SYAKHRUDDINNEWS.COM – Fajar hari ke-29 Ramadan 1447 Hijriah merekah pelan di pelataran Masjid Besar Al-Abrar, Jalan St. Alauddin No. 82 Makassar.
Di mimbar subuh itu, Ustaz Ashar B., S.Ag berdiri dengan nada tenang namun mengandung getar evaluasi, seolah mengajak jamaah menengok kembali jejak ibadah yang hampir sampai di garis akhir.
Ramadan, menurutnya, bukan sekadar hitungan hari yang berkurang, melainkan cermin yang memantulkan kualitas diri. Di penghujungnya, ia mengingatkan dengan nada yang mengendap: berdosalah seseorang bila masih abai terhadap orang tua.
Sebab, di tengah kesibukan mengejar pahala, ada kewajiban mendasar yang kerap terlewat—berbakti dan memuliakan mereka yang menjadi pintu keberkahan hidup.
Namun Ramadan juga menghadirkan wajah indah kebersamaan. Dari tangan-tangan sederhana yang membawa pisang goreng, kue lapis, hingga aneka hidangan berbuka ke masjid, terjalin rasa yang tak kasatmata, perekat ukhuwah. Di sanalah makna berbagi menemukan bentuknya: kecil di mata, besar dalam nilai.
Di sisi lain, ia menyinggung realitas yang kontras. Ada mereka yang melewati Ramadan tanpa benar-benar mengenal Allah, terlalu sibuk dengan urusan duniawi seperti mengecat rumah atau mengganti gorden, namun lalai menghadiri tarawih, apalagi menjemput subuh berjamaah. Sebuah ironi di bulan yang seharusnya mendekatkan, justru menjauhkan.
Lebih jauh, Ustaz Ashar menyoroti fenomena sosial yang mengusik: anak-anak yang terjerumus dalam penyalahgunaan zat, meski berbagai upaya penindakan telah dilakukan.
Ia menekankan pentingnya peran orang tua sebagai benteng pertama, mendidik sebelum anak-anak melangkah ke pesantren atau lingkungan yang lebih luas. Pendidikan keluarga, baginya, adalah fondasi yang tak tergantikan.
Tak luput pula, ia mengingatkan tentang paradoks kehidupan: banyak yang diberi kelapangan rezeki, namun enggan melangkah ke masjid. Sementara mereka yang setia hadir hingga penghujung Ramadan adalah orang-orang yang diam-diam mempersembahkan ikhtiar terbaik demi meraih ridha Ilahi.
Menutup ceramahnya, Ustaz Ashar menyampaikan refleksi yang sederhana namun menggugah. Terkadang, setelah menunaikan salat lima waktu, muncul rasa malas untuk berjamaah dan itu bisa jadi bersumber dari hal yang tak disangka, bahkan dari apa yang kita konsumsi sehari-hari. Sebuah isyarat bahwa spiritualitas juga dipengaruhi oleh pilihan hidup yang tampak sepele.
Di ujung waktu yang tersisa, ia mengajak jamaah meneguhkan tekad: mengakhiri Ramadan dengan kesungguhan, seraya menengadahkan doa agar masih diberi kesempatan bertemu kembali dengan Ramadan di tahun mendatang. Sebab, tidak semua yang memulai akan sampai pada kesempatan berikutnya.
Subuh itu pun beranjak terang, meninggalkan pesan yang menggema pelan di relung hati—bahwa Ramadan bukan hanya tentang yang telah dilalui, tetapi tentang apa yang masih bisa diperbaiki sebelum benar-benar pergi (sdn)