Di ufuk timur, mentari malu-malu,
Menyapa Raja Ampat yang dulu bersatu.
Kini langitnya menyimpan keluh,
Lautnya menangis dalam sunyi yang penuh.
Burung cenderawasih bernyanyi lirih,
Tak lagi menari dalam damai yang bersih.
Anak-anak menyelam dalam beningnya air,
Menggapai mimpi di bawah karang yang menua getir.
Tapi suara tawa kini terusik,
Oleh deru mesin yang datang menyelinap licik.
Anak-anak kampung menatap asing,
Tanah mereka dijual, harapan pun kering.
Demi uang, demi tambang rakus,
Mereka babat hutan, hancurkan arus.
Raja Ampat kini menangis luka,
Ditikam keserakahan yang buta.
Wahai dunia, dengarlah rintihnya,
Jangan biarkan surga ini sirna.
Ayo hentikan tambang yang mencabik,
Jangan biarkan Papua terusik.
Mari kita jaga tanah yang suci,
Tempat adat, alam, dan cinta bersatu hati.
Selamatkan Papua, peluk dia erat,
Sebelum segalanya tinggal sesal dan penyesalan yang pekat.
Makassar, 9 Juni 2025 (Save Papua)
by.Syakhruddin Tagana
