimbulkan tsunami serta korban jiwa dalam jumlah besar.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bagi manusia bahwa alam memiliki kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia.
Teknologi boleh berkembang, ilmu pengetahuan boleh semakin maju, tetapi kewaspadaan terhadap alam dan kesiapsiagaan menghadapi bencana tetap menjadi kebutuhan.
Tanggal 27 Agustus juga tercatat dalam berbagai peristiwa politik, sosial, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan di berbagai belahan dunia.
Sejarah mengajarkan satu hal penting: masa lalu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari agar manusia mampu menata masa depan dengan lebih bijaksana.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda; Pergi pagi membawa bekal,
Singgah sebentar membeli jamu.
Hari Kamis janganlah tinggal,
Mari berbuat baik sebelum waktu berlalu.
Sementara itu, Para jenderal purnawirawan kembali menyuarakan pentingnya reformasi partai politik di Indonesia.
Gagasan ini muncul dari keprihatinan bahwa partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi harus terus berbenah,.
Agar tidak sekadar menjadi kendaraan kekuasaan, tetapi benar-benar mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan melahirkan pemimpin yang berkualitas.
Mantan Kepala BIN, Hendropriyono, mengingatkan bahwa reformasi politik tidak boleh berhenti sebagai wacana intelektual.
Menurutnya, gagasan perubahan harus diterjemahkan menjadi langkah nyata, sehingga sistem politik mampu menjawab tuntutan zaman dan membangun kehidupan demokrasi yang lebih sehat.
Bagi MoKa, seruan para jenderal purnawirawan ini patut menjadi bahan renungan.
Sebab, demokrasi bukan hanya soal pergantian kekuasaan, tetapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.
Reformasi partai politik akhirnya bukan sekadar urusan elite, melainkan menyangkut masa depan rakyat yang setiap lima tahun memberikan kepercayaan melalui bilik suara.
Disisi lain, Bencana alam bukan hanya persoalan kerusakan fisik, tetapi juga menguji kekuatan sosial sebuah masyarakat. Dalam perspektif modal sosial yang banyak dibahas dalam pemberitaan dan analisis Tempo.
Hubungan antarwarga, kepercayaan, gotong royong, serta kepedulian menjadi kekuatan penting dalam menghadapi bencana.
Ketika pemerintah, masyarakat, relawan, tokoh agama, dan berbagai kelompok sosial mampu membangun kerja sama, penanganan bencana tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi bergerak menuju pemulihan dan pembangunan kembali kehidupan warga.
Modal sosial karena itu harus ditempatkan sebagai bagian penting dari manajemen bencana.
Masyarakat yang memiliki jaringan sosial kuat cenderung lebih siap saling membantu, berbagi informasi, mengorganisasi evakuasi, hingga mendukung pemulihan pascabencana.
Dengan demikian, menghadapi bencana bukan semata-mata mengandalkan infrastruktur dan teknologi, tetapi juga memperkuat kepercayaan, solidaritas, dan budaya gotong royong.
Karena dalam situasi krisis, kekuatan terbesar sering kali tumbuh dari kebersamaan.
Selanjutnya, Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al Fatih Makassar resmi meluncurkan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2027/2028.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membuka akses pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, serta pembentukan karakter sejak dini.
Melalui program tersebut, SIT Al Fatih tidak sekadar menyiapkan peserta didik untuk unggul secara akademik, tetapi juga membangun pribadi yang berakhlak, mandiri, dan memiliki kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Peluncuran SPMB 2027/2028 sekaligus menegaskan visi SIT Al Fatih Makassar untuk melahirkan generasi Qur’ani yang mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman.
Pendidikan karakter menjadi fondasi utama, dengan harapan para peserta didik tumbuh sebagai generasi yang cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Dengan semangat tersebut, Al Fatih mengajak para orang tua untuk bersama-sama memilih lingkungan pendidikan terbaik bagi tumbuh kembang putra-putrinya.
