SYAKHRUDDINNEWS.COM – Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebagai sekretaris Masjid Besar Al-Abrar, Penulis diamanatkan untuk menyampaikan catatan evaluasi pelaksanaan kegiatan amaliah Ramadan 1447H.
Ramadan hampir menutup tirainya. Malam ke-30 hadir dengan suasana yang tak biasa, hening, syahdu, sekaligus mengandung getar perpisahan. Di Masjid Besar Al-Abrar, cahaya lampu menyinari saf-saf yang pernah dipenuhi langkah-langkah penuh harap. Di sinilah, selama sebulan, kita belajar kembali menjadi hamba.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan yang penuh rahmat ini. Bulan yang bukan sekadar pergantian waktu, tetapi perjalanan batin—dari lalai menuju ingat, dari biasa menuju istimewa.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan yang mengajarkan bagaimana menghidupkan malam dan memaknai setiap detik kehidupan.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Jika Ramadan ini kita ibaratkan sebagai sebuah mozaik, maka setiap ibadah yang kita lakukan adalah kepingan-kepingan kecil yang membentuk gambar besar kehidupan kita.
Di antara kepingan itu, ada shalat tarawih dan witir yang setiap malam kita dirikan. Dari malam pertama hingga malam terakhir, kita menyaksikan saf-saf yang semakin rapat, langkah kaki yang semakin ringan menuju masjid, dan hati yang perlahan menjadi lebih lembut.
Masjid ini hidup, bukan karena bangunannya, tetapi karena jiwa-jiwa yang mengisinya. Meski demikian, kita menyadari, masih ada celah yang perlu disempurnakan, ketepatan waktu, kerapian saf, hingga kekhusyukan yang terus harus kita latih.
Lalu ada kepingan buka puasa bersama, yang menghadirkan kehangatan dalam kebersamaan. Di balik setiap takjil yang tersaji, ada tangan-tangan ikhlas para donatur, ada tenaga para relawan, dan ada cinta yang tak selalu terucap.
Ramadan mengajarkan bahwa memberi tidak selalu tentang jumlah, tetapi tentang ketulusan. Namun ke depan, kebersamaan ini tetap perlu ditata lebih baik agar tertib, bersih, dan semakin nyaman bagi semua.
Di sudut lain, kita menemukan kepingan paling sunyi, shalat lail di sepertiga malam. Saat sebagian dunia terlelap, ada yang terjaga, menundukkan diri, membisikkan doa dalam gelap. Di situlah, hubungan antara hamba dan Tuhannya terasa begitu dekat.
Inilah inti Ramadan yang sesungguhnya, ketika kita tak lagi sekadar beribadah karena kewajiban, tetapi karena kerinduan. Dan semoga, kerinduan ini tidak padam saat Ramadan berlalu.
Kemudian, ada kepingan amanah, zakat fitrah melalui UPZ Al-Abrar. Dari para muzakki kepada yang berhak, dari kepercayaan menuju keberkahan. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Namun amanah ini bukan sesuatu yang selesai, melainkan harus terus dijaga dengan transparansi, ketelitian, dan tanggung jawab yang lebih baik ke depan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Kini Ramadan hampir pergi. Dan pertanyaan yang tersisa bukanlah seberapa banyak kita telah berbuat, tetapi seberapa dalam Ramadan telah mengubah kita.
Apakah setelah ini, langkah kita masih akan ringan menuju masjid? Apakah lisan kita masih akan terjaga? Apakah hati kita masih akan lembut terhadap sesama?
Ramadan adalah madrasah kehidupan. Ia datang bukan hanya untuk disambut, tetapi untuk meninggalkan jejak dalam diri kita. Maka jika Ramadan ini benar-benar bermakna, seharusnya kita tidak kembali menjadi seperti sebelumnya.
Mari kita jadikan malam ini bukan sekadar penutup, tetapi titik awal. Awal dari kehidupan yang lebih dekat kepada Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih jujur kepada diri sendiri.
Dan di penghujung mozaik ini, marilah kita menengadahkan tangan, menundukkan hati, bermunajat kepada Allah SWT:
Doa Akhir Ramadan
Allahumma ya Allah, ya Rahman, ya Rahim… Di penghujung Ramadan ini, kami datang dengan hati yang penuh harap dan rasa syukur…
Ya Allah, terimalah setiap rakaat yang kami dirikan, setiap lapar yang kami tahan, setiap zakat yang kami tunaikan, dan setiap langkah yang kami ayunkan menuju rumah-Mu…
Ya Allah, jika Ramadan ini belum menjadikan kami lebih baik, maka jangan Engkau jadikan ini sebagai Ramadan terakhir kami… Panjangkan umur kami dalam kebaikan, agar kami dapat bertemu kembali dengan bulan-Mu yang mulia…
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat… Yang hidup maupun yang telah mendahului kami…
Ya Allah, kuatkan hati kami untuk tetap istiqamah… Jangan Engkau biarkan kami kembali kepada kelalaian setelah Engkau bangunkan kami di bulan ini…
Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa… Yang mencintai masjid, mencintai Al-Qur’an, dan mencintai sesama manusia…
Ya Allah, berkahilah Masjid Besar Al-Abrar ini… Jadikan ia cahaya bagi umat, tempat berlabuhnya hati-hati yang rindu kepada-Mu…
Rabbana taqabbal minna, innaka antas-sami’ul ‘alim… Wa tub ‘alaina, innaka antat-tawwabur rahim…