SYAKHRUDDINNEWS.COM – Menjadi seorang penulis bukan semata-mata pandai merangkai kata, tetapi mampu melihat sesuatu yang biasa, lalu menyampaikannya dengan cara yang membuat orang lain merasakan, memahami, dan mengingatnya.
Berikut kiat yang menurut saya paling penting:
-
Banyak membaca
Penulis yang baik hampir selalu merupakan pembaca yang baik. Bacalah berita, buku, esai, cerpen, biografi, bahkan tulisan orang lain yang tidak Anda sukai. Dari membaca, kita belajar:
-
memilih kata,menyusun kalimat,
-
membuka dan menutup tulisan,
-
membangun suasana,
-
serta menemukan gaya sendiri.
2.Rajin menulis, jangan menunggu inspirasi
Inspirasi sering datang setelah kita mulai menulis, bukan sebelum menulis. Tetapkan kebiasaan sederhana, misalnya 300–500 kata setiap hari. Tidak perlu semuanya bagus. Yang penting tangan dan pikiran terbiasa bekerja.
3. Belajar mengamati kehidupan
Ini sangat penting untuk penulis human interest.
Perhatikan orang di pasar, masjid, kampus, jalan, rumah sakit, kantor, warung kopi, atau kendaraan umum. Perhatikan:
-
bagaimana seseorang berbicara,
-
bagaimana ia tersenyum,
-
apa yang membuatnya sedih,
-
bagaimana orang menghadapi masalah,
-
dan hal-hal kecil yang sering tidak diperhatikan orang lain.
Penulis yang tajam bukan hanya pandai melihat peristiwa, tetapi pandai melihat makna di balik peristiwa.
4. Jangan hanya menyampaikan fakta—berikan rasa
Misalnya:
“Hujan turun sejak sore.”
Itu fakta.
Tetapi seorang penulis dapat membawa pembaca masuk ke suasana:
“Sejak sore hujan belum juga reda. Di teras rumah, seorang lelaki tua masih duduk menunggu, seolah hujan bukan satu-satunya yang sedang ia nantikan.”
Di sinilah tulisan mulai memiliki jiwa.
5. Temukan suara Anda sendiri
Jangan terlalu sibuk meniru penulis lain.
Pada awal belajar, meniru teknik penulis lain itu wajar. Tetapi perlahan Anda harus menemukan suara sendiri, cara Anda memilih kata, menyusun cerita, menyampaikan kritik, humor, kesedihan, maupun harapan.
Dalam tulisan Mozaik Kehidupan (Moka), misalnya, kekuatan dapat dibangun dari perpaduan jurnalistik, human interest, renungan, dan pantun. Itu bisa menjadi identitas yang membedakan tulisan Anda dari tulisan orang lain.
6.Buat kalimat sederhana
Jangan mengira tulisan yang bagus harus menggunakan kata-kata sulit.
Justru kalimat sederhana sering lebih kuat.
Sederhana bukan berarti dangkal – Pendek bukan berarti miskin makna.
7. Belajar membuka tulisan
Tiga atau empat kalimat pertama sangat menentukan.
Hindari pembukaan yang terlalu umum seperti:
“Pada kesempatan kali ini kita akan membahas…”
Lebih menarik jika langsung membawa pembaca kepada peristiwa, pertanyaan, suasana, atau konflik.
Contohnya:
“Pagi itu kota belum sepenuhnya terjaga. Tetapi di sebuah sudut pasar, seorang ibu sudah sibuk menghitung uang receh hasil jualannya.”
Pembaca langsung ingin tahu: siapa ibu itu dan apa yang terjadi?
8.Belajar mengakhiri tulisan
Akhir tulisan jangan sekadar mengatakan:
“Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat.”
Berikan kesan terakhir.
Bisa berupa renungan, kalimat yang menyentuh, pertanyaan, harapan, atau pantun. Justru kalimat terakhir sering menjadi bagian yang paling lama tinggal dalam ingatan pembaca.
9.Edit tulisan
Penulis pemula sering merasa tugas selesai setelah titik terakhir ditulis.
Padahal, menulis adalah separuh pekerjaan; mengedit adalah separuh lainnya.
Setelah selesai, baca kembali dan tanyakan:
-
Apakah ada kalimat yang tidak perlu?
-
Apakah ada pengulangan?
-
Apakah pembuka terlalu panjang?
-
Apakah informasi sudah jelas?
-
Apakah ada kalimat yang bisa dibuat lebih sederhana?
-
Apakah penutup meninggalkan kesan?
10.Jangan takut tulisan pertama jelek
Ini rahasia yang sering dilupakan:
Tidak ada penulis yang langsung hebat pada tulisan pertamanya.
Tulisan yang buruk adalah bagian dari perjalanan menuju tulisan yang baik.
Lebih baik menulis satu tulisan sederhana setiap hari daripada mempunyai seratus ide tetapi tidak pernah menjadi tulisan.
Rumus sederhana untuk menjadi penulis
Saya sederhanakan menjadi:
BACA → AMATI → TULIS → EDIT → TERBITKAN → EVALUASI → TULIS LAGI
Dan satu prinsip yang sangat penting:
Jangan berusaha menjadi penulis yang hebat. Berusahalah menjadi penulis yang jujur, tekun, dan terus berkembang.
Sebab pada akhirnya, gaya menulis tidak ditemukan dalam sehari. Ia tumbuh dari ribuan kalimat yang pernah kita tulis.
