SYAKHRUDDINNEWS.COM – Menjadi lanjut usia bukan berarti berhenti berkarya. Justru pada usia senja, pengalaman hidup menjadi kekayaan yang dapat dibagikan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pembinaan para lanjut usia di Sulawesi Selatan terus mendapat perhatian, baik melalui pemerintah, organisasi sosial maupun berbagai lembaga dan yayasan yang peduli terhadap kehidupan lansia.
Salah satunya adalah Pusat Pelayanan Sosial Lanjut Usia Mappakasunggu di Kota Parepare. Lembaga ini menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada 75 orang lansia.
Dari jumlah tersebut, 21 orang membutuhkan perawatan intensif dengan dukungan pekerja sosial, perawat dan tenaga pendukung lainnya.
Di Kota Makassar, hadir pula Sekolah Lansia SMART, singkatan dari Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat. Konsepnya sederhana, tetapi sangat berarti: lansia tidak hanya dirawat, melainkan juga diberdayakan agar tetap sehat, percaya diri dan memiliki ruang untuk berinteraksi.
Sementara di Kabupaten Sidenreng Rappang, muncul program “Accarita-Ki”. Para lansia berkumpul, berbagi cerita tentang perjalanan hidup, saling mendengarkan dan kemudian tetap terhubung melalui WhatsApp.
Dari sini kita belajar bahwa terkadang yang paling dibutuhkan seorang lansia bukan sesuatu yang mahal, melainkan teman berbicara dan seseorang yang bersedia mendengarkan.
Perhatian terhadap lansia juga datang dari berbagai pihak. Kementerian Sosial melalui Sentra Wirajaya Makassar secara rutin memberikan pemeriksaan kesehatan gratis.
Polda Sulawesi Selatan pun aktif melakukan bakti sosial di Panti Werdha Theodora, antara lain melalui pemeriksaan gula darah, kolesterol dan bentuk kepedulian lainnya.
Di tengah berbagai kegiatan tersebut, Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Sulawesi Selatan terus mengambil bagian.
Organisasi yang dinakhodai Dr. Syafri Arief, bersama jajaran pengurus seperti Nirmawati Gani, Dirham Kambe dan Hasnah Sambaloge, aktif menggerakkan kegiatan olahraga bersama Komunitas Senam Nusantara (KSN) yang dibina Sigit dan Irma.
Kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana: berkumpul, berolahraga, berbincang dan sesekali saling mengunjungi.
Namun, bagi para lansia, aktivitas semacam itu memiliki makna yang jauh lebih besar. Ada kebersamaan, ada semangat hidup dan ada keyakinan bahwa usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk tetap sehat tidak boleh menyerah.
Seiring meningkatnya angka harapan hidup, kebutuhan pembinaan lansia pun semakin besar. Karena itu, LLI Sulsel diharapkan terus mengembangkan program berbasis masyarakat.
Ketua I LLI Sulsel, Nirmawati Gani, yang bermukim di kawasan BTN Antara Makassar, misalnya, aktif menggerakkan kegiatan “Jumat Berkah”.
Sementara Ketua II, Dirham Kambe, yang berada di kawasan wisata Tanjung Bayang, mengembangkan terapi bagi lansia sekaligus menjajaki gagasan pembentukan Sekolah Lansia Pesisir Pantai.
Semua itu dilakukan dalam suasana penuh keterbatasan. Sebagian besar kegiatan LLI Sulsel masih mengandalkan dukungan dan pendanaan dari para anggotanya.
Tetapi dari keterbatasan itulah terlihat sebuah ketulusan: bahwa kepedulian kepada lansia tidak selalu harus menunggu anggaran besar.
MoKa mencatat, pembinaan lansia sesungguhnya bukan hanya persoalan kesehatan dan usia. Ia adalah persoalan penghargaan terhadap manusia yang telah melewati panjangnya perjalanan kehidupan.
Mereka pernah bekerja, membesarkan anak, mengabdi kepada masyarakat dan membangun negeri. Kini saatnya masyarakat memberikan ruang agar mereka tetap sehat, mandiri, aktif, produktif dan bermartabat.
Sebab menjadi tua adalah kepastian. Tetapi menjadi tua dalam kesepian bukanlah keharusan.
Semoga langkah kecil LLI Sulsel bersama KSN dan berbagai komunitas lainnya menjadi bagian dari gerakan besar menuju pembinaan lansia berbasis masyarakat, sebuah gerakan yang sederhana, tetapi lahir dari kepedulian dan kasih sayang.
Pantun MoKa:
Pergi ke pantai membawa bekal,
Singgah sebentar menikmati senja.
Walau usia terus bertambah,
Semangat hidup tetap menyala.