Sebuah ironi, Turis Asing Berulah, Bali Kembali Tercoreng; Jagat maya kembali dihebohkan oleh rekaman CCTV yang memperlihatkan dugaan tindakan asusila dilakukan wisatawan asing di depan rumah warga di kawasan Kuta Utara, Badung, Bali.
Peristiwa yang terjadi pada Agustus 2026 itu sontak menjadi perhatian publik setelah rekamannya beredar luas di media sosial. Polisi kemudian turun tangan untuk mengidentifikasi dan mencari para terduga pelaku.
Peristiwa semacam ini tentu bukan sekadar soal pelanggaran kesopanan, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap adat, budaya, serta ketertiban masyarakat Bali.
Bali dikenal dunia sebagai daerah tujuan wisata yang menjunjung tinggi nilai agama dan budaya.
Karena itu, setiap wisatawan yang datang semestinya memahami bahwa kebebasan berwisata tetap memiliki batas, terlebih ketika perilaku tersebut dilakukan di ruang publik dan mengganggu rasa nyaman warga.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa status sebagai wisatawan asing bukanlah alasan untuk mengabaikan aturan dan norma yang berlaku di Indonesia.
Menengok sejarah rumah bordil di zaman penjajahan; Tempat hiburan yang berada di bawah koordinasi militer Jepang pertama kali muncul di Shanghai, Cina, pada 1932, setelah pecah perang Jepang-Cina.
Gagasan ini antara lain didorong oleh Letjen Okamura Yasuji setelah muncul laporan tentang banyaknya kekerasan seksual yang dilakukan tentara Jepang terhadap perempuan setempat.
Sistem tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah pendudukan Jepang di Asia, termasuk Indonesia, dengan menghadirkan apa yang kemudian dikenal sebagai jugun ianfu atau perempuan yang dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang.
Rumah-rumah bordil tersebut dikelola dengan aturan yang sangat ketat. Kompleks biasanya terdiri atas sejumlah bangunan dan kamar bernomor.
Sementara para pengunjung diwajibkan membeli tiket, menggunakan kondom, dan mengikuti batas waktu pelayanan.
Hanya anggota militer Jepang dan staf tertentu yang diperbolehkan berkunjung. Jam pelayanan juga dibedakan antara staf sipil dan personel militer.
Namun, di balik aturan administratif itu terdapat penderitaan manusia yang sangat berat, karena banyak perempuan direkrut melalui penipuan, pemaksaan, bahkan penculikan.
Perempuan yang menjadi jugun ianfu berasal dari berbagai wilayah Asia, termasuk Indonesia, dan sebagian di antaranya masih berusia sangat muda.
Mereka mengalami kekerasan fisik, tekanan psikologis, penyakit, serta perlakuan tidak manusiawi selama masa pendudukan Jepang.
Setelah Perang Dunia II berakhir, persoalan ini menjadi salah satu luka sejarah yang panjang. Jumlah korban masih diperdebatkan oleh para sejarawan.
Tetapi penderitaan para korban dan praktik eksploitasi seksual tersebut menjadi bagian penting yang tidak boleh dilupakan dalam catatan sejarah Perang Dunia II di Asia.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (Moka), terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama ini. Terima kasih pula kepada Anda yang dengan setia menanti kehadiran Moka setiap harinya.
Dukungan dan perhatian pembaca menjadi semangat bagi Moka untuk terus hadir menyapa, menemani, dan berbagi kisah kehidupan.
Moka akan selalu berusaha hadir dalam genggaman gawai Anda, menyuguhkan cerita, informasi, dan renungan sederhana yang mudah-mudahan memberi warna dalam keseharian.
Sebab, Moka hadir bukan sekadar untuk dibaca, tetapi memang hadir untuk Anda.
Sebagai penutup, sebuah pantun untuk Anda: Pelesir ke Bali membeli selendang,
Singgah sebentar menikmati senja.
Terima kasih telah selalu datang,
Moka hadir untuk Anda, selamanya.