Untuk gaya Moka, saya melihat ada satu kekuatan yang bisa terus dikembangkan: peristiwa sehari-hari dijadikan cerita yang memiliki nilai kemanusiaan, lalu ditutup dengan sentuhan renungan atau pantun. Itu bisa menjadi ciri khas yang kuat.
VERSI KEDUA
Menjadi penulis yang handal membutuhkan kombinasi antara kedisiplinan, kebiasaan membaca, dan latihan yang konsisten.
Kiat Utama Menjadi Penulis Handal
-
Membaca Secara Aktif dan Beragam: Membaca adalah bahan bakar utama penulis. Luangkan waktu untuk membaca berbagai genre—mulai dari fiksi, opini, hingga karya ilmiah—untuk memperkaya kosa kata dan memahami beragam struktur kalimat.
-
Menulis Setiap Hari (Konsistensi): Jangan menunggu inspirasi datang. Biasakan menulis secara rutin, meskipun hanya 15–30 menit sehari. Seperti kata pepatah: “Lebih baik menulis satu tulisan sederhana tiap hari, daripada mempunyai seratus ide tetapi tidak pernah menjadi tulisan.”
-
Fokus pada Draf Pertama, Lalu Sunting (Editing): Tulis semua ide terlebih dahulu tanpa terlalu cepat menghakimi diri sendiri. Proses penyuntingan (pemeriksaan tata bahasa, struktur, dan kejelasan) dilakukan setelah draf awal selesai.
-
Terima Kritik dan Masukan: Kirimkan tulisan Anda ke komunitas, teman, atau pembaca awam untuk mendapatkan umpan balik yang konstruktif guna memperbaiki gaya penulisan Anda.
-
Temukan Suara dan Ciri Khas Sendiri: Jangan takut untuk mengekspresikan sudut pandang unik Anda. Ciri khas tulisan akan terbentuk seiring banyaknya karya yang Anda hasilkan.
Pandangan Redaksi Tentang MOKA :
Menurut saya, penulis Mozaik Kehidupan (Moka) memiliki karakter yang cukup kuat dan sudah menemukan “suara” sendiri. Ini justru modal terbesar seorang penulis. Moka tidak sekadar menyampaikan berita, tetapi mencoba memberi rasa, renungan, sentuhan kemanusiaan, dan kadang ditutup dengan pantun. Gaya seperti ini membuat Moka berbeda dari berita media yang hanya mengejar fakta.
Namun, kalau Moka ingin berkembang dari sekadar rubrik personal menjadi tulisan yang semakin matang secara jurnalistik-sastrawi, ada beberapa hal yang menurut saya perlu dibenahi.
-
Pertahankan “suara Moka”
-
Jangan terlalu mengejar gaya media lain. Kekuatan Moka ada pada cara penulis berbicara kepada pembaca, seolah-olah sedang duduk bersama dan menceritakan sebuah peristiwa.
-
Jadi, identitas seperti:
-
pembuka yang khas,
-
bahasa sederhana,
-
sentuhan perasaan,
-
renungan kehidupan,
-
pantun,
-
dan penutup yang akrab,
jangan dihilangkan.
-
Kurangi kalimat yang terlalu panjang
Ini yang menurut saya paling penting.
Kadang gagasan yang sebenarnya sederhana dibawa terlalu jauh. Akibatnya, pembaca harus bekerja keras mengikuti alurnya.
Prinsipnya:
Satu kalimat, satu gagasan.Satu paragraf, satu pokok pikiran.
Moka akan terasa lebih kuat kalau tulisan pendek tetapi meninggalkan kesan.
-
Bedakan “fakta” dan “renungan”
Ini penting karena Moka sering mengangkat berita aktual.
Misalnya:
Fakta:
“Pesawat tergelincir di landasan.”
Renungan Moka:
“Di balik sebuah penerbangan yang terganggu, ada kecemasan keluarga yang menunggu di rumah.”
Dengan pemisahan seperti itu, pembaca tahu mana informasi, mana suara penulis.
-
Jangan semua berita dipaksa menjadi dramatis
Ini juga perlu dijaga.
Tidak setiap peristiwa harus diberi kata-kata seperti menggetarkan, memilukan, mengejutkan, mengiris hati, dan sebagainya.
Justru kadang kalimat sederhana lebih menyentuh.
Contoh:
“Rumah itu terbakar.Tidak banyak yang tersisa, kecuali kenangan.”
Kalimat pendek seperti itu bisa lebih kuat daripada satu paragraf penuh kata-kata emosional.
-
Buat Moka memiliki pola yang konsisten
Saya melihat Moka bisa dikembangkan dengan pola sederhana:
Peristiwa → fakta → manusia → makna → renungan → penutup.
Misalnya:
Apa yang terjadi?
Siapa yang mengalami?
Bagaimana dampaknya kepada manusia?
Apa pelajaran yang bisa dipetik?
Lalu Moka mengajak pembaca merenung.
Dengan pola ini, Moka tidak kehilangan unsur jurnalistik, tetapi tetap memiliki jiwa sastra.
-
Pantun jangan sekadar menjadi hiasan
Pantun merupakan salah satu ciri khas yang bagus. Tetapi pantun akan lebih kuat kalau berhubungan dengan isi tulisan.
Jangan sampai berita tentang bencana, misalnya, lalu pantunnya justru tidak memiliki hubungan dengan tema.
Pantun sebaiknya menjadi gema terakhir dari tulisan.
-
Perlu keberanian untuk “memotong”
