SYAKHRUDDINNEWS.COM – Pembaca setia Mozaik Kehidupan, Ahad pagi kembali hadir dengan udara yang lebih teduh. Jalanan belum sepenuhnya riuh. Sebagian orang masih menikmati aroma kopi yang mengepul dari dapur rumah, sementara anak-anak muda larut bersama telepon genggam di sudut-sudut ruang keluarga. Namun di balik suasana yang tampak tenang itu, ada banyak orang tua yang diam-diam sedang menunggu sesuatu yang sangat sederhana: sebuah sapaan hangat dari anak-anaknya.
Mereka tidak meminta rumah mewah. Tidak pula menuntut kiriman uang setiap waktu. Pada usia yang mulai senja, banyak orang tua sesungguhnya hanya ingin merasa masih dianggap ada. Mereka rindu mendengar suara anak-anaknya, rindu ditanya kabarnya, rindu diajak berbincang walau hanya beberapa menit. Tetapi kehidupan modern perlahan mengubah hubungan keluarga menjadi semakin sibuk, dingin, dan tergesa-gesa.
Kini rumah-rumah memang semakin besar, tetapi percakapan justru semakin kecil. Di meja makan, setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri. Anak berbicara dengan layar, sementara orang tua bercakap dengan kenangan. Kadang dalam satu rumah semua tinggal bersama, tetapi hati berjalan sendiri-sendiri.
Yang terdengar hanya suara televisi dan notifikasi telepon, sedangkan obrolan hangat pelan-pelan menghilang seperti senja yang tenggelam di ufuk sore.Padahal dahulu, orang tualah tempat pulang paling nyaman. Dari merekalah kita belajar berjalan, belajar makan, belajar menghadapi hidup. Mereka rela menahan lapar agar anak-anaknya bisa sekolah.
Mereka menyembunyikan lelah di balik senyum agar keluarga tetap merasa kuat. Namun ketika usia mulai renta dan langkah tak lagi secepat dulu, sebagian dari mereka justru harus menghadapi hari-hari yang sunyi. Ada ayah yang duduk lama di teras rumah hanya untuk melihat siapa yang datang. Ada ibu yang berkali-kali membuka telepon genggam berharap muncul pesan singkat dari anaknya. Bahkan ada yang sengaja memperlambat langkah ketika menyapu halaman, sekadar agar masih ada aktivitas yang menemani kesepiannya.
Semua itu sering luput dari perhatian kita yang terlalu sibuk mengejar dunia. Sesungguhnya, usia lanjut bukan sekadar tentang tubuh yang melemah. Ia juga tentang hati yang semakin peka. Orang tua mudah merasa sendiri walau berada di tengah keramaian. Sebab yang mereka perlukan bukan hanya keberadaan fisik keluarga, melainkan perhatian yang tulus. Kadang satu kalimat sederhana seperti, “Apa kabar, Nak?” atau “Sudah makan, Ma?” mampu menjadi cahaya kecil yang menghangatkan hari mereka.
Ahad seperti hari ini seharusnya menjadi kesempatan terbaik untuk kembali mendekatkan diri kepada keluarga. Tidak harus membawa hadiah mahal. Tidak perlu menunggu hari raya. Duduklah sebentar bersama orang tua. Dengarkan cerita mereka walau mungkin telah berulang kali kita dengar. Sebab suatu hari nanti, ketika kursi itu kosong dan rumah benar-benar sunyi, kita akan sadar bahwa suara merekalah yang paling kita rindukan.
Kehidupan modern boleh berkembang dengan teknologi yang semakin canggih. Namun jangan sampai kecanggihan itu membuat manusia kehilangan sentuhan hati. Sebab pada akhirnya, keluarga tidak dibangun oleh sinyal internet, melainkan oleh perhatian, percakapan, dan kasih sayang yang dipelihara setiap hari.
Mungkin hari ini masih ada kesempatan untuk menelepon orang tua, menyapa mereka, atau sekadar menanyakan kabar. Jangan menunggu sibuk menjadi reda, sebab kesibukan manusia tidak pernah benar-benar selesai. Yang sering habis justru waktu bersama mereka yang kita cintai. Semoga akhir pekan kita tidak hanya dipenuhi istirahat, tetapi juga kehangatan keluarga dan kepedulian kepada mereka yang telah lebih dahulu menua demi kehidupan kita hari ini.
Pantun Pembuka
Pagi Ahad burung bernyanyi,
Embun jatuh di pucuk cemara.
Banyak harta dicari di bumi,
Sapaan hangat lebih berharga.
Retaknya hubungan internal elite Iran mulai menyeruak ke permukaan di tengah mandeknya negosiasi dengan Amerika Serikat. Presiden Iran dikabarkan murka terhadap Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang dianggap gagal menjaga stabilitas diplomasi dan kepentingan strategis negara tersebut.
Bahkan beredar isu bahwa Araghchi terancam dicopot di tengah meningkatnya tekanan politik internal serta persaingan pengaruh antara kubu pemerintahan dan Garda Revolusi Iran atau IRGC. Situasi ini memperlihatkan bahwa di balik wajah kekuasaan yang selama ini tampak solid, sesungguhnya terdapat tarik-menarik kepentingan yang semakin sulit disembunyikan. Di tengah tekanan ekonomi, gelombang protes masyarakat, dan sorotan dunia internasional, Iran kini menghadapi ujian bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam tubuh kekuasaannya sendiri.
