SYAKHRUDDINNEWS.COM – Hujan turun deras sejak pagi, seolah langit ikut larut dalam haru yang tak terucapkan. Namun di halaman Masjid Al-Muraqabah, kawasan Bontoduri, langkah-langkah tetap mengalir.
Jamaah berdatangan dengan pakaian terbaik, menembus rintik yang tak menyurutkan niat. Jumat, 20 Maret 2026 itu, Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah berlangsung khidmat, dalam suasana yang justru mempertegas makna kembali. Kembali kepada fitrah, kembali kepada kesederhanaan, kembali kepada Allah SWT.
Sebelum takbir menggema, suara pemandu acara, Syainuddin, mengawali pagi dengan laporan yang menyejukkan hati.
Panitia amaliah Ramadan telah menunaikan amanah umat: mengumpulkan dan menyalurkan zakat fitrah, infak, dan sedekah. Sebanyak 10.200 liter beras dan uang tunai Rp16.517.000, ditambah zakat harta, infak, dan sedekah senilai Rp2.500.000.
Telah tersalurkan kepada 1.500 keluarga miskin, tujuh panti asuhan, dan satu komunitas muallaf. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan denyut kepedulian yang hidup di tengah masyarakat bahwa Ramadan tidak hanya mengajarkan menahan diri, tetapi juga memberi tanpa henti.
Di bawah pengamanan Brigade Masjid, sholat berlangsung tertib. Yahya sebagai khotib, dengan suara tenang namun berwibawa, mengurai makna Idul Fitri yang kerap luput dari renungan.
Gema takbir yang menggema dari penjuru Nusantara hingga ke lembah dan gunung, katanya, adalah tanda kebesaran Allah yang melampaui sekat perbedaan.
Maka, perbedaan hari pelaksanaan bukanlah alasan untuk terpecah melainkan ruang untuk saling memahami.
“Ied,” tuturnya, bukan sekadar perayaan, melainkan kepulangan. Kepulangan setelah sebulan ditempa dalam “pesantren Ramadan”, sebuah proses pemurnian diri untuk kembali menjadi hamba yang sejati.
Apa yang telah diraih, lanjutnya, bukan untuk ditinggalkan bersama berlalunya bulan suci, tetapi dijaga, dirawat, dan dihidupkan dalam keseharian. Sebab tujuan akhirnya adalah satu: meraih derajat la’allakum tattaqun, menjadi insan yang bertakwa.
Seruan itu mengalir lembut namun dalam, membuka pintu maaf, tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk Allah. Dan di atas segalanya, jangan lupa kembali kepada orang tua, memohon ridha mereka, karena di sanalah pintu ridha Allah terbuka.
Menariknya, hujan yang sejak tadi mengguyur perlahan reda, tepat saat khotib naik mimbar. Seolah alam pun memberi ruang bagi setiap kalimat untuk meresap.
Dan ketika khutbah usai, langit kembali teduh. Jamaah pun tak segera beranjak. Mereka bertahan sejenak, mengabadikan momen dalam foto bersama, sebuah penanda bahwa kebersamaan pagi itu adalah kenangan yang tak mudah dilupakan.
Di Bontoduri, Idul Fitri tahun ini bukan hanya tentang kemenangan. Ia adalah kisah tentang keteguhan di bawah hujan, tentang kepedulian yang terukur dalam angka namun terasa dalam jiwa, dan tentang pulang, pulang yang sesungguhnya (sdn)
1 thought on “Di Bawah Hujan, Kami Kembali: Mozaik Idul Fitri dari Bontoduri”
Selamat tinggal Ramadhan 1447 Hijriah 2026 Masehi, semoga segala kebaikan dan ketaqwaan untuk kita semua.
‘Aamiin ‘aamiin ‘aamiin ya rabbal ‘aalamiin 🤲
Selamat tinggal Ramadhan 1447 Hijriah 2026 Masehi, semoga segala kebaikan dan ketaqwaan untuk kita semua.
‘Aamiin ‘aamiin ‘aamiin ya rabbal ‘aalamiin 🤲