Sementara itu di dalam negeri, pernyataan Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais, terkait kedekatan Presiden Prabowo Subianto dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memicu polemik berkepanjangan di ruang publik. Partai Ummat melalui Ketua DPP Aznur Syamsu menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan pendapat pribadi Amien Rais dan tidak mewakili sikap resmi partai. Bahkan, ucapan itu dinilai sudah “offside” karena keluar dari substansi kritik yang sehat dan berpotensi menimbulkan kegaduhan politik.
Di tengah derasnya reaksi publik, sejumlah relawan pendukung Presiden Prabowo turut mengecam pernyataan tersebut dan membuka kemungkinan langkah hukum. Fenomena ini kembali memperlihatkan bagaimana ruang digital sering kali memperbesar perdebatan politik hingga melampaui batas nalar publik yang sehat.
Polemik video bertajuk “Aku Bukan Teddy” pun terus bergulir dan menyeret berbagai tokoh nasional ke dalam pusaran perdebatan. Pengamat politik Muhammad Qodari menilai Amien Rais sejatinya menjadi korban dari derasnya arus spekulasi media sosial yang bergerak liar tanpa kendali. Menurutnya, pernyataan Amien muncul dalam konteks kekhawatiran politik yang kemudian dipelintir menjadi kontroversi berkepanjangan.
Qodari mengingatkan agar demokrasi tidak dipenuhi narasi saling serang yang justru memperkeruh suasana kebangsaan. Sebab di era digital hari ini, potongan video dan opini yang kehilangan konteks sering kali lebih cepat dipercaya dibanding penjelasan yang utuh dan jernih.
Dari dunia kampus dan alumni, kabar menggembirakan datang dari Universitas Hasanuddin. Andi Amran Sulaiman kembali dipercaya memimpin Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) setelah terpilih dalam forum musyawarah alumni yang berlangsung penuh suasana kekeluargaan.
Kepercayaan tersebut dianggap sebagai bentuk harapan besar alumni terhadap kapasitas kepemimpinannya dalam memperkuat jejaring alumni serta mendorong kontribusi nyata bagi almamater dan masyarakat. Sosok Amran yang dikenal energik dan berpengalaman di tingkat nasional dinilai mampu menjadi perekat lintas generasi alumni untuk terus mengharumkan nama Universitas Hasanuddin di tingkat nasional maupun internasional. Dalam dunia yang semakin kompetitif, kekuatan jaringan alumni memang sering menjadi energi besar bagi kemajuan sebuah perguruan tinggi.
Di bidang sosial, Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa operator desa memiliki peranan sangat penting dalam pembaruan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Menurutnya, data dari tingkat desa menjadi fondasi utama agar bantuan sosial dan program pemberdayaan benar-benar tepat sasaran.
Karena itu, setiap desa didorong memiliki operator yang mampu melakukan pemutakhiran data secara rutin dan akurat. Di tengah dinamika ekonomi masyarakat yang terus berubah, validitas data menjadi penentu apakah keadilan sosial benar-benar bisa dirasakan masyarakat kecil atau justru tersesat di tengah birokrasi yang rumit.
Dari Kota Makassar, suasana haru menyelimuti pelepasan rombongan jemaah haji Kloter 17 yang tergabung dalam KBIHU Darunnadwah Mandiri Utama. Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kecamatan Tamalate yang diwakili Sekretaris IPHI, Drs. H. Syakhruddin DN, M.Si, secara resmi melepas keberangkatan para calon tamu Allah di Lantai II Masjid Besar Al-Abrar Makassar, Sabtu ba’da Zuhur, 2 Mei 2026.
Acara berlangsung khidmat di bawah bimbingan Drs. H. Guntur Mas’ud, MM, dengan iringan doa dan harapan agar seluruh jemaah diberikan kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam menunaikan ibadah haji. sebanyak 39 anggota kafilah Kloter 17 Kota Makassar dijadwalkan memasuki Asrama Haji Sudiang sebelum bertolak menuju Madinah keesokan harinya. Pelepasan itu bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan perjalanan batin menuju penyucian diri. Di wajah para jemaah tampak harapan, haru, dan doa-doa yang dipanjatkan keluarga yang ditinggalkan.
Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) sendiri merupakan organisasi yang menghimpun para jamaah haji Indonesia setelah menunaikan ibadah di Tanah Suci. Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi, dakwah, pengabdian sosial, dan pembinaan umat agar nilai-nilai kemabruran tidak berhenti setelah pulang dari Makkah. Karena itu, aktivitas IPHI tidak hanya sebatas pengajian dan pertemuan rutin, tetapi juga bergerak di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, hingga aksi-aksi kemanusiaan di tengah masyarakat.
Sampai di sini dahulu jumpa kita pagi ini. Semoga Ahad membawa keteduhan hati, mempererat kasih sayang keluarga, dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama.
Pantun Penutup
Mentari pagi naik perlahan,
Cahaya jatuh di ranting tua.
Selagi masih ada kesempatan,
Sapalah orang tua sebelum terlambat waktunya.
Salam Presisi
Syakhruddin Tagana


